Bagaima agar saya dapat sukses seperti J.Biber dan jojo?

Pertanyaan: Ada anak muda yang sukses sperti J. Biber…………..dll yang  dalam sekejap menjadi sangat terkenal dan memperoleh banyak fan dan uang? Bagaimana caranya agar cucu dapat seperti mereka?
Jawaban: Harus dibedakan antara anak muda yang sukses dan beruntung. Yang sukses itu harus melalui  perjuangan gigih, sedangkan yang beruntung itu hanya butuh sedikit usaha atau bahkan secara kebetulan saja.
Dalam menghadapi kasus “sesuatu yang diluar kelaziman itu” (keberuntungan atau sebaliknya musibah)  tergantung pada jati diri masing-masing. Teori Paralogika membedakan adanya white blank body (WB) dan re incarnated body.(RB). Mungkin pandangan seseorang  terhadap fenomena itu dapat dimanfaatkan sebagai indikator, dia WB atau RB.
Bagi WB keberuntungan maupun musibah semua berada ditangan Tuhan YME. Bagi RB keberuntungan ataupun musibah itu akibat ulah ciptaan Nya.
Jadi jika cucu WB maka jangan mempermasalahkan hal-hal yang diluar kelaziman itu, semua itu adalah kehendak Tuhan YME.
Eyang akan mengalisa  secara sudut pandang RB.:
1. Tuhan YME itu maha pemurah karena telah menyediakan segalanya, termasuk keberuntungan dan musibah.
2. Tuhan YME itu memberi kesadaran (consciousness) kepada ciptaan Nya untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing.
3. Tuhan YME itu memberikan kesempatan untuk memilih: mematuhi Nya atau menuruti ke inginan masing-masing. Ini yang menyebabkan adanya WB dan RB.
4. Semua yang terjadi adalah ulah ciptaan Nya, namun harus mendapatkan izin Nya.
Dari sudut pandang ini: seseorang dapat beruntung seperti yang cucu inginkan adalah akibat ulah lingkungannya, musibah yang menimpa seseorang juga dari ulah lingkungan kita. Tetapi masing-masing telah dibekali kesadaran untuk mengurusi/menjaga  diri, jenis dan lingkungannya. Jadi semua yang terjadi dapat berawal dari diri kita, jenis kita  atau lingkungan kita. Itulah sebabnya masing-masing memiliki peran dalam sesuatu yang lazim maupun tak lazim terjadi, karena kita merupakan bagian dari lingkungan kita.
Namun……………… semua pasti  telah diizinkan, tanpa izin Nya semua tak mungkin terjadi. Hal ini teramat penting agar pada akhirnya kita dapat  menerimanya, sebab pastilah hal itu  yang paling cocok/pantas bagi diri kita masing-masing.
Lain halnya jika cucu ingin sukses, maka harus melalui suatau perjuangan yang memerlukan jerih payah dan membutuhkan waktu, bukan terjadi seketika (instant) dan cuma-cuma.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 26, ’11
Anak muda (dan mungkin hampir semua yang materialistik ) mengukur kesuksesan dan keberuntungan atas dasar masukan pancaindra, sehingga yang berkelimpang harta, kedudukan, gelar, ketenaran……………… yang “terpancar” dari diri seseorang (individu atau golongan) menjadi ukuran keberuntungan atau sebaliknya kesulitan hidup dianggap penderitaan atau musibah. Jad”kenikmatan hiduplah” yang menjadi tolak ukur, bukan “kebahagian” seseorang yang hanya dapat “dirasakan” oleh individu yang bersangkutan.
Yang paling berbahaya adalah “keinginan serba instant”, sehingga menempuh segala cara. Ketidak sabaran dan ketidak uletan dalam memperoleh sesuatu akan menjauhkan seseorang dari rasa syukur atas kehidupannya, sehingga menimbulkan kekecewaan hingga putus asa, atau melakukan berbagai perbuatan untuk melepas kekecewaannya yang menjadikan lingkungan justru menjadi semakin tidak nyaman.
