Revolusi di Timur Tengah akan merembet ke Indonesia?

Pertanyaan: Tunisia telah berhasil melengserkan  penguasa lama yang menyengsarakan rakyatnya. Saat ini Mesir sedang bergolak. Jika revolusi ini berhasil apakah Indonesia akan mengikutinya?  Bagaimana caranya agar hal itu tak merembet ke Indonesia?
Jaswaban: Saya bukan seorang politikus, namun saya telah mengalami pahit getirnya kehidupan, zaman penjajahan, zaman memperjuangkan kemerdekaan, zaman menegakkan dan mengisi kemerdekaan, zaman pergantian penguasa, tetapi saya mennyikapinya dengan cara saya sendiri, tidak hanya ikut-ikutan. Ini bukan berarti saya tak mau belajar atau saya tak peduli dengan lingkungan. Semua yang saya saksikan disekitar saya merupakan input (masukan) yang sangat berharga, tetapi bukan berarti saya harus terhanyut oleh masukan itu lalu menuruti dan mengekor cara orang lain dalam menyelesaikan masalahnya.
Berbicara masalah negara dan  bangsa bagi saya terlalu rumit, namun pengalaman saya dalam mengatasi masalah keluarga mungkin ada manfaatnya untuk mengatasi masalah bangsa dan negara kita. Pengalaman hidup itu saya kristalisasikan dalam filosofi/keyakinan  hidup saya:
1. Tuhan YME memberi kesempatan memilih kepada ciptaan Nya, termasuk saya , keluarga saya, juga kepada bangsa Indonesia. Pemaksaan kehendak sangat bertentangan dengan hakekat kemuliaan Nya.
2. Sebelum memilih saya punya kesempatan  berfikir kemudian baru menyakini bahwa pilihan itu  benar, sehingga keyakinan saya tak sekedar mengekor orang lain. Mengapa? Suatu pilihan itu membawa akibat sehingga harus diperhitungkan konsekwensinya.
3. Manusia hidup dalam suatu lingkungan, sehingga harus sanggup mempertahankan jati diri dari pengaruh lingkungan. Seringkali lingkungan membawa masalah sebab setiap individu atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda. Jika terjadi konflik kepentingan Tuhan YME memberikan pilihan cara menyelesaikan:
a. Sitik eding, semua masalah diselesaikan dengan berlaku adil bagi semua pihak. Adil bukan berarti sama rata dan sama rasa, melainkan  keseimbangan antara hak dan kewajiban. Untuk ini bagi yang kuat dan berkuasa tak boleh bersikap adigang adigung adiguna, mentang-mentang berkuasa, yang lemah harus tahu diri dengan mengurangi rasa iri hati dan sadar bahwa dia telah menerima hak sesuai dengan kewajibannya.
b. Genti genten, bergiliran dalam mendapatkan kesempatan berperan dalam mengurusi kepentingan bersama. Hal ini dapat bersifat alami (misalnya karena usia) maupun ilmiah (karena ada yang lebih pantas dan mendapat kepercayaan untuk mengurusi kepentingan bersama)
c. Tiji- tibeh, atau kill or to be killed. Jika salah satu fihak (biasanya yang diuntungkan oleh kemapanan)  tak mau memilih dua cara yang tersedia diatas, maka akan berujung pada sengketa, perkelahian hingga saling bunuh membunuh. Perang kadang sangat dibutuhkan untuk merubah sesuatu yang sudah mapan namun tak memberikan kenyamanan bagi semua fihak melainkan hanya kenikmatan bagi fihat tertentu dan kesengsaraan bagi yang lain.
d. Revolusi adahan perubahan yang sangat cepat untuk merombak  sesuatu yang telah mapan dengan risiko yang sering tak diperhitungkan untung ruginya, sedangkan evolusi merubah secara berangsur dan bertahap  hingga tak menimbulkan goncangan sosial.

