Bedanya organisme dengan benda.

Pertanyaan: Menurut eyang organisme merupakan hasil interaksi antara clear body (benda) dengan STW, sedangkan menurut teori Quantum Eteric atom bukan sekedar paket quantum melainkan paket quantum eteric. Cucu jadi bingung: bukankah benda tersusun dari atom, sedangkan atom telah memiliki unsur eteric, jadi benda juga telah memiliki unsur eteric, lalu apa bedanya benda dan sel (oraginisme)  yang keduanya memiliki unsur eteric disamping unsur quantum? Bukankah STW itu membangkitkan photon yang juga merupakan gelombang eterik?
Jawaban: Terima kasih, cucu ternyata sangat cermat dalam mempelajari gagasan eyang. Semoga cucu memahami Arus Searah  (DC) yang membangkitkan medan magnet tetap hingga tak memancarkan gelombang elektromagnet (EM) dan Arus Bolak Balik (AC) yang membangkitkan medan magnet bolak Balik (Periodik) hingga membangkitkan gelombang elektro magnet. DC yang berdenyut (tak rata) juga membangkitkan gelombang elektro magnetik disamping medan magnet tetap, sedangkan arus searah rata hanya membangkitkan medan magnet tetap. AC berfrekuensi rendah membangkitkan  gelombang elektro magnet berfrenkwensi  rendah memiliki  panjang gelombang (lambda) panjang, semakin tinggi frekwensinya semakin tinggi energinya.
Quantum eteric itu memancarkan pulsa medan magnet searah hingga membangkitkan medan magnet searah dan muatan listrik statis yang membangkitkan medan listrik searah.  walau tidak benar-=benar rata. Organisme dan sel memancarkan gelombang elektro manget dengan frekwensi tertentu karena sanggup merespon/ bertenterferensi dengan  STW dan menyerap photon untuk kemudian dimanfaatkan untuk melakukan pembentukan sel baru. Sel dan organisme memancarkan gelombang elektro magnet frekwensi rendah dan menengah (Bedakan dengan unsur radio aktif yang juga sanggup memancarkan sinat alpha, beta dan gamma) . Diantara EM yang dipancarkan dan diserap  oleh sel dan organisme adalah  gelombang panas/ infra merah,  aura kuning kemerah-merahan,  medan magnetsel dan medan listrik sel karena dibangun oleh paket quantum eteric yang bereinterferensi/b3erinteraksi  dengan STW.. Organisme jauh lebih kompleks dibanding sekedar quantum eteric, karena organisme memiliki berbagai komponen: quantum, eteric, quantum eteric, anti matter, dan STW. Itulah sebabnya organisme sanggup melakukan interaksi vitalistik, interaksi mekanistik, maupun  interaksi semi vitalistik dengan soul. Silakan baca : “Mengapa benda tak mungkin memiliki soul namun masih mungkin memiliki spirit”.
Agar proses yang terjadi dalam sel/organisme dapat berjalan normal, sanggup berkembang dan memanfaatkan berbagai energi yang tersedia disekitarnya, maka managementnya sangat rumit dan membutuhkan kontrol oleh soul lewat berbagai interaksi. Kontrol ini ( control oleh soul) tak dibutuhkan oleh quantum eteric yang “jauh” lebih sederhana hingga cukup dengan kesadaran (consciouness) system disamping partial consciouness masing-masing, sehingga quantum eteric tak memiliki nafsu alami yang dinamakan “hidup” atau self growing, self developing dan self programming.
