Mungkinkah roh dapat terlihat atau melihat manusia yang masih hidup?

Pertanyaan: Saya sangat tertarik dengan sinetron “Putri yang ditukar” yang ditayangkan setiap malam antara pukul 19.30 s/ pk 22.30. di RCTI.  Ada adegan yang menggambarkan Amira yang dalam kondisi kritis rohnya melihat jazatnya sedang dikelilingi oleh orang-arang yang sedang mendoakannya. Roh Amira juga dipertontonkan sebagai “bayangan” yang dapat terekam oleh kamera dan ditayangkan dalam sinetron itu.
Saya ingin bertanya kepada pak Ibnu: “Apakah  orang yang meninggal rohnya dapat terlihat atau melihat manusia yang masih hidup?” Apakah adegan tersebut tak bertentangan dengan keyakinan/agama tertentu hingga boleh ditayangkan, tidak seperti tayangan misteri lainnya, misalnya pemburu hantu, menguji nyali dll yang dilarang?
Jawaban: Mungkin ananda terlalu tercekam dengan sinetron yang memang sangat memukau itu, sehingga ananda tak menggunakan kemampuan paralogika positip. Seharusnya ananda menyadari bahwa yang ananda saksikan itu bukannya mimpi, ilusi maupun kondisi tak sadar (unconscious)  dan mengira semuanya itu bukan sekedar Dunia Maya yang ananda saksikan dalam keadaan sadar lewat pancaindra.
Saya tak sependapat jika  adegan-adegan yang tak masuk akal itu dilarang karena bertentangan dengan logika fikir maupun logika keyakinan. Logika fikir dan logika keyakinan adalah semu, padahal hidup ini suatu yang nyata. Tayangan di TV itu “nyata” karena dapat disaksikan lewat pancaindra. Karena nyata maka dapat dijelaskan mengapa hal yang “irrasional” itu dapat “terjadi”, walau mungkin bagaikan mimpi atau ilusi dan sulit diterima akal dan diyakini kebenarannya. Dengan menjelaskan bukan hanya melarang justru dapat menghindarkan anggapan yang sesat dipandang dari sisi religius maupun sains.
Penjelasan secara tehnis pembuatan sinetron akan saya kesampingkan walau sebenarnya saya dapat menjelaskan karena saat masih muda saya berkecipung dalam bidang fotografi dan film dokumenter.Mungkin akan ada yang sanggup menjelaskannya lebih up to date.

Saya akan menjelaskan atas dasar Teori Paralogika yang menyatakan bahwa setiap living organisme, termasuk manusia, merupakan interaksi vitalistik antara organisme dengan soul dalam membentuk white blank body  atau interaksi semi vitalistik antara organisme dengan spirit dalam membentuk reincarnated body.
Menurut TM Plus soul membedakan antara benda dengan makluk hidup. Roh adalah soul yang memiliki idealisme/cita-cita dan tak mungkin terakses oleh kemampuan manusia secara langsung maupun dengan bantuan peralatan fisik. Makluk hidup yang sekedar hidup dan tak memiliki cita-cita atau idealisme belum memiliki roh, melainkan sekedar soul. Spirit bukannya sekedar soul, melainkan soul yang berinteraksi secara vitalistik dengan astral body sehingga memiliki unsur energi yang masih mungkin terdeteksi atau mendeteksi energi dan body lainnya. Yang sanggup terdeteksi bukannya soul atau roh melainkan astral bodynya sebagai halnya living organisme yang dapat terdeteksi adalah organismenya. Mengapa? Baik organisme maupun astral body adalah salah satu jenis “konsentrasi  energi” yang sanggup melakukan aktivitas karena mendapatkan kemudi/kontrol dari soul, roh maupun spirit  dan ditenagai oleh energi Setiap energi memenuhi FSM E = – x + y hingga memiliki unsur magnetisme yang belum seimbang atau yang telah seimbang yang mungkin terdeteksi oleh peralatan fisika. Sebaliknya Soul atau roh bukannya energi sehingga tak memenuhi FSM melainkan memenuhi Formula Supernatural Som Wyn (FSSW) z # – x + y.
