Saya ini semakin baik atau semakin buruk?

Pertanyaan: Saya seusia mas Ibnu, dianugerahi satu orang anak lelaki  dan satu orang cucu perempuan.  Sebenarnya saya ingin menulis pengalaman hidup saya , tetapi apakah pantas pengalaman saya itu saya ceriterakan  kepada orang lain seperti pengalaman hidup mas  Ibnu?
Ini sekedar untuk mas  Ibnu, tetapi jika pantas silakan menggunakan sebagai bahan tulisan, namun janganlah disebutkan identitas saya.
Ketika saya masih kecil kedua orang tua saya bercerai, ayah menikah lagi dan punya dua anak, ibu menikah lagi punya tiga anak. Ayah memiliki perusahaan pelayaran sedangkan ibu menjadi isteri seorang pejabat. Adik-adik saya semuanya serba kecukupan sedangkan saya merasa “ditelantarkan.”
Sejak di SMA saya bekerja sebagai driver (sopir),  majikan saya bekerja dibidang perminyakan dan sangat baik kepada saya.
Selesai sekolah saya diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah di bidang perminyakan dan dibebaskan dari tugas sebagai driver  sehingga saya dapat menyelesaikannya lebih cepat dari yang ditentukan, hasilnya sangat memuaskannya sehingga  saya diterima diperusahaannya.
Saya menikah dengan salah satu kemenakan “bapak angkat” saya, seorang kulit putih.
Suatu saat perusahaan ayah bangkrut,  suami ibu lengser bersama turunnya pak Harto. Kedua orang tua saya menggantungkan hidup kepada keluarga saya. Seandainya mereka dapat hidup bersahaja, bagi saya tak akan menjadi masalah sebab saya dan mereka sedarah daging. Masalahnya menjadi rumit karena mereka sudah terbiasa hidup mewah, dan gemerlapan harta.
Sejak kecil saya hidup prehatin sehingga saya sangat peduli dengan orang lain. Dari pengalaman hidup, diantaranya dalam kepedulian saya terhadap adik-adik membuat saya hampir stress. Seorang psikolog menyarankan agar saya “membatasi” diri dalam “mengurusi” orang lain, sebab saya mempunyai kerluarga, anak dan istri, yang  jauh lebih penting. Mula-mula saya berikan modal kepada adik-adik agar mereka tak bergantung pada saya. Dalam waktu singkat uang itu habis sehingga mereka meminta lagi. Perong-rongan ini diketahui oleh istri saya sehingga dia mengancam untuk memilih dia atau adik-adik saya.
Saya sadar betapa pahitnya anak yang orang tuanya bercerai, walau bergelimang harta. Jadi saya tak ingin hal itu terjadi pada anak saya.
Dengan main kucing-kucingan saya tetap membantu keluarga bapak dan keluarga ibu saya.
Terus terang ada rasa ketakutan seandainya terjadi sesuatu pada anak tunggal saya maka saya berusaha untuk tetap memikirkan adik-adik saya. Kami sudah berusaha keras untuk mendampatkan anak lagi dengan berbagai cara, tetapi hingga anak saya menikah dia tetap tak diberikan adik. Kini mereka telah dianugrahi anak sehingga kami memiliki generasi penerus, namun itupu tak lebih dari satu.
Membaca stph mas Ibnu terus terang saya merasa “iri”.
Bagaimana menurut pendapat  mas Ibnu: Apakah saya ini semakin baik atau semakin buruk? Bagaimana caranya agar saya dapat menerima semuanya dengan iklas?
Jawaban: Terima kasih atas kepercayaan dimas memberikan bahan kepada saya untuk ditularkan kepada yang lainnya. Pengalaman dimas ini sangat bermanfaat bagi siapapun sehingga perlu diceriterakan kepada semua yang memerlukan.
Dalam suatu hal dimas pantas “iri” pada saya, tetapi dilain hal saya juga berhak “iri” dengan dimas, Untuk menghilangkan rasa itu sebaiknya masing-masing melakukan introspeksi. Agaknya ada kesamaan antara dimas dengan saya: Istri saya mencap saya seorang yang sangat egoistis. Mungkin dimas juga sangat egoistis hingga istri menantang untuk memilih dia atau adik-adik dimas.
Yang saya peringatkan adalah: jangan bermain api dalam sekam. Dalam Keluarga Minimalis seperti keluarga saya, tak boleh  dicampuri oleh fihak luar. Jika ingin damai dalam sebuah keluarga seharusnya saling jujur dan saling menerima apa adanya. Istri anda seorang Barat, jadi jangan dipaksa untuk menerima budaya Timur.
Yang saya hargai dimas dengan jujur mengakui kepada saya bahwa ada kepentingan ego hingga dimas berlaku baik kepada adik-adik dimas, Apakah argumentasi dimas ini telah dikemukakan kepada istri dimas?