2 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jan 14, ’11
Organisme sangat kompleks sehingga untuk dapat bertahan terhadap waktu dan lingkungan dibutuhkan kontrol dari soul sehingga terbentuklah living organisme. Interaksi organisme dapat vitalistik karena organisme memiliki unsur eter yang memancarkan gelombang elektro magnet dengan frequensi sedang sehingga dapat memancarkan aura berwarna kuning kemerah-merahan. Jika interaksi bersifat semi vitalistik maka pengontrolan dilakukan oleh spirit. Spirit memiliki tubuh astral (bandingkan dengan organisme yang memiliki tubuh clear body dan STW). Tubuh astral tak memiliki massa sehingga dapat membangkitkan gelombang elektro magnet dengan frekwensi sangat tinggi yang membangkitkan aura indigo/ungu dan ultra violet. Aura dapat digunakan untuk mendeteksi organisme dikontrol oleh soul lewat STW atau dikontrol oleh spirit lewat astral body. Jadi saat ini sebenarnya manusia telah dapat mendetekasi adanya spirit maupun soul namun bukan secara langsung melainkan melalui living organisme. Suatu saat manusia akan sanggup mendeteksi spirit bebas karena spirit memiliki tubuh astral yang memancarkan gelombang elektro magnet berfrekwensi tinggi. Gelombang yang dipancarkan oleh spirit bebas tak sekuat yang dipancarkan spirit yang telah memanfaatkan energi fisika. Untuk dapat terdeteksi aura spirit bebas harus di tune (di lacak frekwensinya), dikuatkan baru mungkin terdeteksi. Yang masih menjadi pertanyaan: signal astral body memodulasi gelombang pembawanya (gelombang elektro magnet berfrekwensi sangat tinggi) dengan sisitem AM,FM,PhaM, atau campuran ketiga sistem. Signal astral body berupa analog yang kontinue dan memiliki nilai batas, digital (kombinasi nol dan satu) atau kombinasi antara Nol dan Bukan Nol sesuai dengan FSM. Dengan mempelajari dan menganalisa aura rahasia/pertanyaan itu mungkin sekali akan terjawab.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jan 15, ’11, edited on Jan 16, ’11
Tempat dan benda keramat memiliki spirit namun karena spirit tak sanggup memanfaatkan energi fisika yang dimiliki benda , maka energinya sangat lemah. Energi ini dapat menjadi kuat jika mendapat dukungan dari spirit yang telah menguasai organisme, energi ini disebut energi relatif, yang diperoleh dari mereka yang mensakralkannya. Contohnya: Uang memiliki spirit (buktinya dapat merasuki manusia sebagai halnya setan dan eblis). Energi fisika dan internal inergi uang tak sanggup untuk menanak nasi, tetapi karena uang disakralkan oleh manusia (diakui sebagai alat bayar) maka energi relatif uang sangat tinggi sehingga selembar uang dapat ditukarkan dengan elpigi tiga kilo atau sebelas kilo. Keris pusaka juga dapat dihuni spirit karena empu saksi yang membuatnya sanggup “menarik” spirit agar memanfaatkan keris sebagai “rumahnya”. Keris yang telah dimanfaatkan oleh spirit hanya akan tetap memiliki energi relatif besar jika disakralkan dan digunakan oleh living organisme (manusia) yang memberikan energi fisik, energi gaib dan energi metafisika pada keris tersebut.
Kalau seorang empu dengan tehnologi kunonya sanggup membuat benda (misalnya keris) hingga sanggup menarik spirit untuk memanfaatkannya, maka tak mustahil dengan penguasaan tehnologi tinggi dan rekayasa genetika, maka manusia yang semakin cerdas akan sanggup membuat telor atau zigote tiruan yang sanggup menarik spirit untuk memanfaatkannya.Namun semua hanya mungkin terjadi jika Tuhan YME mengizinkan. Hambahatan dan kesulitan pertama justru datang dari manusia sendiri yang khawatir akibatnya, yaitu “melawan” kehendak Nya. Itulah sebabnya dibutuhkan upaya menyadarkan manusia, mana yang boleh dilakukan oleh manusia dan yang mana yang tak boleh dilakukan oleh manusia. Lepas dari akibat yang akan ditimbulkan oleh “perbuatan seorang manusia atau sekelompok manusia” yang harus dipikul oleh manusia itu dan lingkungannya seharusnya kita meyakini: Semua yang dapat terjadi pasti telah mendapat izin dari Nya. Tanpa izinnya tak mungkin sesuatu terjadi.
Adalah sesuatu yang tak konsisten jika kita melarang suatu upaya yang beresiko tinggi tetapi kemudian ternyata kita ikut menikmati hasil upaya itu.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s