Kemampuan manusia itu terbatas, apa yang tak sanggup dimengerti tak mungkin diwujudkan dalam kenyataan.

Pertanyaan: Eyang menasehatkan sebelum mempercayai, apalagi menyakini, harus difiikir sebab menurut eyang” “Thinking  before belieiving is  the way to reality. Apakah ini artinya meyakini tanpa difikir terlebih dahulu  tak akan menghasilkan sesuatu yang nyata?
Jawaban: Eyang mensitir ucapan guru spiritual eyang J.B. Basuki: “Believe without thinking is the way to heaven”  yang mengilhami eyang untuk mengimbanginya dengan ungkapan: “Thinking before believe is the way to reality”.
Heaven adalah cita-cita, idealisme yang belum menjadi kenyataan. Jalan menuju heaven bukannya berfikir melainkan  iman atau keyakinan. Proses berfikir menyebabkan seseorang yang imannya belum tangguh menjadi ragu, namun bukan berarti mereka yang berfikir tak mungkin mencapai heaven. Ada keyakinan yang menyatakan: hidup adalah kesempatan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Berfikir itu untuk mencari kenikmatan duniawi yang nyata (reality), sedangkan keyakinan/iman tentang adanya heaven adalah janji/petunjuk dan jalan ke heaven.
Kali ini eyang menambahkan : Keyakinan setelah berfikir harus diikuti oleh upaya/perbuatan agar dapat mewujudkan sesuatu yang nyata.
Manusia dapat berkembang menjadi makluk didunia yang disegani oleh yang lainnya  melalui proses : “berangan-angan” untuk membangkitkan cita-cita yang akan dicapainya (taraf bermimpi) , berfikir untuk mempertimbangkan kemungkinan untuk mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan (taraf keraguan), meyakini bahwa cita-titanya dapat diwujudkan (tarap kemantapan), berbuat sesuatu untuk mewujudkan impiannya (tarap usaha), belajar dari kegagalan untuk menyusun strategi agar tak terulang kesalahan yang telah diperbuatnya (taraf introspeksi), mensyukuri keberhasilan untuk pemacu  mencapai keberhasilan berikutnya (taraf ujian/cobaan  untuk menjadi sombong dan superior atau menyadari bahwa semua hanya mungkin terjadi jika Tuhan YME mengizinkan).
1 CommentChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jan 28, ’11
Otak manusia bagaikan CPU yang mendapat masukan dari pancaindra, batin/feeling, fikiran/akal. Masukan itu akan diolah oleh otak, sebelum memutuskan otak harus “mengerti” dulu makna dari masukan itu.
Dahulu sebelum manusia cerdas, pancaindra mendominasi masukan yang dapat dimengerti oleh otak. Zaman spiritualisme alami masukan lewat feeling mulai dimengerti oleh otak. Setelah menjadi cerdas otak lebih mudah mengerti masukan lewat fikiran. Adalah tak mengherankan jika sekarang antara otak dan fikiran dicampur adukkan. Seakan otak hanya sanggup menerima masukan dari fikiran.
Suatu bukti bahwa ada satu kemampuan yang belum dikembangkan, yaitu kemampuan bawah sadar atau kemampuan para logika. Hanya yang memiliki kemampuan paralogika positip sanggup membedakan antara yang nyata dan yang semu, antara yang rasional dan irrasional, dan yang valid (dapat diterima fikiran untuk kemudian diyakini) dan yang invalid (tak dapat diterima akal dan dipaksakan untuk diyakini).
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s