Mengapa cpu lebih cepat mengeksekusi masukan ketimbang otak?

Pertanyaan: Menurut saya SBY sangat lamban dalam melakukan tindakan dibanding dengan JK. Jika saya bandingkan bagaikan kerja otak dengan kerja sebuah cpu.. Bagaimana tanggapan dan penjelasannya mengapa hal itu dapat terjadi?
Jawaban: cpu hanya memproses data-data rasionial sehingga IQ tinggi dan dapat  cepat dalam mengeksekusi masukan (yang rasional tetapi  akan menolak yang irrasional). Otak menjadi lambat karena bukan hanya memproses data yang rasional, tetapi juga termasuk yang irrasional.  Jika dinilai IQ nya saaja cpu lebih tinggi, tetapi tak memiliki EQ.  Jika komputer diprogram emosional maka akan memperlambat dalam mengeksekusi. Otak menerima masukan dari pancaindra yang reil dalam hubungan sosial, sehingga memiliki SQ. disamping IQ dan EQ.
Jika cpu harus mengolah berbagai masukan seperti otak, maka kecepatan dalam memutuskan mungkin akan menjadi lebih lambat. Tetapi jika masukan itu terintegrasi atau holistik melalui usb maka kecepatannya akan meningkat lagi.
Sebenarnya otak juga memiliki kemampuan menerima masukan yang terintegrasi, yaitu lewat kemampuan bawah sadarnya, tetapi  harus dipilah-pilah dulu, kemudian disatukan kembali agar dapaat diproses oleh otak.  Untuk ini dibutuhkan kemampuan paralogika positip.
Pengembangan intuisi dapat mempercepat kerja otak yang menerima masukan secara terintegrasi, karena otak langsung dapat memprosesnya tanpa dipilah-pilah dulu.
Intuisi dapat menjadikan kerja otak jauh lebih cepat dalam memutuskan untuk segera  mengambil keputusan untuk segera melakukan tindakan, (action) tetapi cenderung kurang cermat dan spekulaitf.
Nah: menurut saya JK kemampuan intuisinya tinggi sedangkan SBY (terkesan) lamban akibat masukannya tidak terintegrasi sehingga tergantung kemampuan paralogikanya. Kalau kemampuan paralogikanya positif biar alon dapat kelakon, tetapi jika kemampuan paralogikanya negatip……….. jadi kebingunan, bahkan berakibat gangguan kejiwaan.
Apakah JK dapat dianggap grusah-grusuh dan spekulatif  sedangkan SBY yang penuh berbagai pertimbangan akan menjadi sangat cermat.? Belum tentu, banyak faktor yang mempengaruhi,  misalnya penggunaan logika nyata nya. Logika nyata pengusaha memang harus spekulatif, berbeda dengan logika nyata  ilmuwan, misalnya dalam membuat reaktor nuklir harus mempertimbangkan berbasgai aspek. Lingkungan dan filosofi  juga sangat berpengaruh atas hasilnya. Sby mungkin masih menggunakan filosofi alon-alon……………. JK filosofinya, tak cepat  tak dapat. Yang alon-alon belum tentu cermat, yang cepat belum tentu dapat.
Hidup ini sangat komplek sehingga hurus disiasati agar kita dapat memperoleh yang kita inginkan, tanpa merugikan diri sendiri dan lingkungan kita.

tough2slf
tough2slf wrote on Jun 3, ’11

tak cepat tak dapat. Yang alon-alon belum tentu cermat, yang cepat belum tentu dapat.

1.SBJ berbintang Libra —-> timbang menimbang untuk dapat hasil terbaik—> bingung akhirnya
2.Anda terbiasa dengan sistim Komando —-> buntutnya Diktatur
3.Para Mentrinya dari berbagai Partai —-> buntutnya bisa Omdo … sesama partai saja berbeda pendapat…

Ingat penonton lebih pintar dari pemain ———-> dengar saja komentator sepak bola …Ruud Gullit saja bloon dibanding dengannya

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 3, ’11
SBY kompromis karena dikelilingi “nato” (………… talk only), JK intuisinya terlalu “tinggi” terkesan spekulatif .
SBY……ilmuwan ……………. JK ……..interpretner.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s