Keberuntungan atau kesuksesan seseorang seharusnya dapat ikut kita nikmati, sepanjang tak mencederai diri kita, jenis kita dan lingkungan kita. Seharusnya kita perlu belajar dari mereka yang sukses bukan yang beruntung. Banyak motivator yang dapat memberi motivasi, namun…………… kembali terpulang pada diri kita, ingin sukses atau ingin beruntung. Kalau ingin sukses ada tiga faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. a. Faktor y, atau faktor diri sendiri yang dapat kita peroleh dengan mengenali jati diri masing-masing b.. Faktor x atau faktor lingkungan dengan mengamati lingkungan kita hingga sanggup mencari celah-celah untuk mendapatkan kesempatan memanfaatkan lingkungan bagi usaha kita.. Fakot z tak dapat kita prediksikan, sehingga kita membutuhkan bimbingan makluk yang lebih cerdas dan lebih bijaksana dan memperoleh izin Nya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 26, ’11
Faktor y. Banyak living organisme terpaksa menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar dapat tetap bertahan hidup. Darwin tak sepenuhnya salah dengan Teori Evolusinya yang menyatakan adanya seleksi alam biologi. Darwin menganggap living organisme dari sisi organismenya, dia tak tahu bahwa living organisme merupakan interaksi vitalistik dari organisme dengan soul atau interaksi semi vitalistik dari organisme dengan spirit. Darwin juga tak tahu atau tak mau tahu adanya spirit yang bertubuh astral dan sanggup berkelana ke seluruh Alam Semesta tanpa memanfaatkan organisme maupun matter dan energi fisika.. Alam Semesta sangat luas, bumi hanyalah bagaikan debu, tetapi memiliki biosfera sehingga sangat langka. Organisme hanya mungkin terbentuk dibagian Alam Semesta yang memiliki biosfera. Bagian semacam ini tersebar disegenap penjuru Alam Semesta yang hanya mungkin terjangkau oleh kehidupan yang tak dibebani oleh massa. Menurut Teori Paralogika ada tujuh lapis kehidupan. Teori Paralogika merupakan pengembangan dari Teori Minimalis dan Teori Minimalis Plus. Ada tiga lapis kehidupan living organisme: Tumbuh-tumbuhan yang menetap disuatu tempat, Hewann sanggup berpindah tempat dibumi dengan berjalan atau yang sanggup terbang. Manusia sanggup memanfaatkan berbagi energi, terutama kemampuan memanfaatkan energi fisika, hingga manusia sanggup menciptakan alat bantu fisika dan mengembangkan Tehnologi yang berbasis energi fisika dan informasi yang berbasis energi non fisika yang ditunjang oleh tehnologi.
Manusia sanggup memanfaatkan energi fisika untuk mengarungi ruang angkasa berkat inspirasi yang didapatkan dari burung.
Tiap-tiap individu memilki jati diri masung-masing, namun terbagai atas dua jenis, yaitu WB dan RB.
WB akan dapat mencapai kebahagiaan hidup sementara maupun kebahagiaan abadi, sedang RW hanya mengejar kenikmatan sementara, namun juga sanggup melakukan reincarnasi sehingga dapat melakukan kehidupan berkesinambungan.
Mengenali jati diri sangat perlu sehingga dapat dikembangkan cita-cita atau idealisme. Tanpa cita-cita atau idealisme manusia tak ada bedanya dengan sekedar hidup, atau hidup asal-asalan.
Faktor x: Lingkungan hidup sangat menentukan kegagalan dan keberhasilan seseorang, juga menentukan keberuntungan dan musibah yang menimpa seseorang. Setiap individu living organisme merupakan bagian dari jenisnya dan merupakan bagian dari lingkungannya. Mereka yang ingin sukses harus memperhatikan lingkungannya, mencari kesempatan untuk memanfaatkan lingkungan untuk menunjang aktivitasnya. Jati diri seseorang sangat mempengaruhi dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang diperolehnya.
Faktor z: Tak seorangpun dapat memprediksikan massa depannya, namun dengan bekal consciousness sebenarnya ada makluk hidup yang lebih cerdas dan lebih bijaksana yang sanggup “membimbing” manusia. Tetapi harus diwaspadai, bahwa mereka dapat “membawa keberuntungan” atau sebaliknya “mendatangkan musibah” bagi diri kita. Mereka adalah ciptaan Tuhan YME, jadi janganlah disakralkan atau dikultuskan. Jati diri kita masih mungkin memilih antara yang menjanjikan kenikmatan sesaat atau kebahagiaan abadi.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s