Apa yang ditayangkan dalam sinetron saat ini masih merupakan Dunia Maya .Peralatan fisika saat ini belum sanggup membantu panca indra manusia yang sangat terbatas dalam mendeteksi fenomena transien yang  tak terdeteksi oleh panca indra, misalnya  mata, yang   hanya sanggup mendeteksi cahaya dalam band frequensi penglihatan. Dengan  hasil tehnologi band frekwensi itu dapat diperluas dan intensitasnya diperkuat hingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Tidak mustahil suatu saat apa yang kini hanya ada dalam Dunia Maya dapat disaaksikan secara sungguh-sungguh dalam Sub Alam Transien, sepanjang masih memenuhi FSM hingga termasuk dalam slah satu jenis energi.
Kesimpulan: “Roh tak mungkin dapat terlihat atau melihat manusia yang masih hidup, karena roh tak memiliki unsur energi.” Spirit atau living astral body masih mungkin terlihat atau melihat manusia yang masih hidup sebagai halnya living organisme dapat melihat dan terlihat atas dasar interaksi mekanistik antar energi (baik energi nyata maupun energi semu). Interaksi mekanistik lebih luas dari sekedar interaksi quantum sebagai yang dipelajari dalam Mekanika Kwantum.
Jadi menurut saya yang digambarkan dalam adegan Amira dalam kondisi kristis sanggup melihat dan terlihat oleh manusia yang masih hidup merupakan obsessi  yang sangat sesuai dengan Teori Paralogika yang menginformasikan adanya spirit (living astral body) disamping  living organisme (living bio body).
Teori Paralogika sanggup menjelaskan  sesuatu yang rasionil hingga yang irrasionil, menginformasikan  fenomena nyata berdasar Teori Qwantum Mechanic dan fenomena transien berdasarkan Teori Quantum Eteric dengan menggunakan model komputer dan user.
Komputer merupakan pintu gerbang memasuki Sub Alam Transien, bukan sekedar jendela untuk meneropong Alam Semesta seperti  Teori Minimalis dan Teori Paralogika yang hanya merupakan informasi.

2 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 3, ’11, edited on Feb 5, ’11
Belajar dari perkembangan peradaban manusia, nenek moyang kita dulu sanggup berkomunikasi dengan makluk halus yang kini saya sebut sebagai spirit. Saat itu mereka belum terbelenggu oleh materialisme sehingga kemampuan spiritual alamiah mereka mendominasi kehidupan mereka. Kemampuan spirituaslisme alami menyebabkan manusia “memuja dan menyembah “kekuatan dan kekuasaan alam, yang kini saya sebut sebagai energi semu hingga energi nyata yang terakumulasi dalam benda hingga mereka menyembah berhala dan para penguasa, misalnya Firaun” .Agama mengarahkan manusia untuk tak takut pada kekuatan alam disekelingnya dan hanya menyembah para tuhan atau dewa, untuk kemudian berkembang menjadi menyembah Satu Tuhan, karena segalanya adalah ciptaan Nya. Agama menyebabkan manusia tak “takut” lagi pada kekuatan alam atau lingkungannya, sehingga manusia disegani oleh makluk lainnya.
Moralitas Agung memanfaatkan dosa untuk mengendalikan perilaku manusia dan hidup bermasyarakat dengan menjanjikan kebahagiaan abadi dan penderiataan abadi sebagai akibat dari dosa.
Sayang, banyak penguasa yang menggunakan agama dan akibat “dosa” untuk menegakkan kekuasaannya. Dosa tak lagi diyakini sebagai penghalang mencapai kebahagiaan abadi karena ingkar pada perintah tuhan bergeser menjadi alasan untuk menghukum rakyat yang tak patuh pada penguasa. Mereka yang berbuat “dosa” pada penguasa yang mengatas namakan tuhan akan sengsara akibat “dosa” baik dalam kehidupan nyata maupun alam abadi.
Rakyat menjadi budak para penguasa yang menyalah gunakan nama tuhan bahkan mengaku sebagai tuhan, misalnya Firaun.
