Crop Circle berukuran besar dan unik hanya mungkin dibuat dengan peralatan hasil tehnologi modern.

Pertanyaan: Cucu ingin menguji ilmu kotak katik eyang Ibnu. Coba jelaskan bagaimana fenomena “sederhana” di Brebah Sleman yang dikenal sebagai Crop Circle.
Jawaban: Biasanya kakek  menguji cucunya, kali ini biarlah cucu menguji kakeknya.
1. Kalau ukurannya kecil dan polanya sederhana. mungkin saja CC itu hasil ulah manusia iseng, dengan atau tanpa tujuan.
2. Fenomena alam biasanya sederhana (misalnya pelangi), acak atau amburadul misalnya akibat tornado atau puting beliung, gempa………. Jarang yang dapat menghasilkan pola “rapi” dan berulang kali mendekati sama atau sejenis dan terjadi diberbagai belahan bumi. Namun dapat saja menjadi seperti gambar tertentu akibat ilusi manusia. bukan nyata.
3. Fenomena gaib, harus dikesampingkan sebab apa saja dapat terjadi jika Tuhan YME menghendaki. Namun Dia tidak akan melakukan hal-hal  yang sepele kecuali jika merupakan tantangan untuk dipecahkan oleh manusia agar manusia semakin cerdas, bukan semakin bodoh. Jadi berfikirlah sebelum mempercayai!
4. Jika CC itu berukuran luas hingga harus diamati dari jarak yang cukup jauh, apalagi polanya unik, mendekati hasil seni atau geometri yang dikenali dalam peradaban manusia modern, maka membutuhkan perencanaan dan melaksanaan dengan peralatan hasil tehnologi yang dikuasai oleh manusia atau makluk cerdas lainnya.
5. Fenomena itu telah berkali-kali terjadi dan dapat dipelajari mana yang dapat dikerjakan oleh orang iseng, mana yang disebabkan oleh alam, mana yang harus menggunakan tehnologi canggih.
Yang jelas fenomena itu janganlah dibiarkan berlalu begitu saja, atau dianggap sederhana dan diremehkan. Akan lebih bijaksana kita kaitkan antara lokasi kejadian, ukuran dan motif/polanya, kapan hal itu terjadi, berapa lama hal itu tercipta, kesaksian penduduk disekitarnya, peralatan/tehnologi yang dikuasai manusia saat kejadian itu terjadi, but not leat:……………. apa tujuan hal itu dilakukan atau pesan apa yang disampaikan oleh fenomena tersebut.
2 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jan 25, ’11, edited on Jan 27, ’11
Eyang ini anak juragan batik, tahu bagaimana perbedaan proses pembuatan kain batik dan kain cap. Proses itu adalah penempelan lilin pada kain mori hingga terjadi lukisan lilin diatas kain. Penempelan itu dapat dilakukan dengan canting yang prosesnya lama dan cap yang prosesnya cepat. Hasilnya sangat berbeda, hasil cap polanya berulang, dapat sama pada beberapa hasilnya, sedangkan hasil batikan polanya variatif hampir selalu berubah tak ada yang persis sama untuk setiap bagian atau unit hasil pembatikan.
Dengan mengasumsikan CC sebagai hasil penempelan lilin pada kain putih/mori pada pembuatan kain batik dan kain cap dapat dibedakan apakah CC itu hasil “batikan:” dengan menggunakan peralatan primitif (seperti proses melukis) atau cap yang menggunakan tehnologi canggih (seperti proses percetakan).
Kesaksian penduduk disekitar lokasi sangat penting, apakah CC terjadi secara tiba-tiba, dalam kurun waktu sangat singkat, atau berlaku lama. Itulah sebabnya lokasi kejadian sangat penting, jika terjadi didaerah terpencil sehingga tak dapat diketahui berapa lama proses itu terjadi, atau didaerah padat penduduk yang jika terjadi lama akan diketahui prosesnya. Kejujuran penduduk disekitarnya sangat dibutuhkan agar diperoleh kepastian proses terbentuknya CC itu berlaku cepat atau cukup lama atau bahkan diketahui siapa yang melakukan kegiatan didaerah tersebut.
Pola CC juga dapat membedakan hasil “batikan” yang dilakukan dengan peralatan primitif atau hasil cap yang dilakukan dengan peralatan canggih.
Dengan mudah dapat dibedakan antara hasil pembatikan yang dilakukan dengan peralatan primitif atau hasil cap bekas “kendaraan” yang baru saja mendarat ditempat tersebut atau sesuatu yang “dipindahkan” dari tempat dan meninggalkan bekas yang dinamakan CC.
Andaikata CC itu memang bekas “kendaraan” yang sanggup terbang dan mendarat ditempat itu untuk kemudian terbang lagi, sudah dapat dipastikan kendaraan itu pasti memiliki tehnologi canggih. Mengapa? Coba fikir sendiri cucuku yang cerdas.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jan 26, ’11, edited on Jan 27, ’11
Cucu: Agar dapat terbang dibutuhkan gaya angkat yang didapat secara aero statis (misalnya balon terbang) atau secara aero dinamik, misalnya helikopter dan pesawat terbang yang digerakkan dengan baling-baling atau jet. Pada sistem aero dinamik akan menyebabkan gerakan udara yang akan merusak CC. Pada sistem aero statik dibutuhkan balon berukuran sangat besar untuk dapat mengangkat beban “cap” yang digunakan untuk membentuk CC. Kalau beban itu ringan tak akan mampu membentuk CC, kalau beban berat dibutuhkan gaya besar untuk mengangkat cetakan CC.
Pola seperti batik juga mungkin dilakukan dengan “menyeret” beban untuk meninggalkan bekas ditanah yang bagaikan proses kain batik, hal ini dapat dilakukan dengan “pesawat” bertehnologi canggih hingga tak merusak media atau justru dapat dilekukan dengan cara primitif didarat/ditanah. Hasilnya pasti sangat berbeda, kecuali jika memang disengaja oleh pembuatnya untuk mengacaukan “penelusuran”.
Eyang: luar biasa cucuku. Eyang merasa puas atas jawaban cucu, namun lebih lega karena ternyata fenomena “yang sangat sepele” mendapat perhatian mereka yang berhubungan dengan misteri UFO sehingga dapat dipastikan CC yang terjadi di Sleman adalah hasil rekayasa manusia. Namun eyang berharap hasil penentuan yang teramat cepat itu, yang menyatakan itu hasil rekayasa manusia dipublikasikan agar masyarakat benar-benar yakin bahwa kesimpulan itu bukan sekedar “menenteramkan”, melainkan mengajak berfikir kritis. Jika CC itu dilakukan oleh manusia iseng, maka konsekwensinya berat, sebab si pelaku harus bertanggung jawab atas perbuatannya, karena merusak medan yang digunakan untuk berbuat iseng (tanaman rusak).
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s