Alasan kawatir atau ketakutan kehilangan anak semata wayang hingga “membuat kontrak kebaikan” pada adik-adik dimas,sangat emosional. Sudah terbukti ” dimas” mula-mula ditelantarkan oleh orang tua dimas, ternyata ada orang lain yang bersedia memperlakukan dimas sebagai anaknya.
Kalau dimas ingin memiliki anak lebih dari satu dan telah berusaha melalui berbagai cara, mengapa dimas tak mengadopsi bayi lain, atau anak yang sudah dewasa seperti yang dilakukan oleh “majikan” dimas?
Peduli terhadap orang lain harus sanggup menjadikan orang lain itu baik, bukan malah semakin buruk. Banyak anak-anak bernasib lebih buruk dari adik-adik dimas yang membutuhkan uluran tangan agar nasibnya menjadi lebih baik tanpa menyulitkan dimas.
Sudahkah dimas “bermusyawarah” dengan istri dimas untuk mengadopsi anak?

2 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 28, ’11, edited on Mar 1, ’11
Terima kasih dimas telah bersedia membaca stph, yang dimas anggap bermanfaat silakan “diingat” yang tak bermanfaat sebaiknya dilupakan saja.. Stph bukan saya maksudkan “memamerkan” diri tentang apa yang telah saya lakukan , kegagalan serta keberhasilan saya.. Stph merupakan satu cara mawas diri bagi diri saya, keluarga saya dan mereka yang telah “berurusan” dengan saya. Ttph bukanlah merupakan autobiografi melainkan sekedar pengalaman yang masih tersisa dalam memory spirit saya sehingga saya sering mendapat kritikan dari anak-anak dan cucu saya yang menganggap banyak dari tulisan saya itu hasil rekasyasa atau mimpi yang tak pernah ada dalam kenyataan.
Kenyataan atau keadaan kami saat ini ada pada Profil diri saya yang saya torehkan pada Halaman Depan Situs Saya. Dari membaca proil saya banyak yang “menganggap” kami berhasil sehingga menanyakan bagaimana caranya mencapai keberhasilan kami dalam membina keluarga hingga dapat bertahan hingga mempunyai empat anak dan dua belas cucu. Mereka lebih “terperangah” saat mengetahui bahwa antara saya dan isteri saya bagaikan kutub selatan dan kutub utara, sangat kontrast.
Saya pernah membaca dan menulis dalam blog orang lain mengenai keluarga minimalis, yang antara lain mengupas mengenai tren kawin-cerai diantara para selebritis. BH X pernah menyatakan betapa pahitnya menjadi produk dari keluarga yang menjalankan poligami. Sekarang dimas memperkaya dengan pengalaman sebagai anak yang orang tuanya percerai.
Saya sangat bersyukur dianugrahi keluarga minimalis, artinya keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan seorang ayah dan anak-anak yang terbebas dari campur tangan fihak lain. Ini bukan berarti kami tak membutuhkan bantuan atau memberikan bantuan dari atau kepada fihak lain, melainkan tak mau “dicampuri” atau”mencampuri” urusan orang lain. Kami tetap peduli dan selalu menjaga hubungan baik sepanjang tak menimbulkan masalah dalam keluarga kami.
Setelah anak-anak kami menikah dan memiliki keleluarga sendiri, masalahnya menjadi lebih pelik karena terjadi ekpansi jaringan keluarga. Semoga keluarga menantu saya sefaham dengan prinsip keluarga minimalis.
Seharusnya dimas bersyukur hanya dianugrahi seorang anak, karena expansi keluarga tak serumit yang kami alami. Namun harus diwaspadai agar tak menjadikan mereka (anak dan istri) sebagai property yang dapat selalu menjadi milik orang tua atau keluarga. Mereka seharusnya menjadi diri masing-masing dan sanggup mmengurusi diri sendiri, hingga tak menjadi beban fihak lain.
Saya punya teman yang hanya dianugrahi seorang putra, setiap kali menikah, istri anak itu minta cerai gara-gara “tak mau dimadu”.
Padahal pemuda yang “setia” itu tak pernah melakukan poligami. Mengapa demikian? Yang dimaksud “madu” adalah mertua perempuannya.
Sebaiknya pengalaman teman saya ini jangan diabaikan.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Mar 1, ’11
Kisah lain. Kakak saya bercerai karena perilaku kakak saya yang kurang baik. Anaknya dibesarkan oleh ibunya yang menikah lagi dengan lelaki lain. Kami tak mencampuri urusan mereka, namun kami tetap memperlakukan mereka sebagai kemenakan yang lainnya. Kakak tak menikah lagi karena tak mau melukai anak dan mantan istrinya.
Setelah dewasa terjadi berbagai ketegangan dalam keluarga mereka, kami tak mau terlibat dalam urusan itu. Dalam pengamatan saya, anak itu jauh lebih menghormati ayahnya yang tak “bertanggung jawab” dari pada ibunya yang berjuang untuk mendewasakannya, gara-gara dia menikah lagi dengan lelaki lain. Apakah kemenakan kami itu durhaka kepada ibunya, ataukah ibunya yang durhaka kepada anaknya? Silakan kalian menilainya.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s