Timbulah filsafat yang menggunakan akal budi untuk membebaskan diri dari kebodohan yang berakhir pada perbudakan.Manusia semakin cerdas sehingga ingin menjadi dirinya sendiri, bukan budak dari siapapun.
Manusia semakin “perkasa” karena sanggup memanfaatkan berbagai energi dan materi yang terdapat disekitarnya. Hidup semakin nikmat berkat perkembangan tehnologi yang berbasis materi. Materialisme berujung pada atheisme.
Perkembangan tehnologi dan materialisme tanpa disadari menjadikan manusia tak peduli lagi dengan spiritualisme alami . Kebahagiaan abadi yang dijanjikan oleh Tuhan YME dinisbikan karena manusia “puas” dengan kenikmatan sementara yang menjadikan hidup “mereka rasakan sebagai sorga” berkat “perjuangan” manusia semata.
Melemahnya spiritualisme alami menjadikan manusia tak sanggup lagi berkomunikasi dengan spirit, namun menurut prediksi saya jika telah terjadi revolusi spiritual ilmiah, maka dengan hasil tehnologi yang lebih canggih tak mustahil manusia dapat berkomunikasi lagi dengan spirit.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 5, ’11, edited on Feb 5, ’11
Ketika manusia telah jenuh dengan kenikmatan dan penderitaan hidup di dunia yang serba nyata dan rasional, mereka akan mendambakan sesuatu yang lain, misalnya Dunia Maya yang memungkinkan segalanya, baik yang rasionil maupun yang irrasionil dapat terjadi bagaikan mimpi
Mimpi tak mungkin terkendalikan oleh kemauan yang bermimpi, sedangkan Dunia Maya dapat diujudkan seperti yang kita inginkan. Tayangan dalam TV dan multi media dapat menyajikan apa saja yang dapat disaksikan lewat panca indra karena diujudkan dengan energi nyata dan termasuk dalam Sub Alam Fisika.
Dunia Maya memiliki keterbatasan, yaitu hanya mungkin dimanfaatkan untuk berkomunikasi antara penghuni dunia dan sekelilingnya, karena terbatas pada penggunaan inergi fisika. Mustahil manusia sanggup menjelajahi seluruh alam semesta dengan sekedar energi fisika, apalagi dengan dibebani oleh massa.
Dalam Fiksi Blackhole saya lukiskan, pada abad ke 30 manusia belum sanggup menginjakkan kaki di planet dalam tata surya, tanpa diduga John Kopernikus telah tersesat ke Pusat Galaksi Bimasaksi, kemudian Young Kopernikus berhasil keluar dari galaksi Bimasakti menuju ke galaksi lainnya. Itu sekedar fiksi, namun mengapa manusia tak berobsessi untuk melakukan hal yang demikian. Pada fiksi itu justru para ilmuwan malah merasa dilecehkan, karena mereka menganggap perjalanan ke antariksa hanya mungkin dilakukan dengan kendaraan ruang angkasa bermassa yang ditenagai oleh energi fisika. Padahal, sudah sepuluh abad sebelumnya (yaitu abad ke 20) saya sudah menginformasikan bahwa suatu saat manusia akan sanggup melakukan perjalanan spiritual ilmiah yang memungkinkan manusia pindah ke galaksi lainnya.
Jika manusia telah sanggup berkomunikasi dengan spirit lagi, bukan dengan cara spiritual alamiah seperti yang dilakukan nenek moyang kita,melainkan dengan spiritual ilmiah, hasil tehnologi untuk mengekporasi dan mengekploitasi Sub Alam Transien, maka apa yang saya gambarkan pada Fiksi Blackhole dapat diujudkan.
Spirit dapat melakukan perjalanan tanpa membawa organismenya, karena organisme itu tetap dipelihara oleh team medis hingga sewatktu-waktu spirit yang bersangkutan membutuhkan organisme yang bersangkutan masih berfungsi normal.
Spirit yang sedang melanglang buana selalu terhubung dengan organisme yang tetap dalam kondisi siaga karena dipelihara oleh team medis hingga sanggup melakukan komunikasi secara unreal link, sebagai halnya komputer yang sedang ditinggalkan user dan tak terhubung secara real link/ fisical link melainkan terhubung secara virtual link lewat internet.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s