Kami sekeluarga yang teramat sederhana saja masing-masing punya kepentingan hingga seringkali timbul konflik, apalagi suatu bangsa besar, seperti bangsa Indonesia. Prinsip yang saya gunakan adalah: “semua masalah tak boleh dicampuri oleh fihak lain, sebab campur tangan fihak lain hanya akan menimbulkan masalah baru”.
Masing-masing harus memiliki kesadaran  ikut handarbeki , suatu keluarga bukan  hanya milik orang tua, melainkan juga milik anaknya. Suatu bangsa bukan hanya milik para penguasa, melainkan milik bersama, termasuk rakyatnya. Masing-masing memiliki peran dalam keluarga atau bangsa sehingga harus diperhatikan kepentingannya jika tak ingin terjadi ketegangan yang berakhir pada tindakan anarki.
Seorang ayah atau ibu bukanlah penguasa yang setiap saat membawa cambuk agar dapat ditaati oleh anak-anaknya, melainkan pengayom yang selalu menebarkan payungnya. dengan memperhatikan kepentingan bersama. Pemerintah harus mengayomi rakyat, bukan menggembala dengan senjata terhunus atau senjata kebohongan.

Menurut saya, sebagai bangsa besar janganlah kita mengekor bangsa lain, namun jadikanlah  pengalaman bangsa lain sebagai masukan baik itu bagi rakyat maupun para pemimpinnya.

Agar revolusi tak merembet ke Indonesia maka:
1. SBY jangan meniru Mubarak atau Suharto! Masih ada kesempatan baginya untuk mengobati hati rakyat dan memulihkan kepercayaan rakyat kepadanya, sehingga rakyat tak mudah terhasut untuk melakukan tindakan anarki.
2. Bangsa Indonesia harus mempertimbangkan untung ruginya melakukan revolusi dan tak mudah terhasut oleh merreka yang ingin mengail di air keruh. Belajar dari pengalaman massa lalu sangat bermanfaat. Sukarno memperingatkan : “Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Itulah sebabnya saya memperingatkan pada para pemimpin dan penulis sejarah/dokumen perjuangan bangsa Indonesia: “Jasmerah, jangan sekali-kali memalsukan/atau memanipulasi sejarah”. Jangan suka membuat kebohongan untuk  mengelabui rakyat dan generasi yang akan datang. Barang siapa menyimpang kebusukan dia akan ikut membusuk.

Kita tak perlu khawatir  akan terjadinya revolusi, sebab rakyat sudah cerdas untuk memilih jalan terbaik bagi bangsa dan dirinya.
1.SBY tak mungkin berkuasa seperti Mubarak atau Suharto  selama 30 tahun, sebab kekuasannya sudah diatur oleh undang-undang.
2.Rakyat Indonesia belum separah rakyat Mesir yang akan memcambuk atau mencincang mantan presidennya yang berbuat “zina” dengan bangsa lain. Bangsa kita sangat pengampun, sepanjang masih meyakini kebenaran Pancasila yang telah mengantarkan kita mencapai kemerdekaan berkat persatuan dan perjuangan seluruh komponen bangsa Indonesia. Namun sebagai yang pernah kita alami……… kalau sudah marah bangsa kita menjadi kalap  dan menghancurkan apa saja untuk melampiaskan amarahannya, sehingga sebenarnya fenomena ini  lebih kejam dari  sekedar mencambuk atau mencincang  yang sudah jelas berbuat “zina”,  menjual harga diri dan membiarkan kekayaan ibu pertiwi dikuras bangsa lain dan membiarkan rakyat bermimpi indah dengan kebohongan maupun bermimpi buruk akibat  kekerasan..

1 CommentChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 6, ’11, edited on Feb 6, ’11
Sejarah mencatat bahwa tak ada mantan presiden NKRI yang melarikan diri meminta perlindungan pada negara lain. Semua mantan presiden NKRI tetap tinggal di bumi ini dan diperlakukan manusiawi atau terkesan manusiawai, disisi lain…………….. hasil pembangunan dan mereka yang tak bersalah menjadi korban kemarahan rakyat, walau mungkin saja digerakkan oleh tangan-tangan setan.
Apakah kita akan mengulang tragedi yang mengerikan itu?
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s