Mengapa Tuhan membiarkan ketidakadilan, kejahatan dll padahal Dia memiliki kemampuan untuk menghabisinya?

Pertanyaan: Apakah eyang percaya bahwa tuhan sanggup melakukan segalanya? Mengapa Dia membiarkan berlakunya ke tidak adilan, kejahatan dll padahal Dia jelas tak menyukainya.
Jawaban: harus dibedakan antara tuhan dan Tuhan YME. Saat ini suara rakyat saja dianggap suara tuhan, hingga dapat digunakan untuk memperoleh kedudukan sebagai penguasa, uang juga dipertuhan karena dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan kenikmatan hidup.
Baca Teori Paralogika:
1. Tuhan YME menyediakan segalanya, yang baik dan yang buruk, keberuntungan dan penderitaan, keadilan dan ketidak adilan, kejahatan dan kebaikan.
2. Tuhan YME memberikan kesadaran (consciousness) kepada setiap ciptaan Nya untuk mengurusi diri sendiri, jenis dan lingkungan masing-masing.
3. Tuhan YME memberikan pilihan untuk patuh kepada Nya atau menuruti kehendak sendiri namun segala akibatnya ditanggung oleh individu, jenis dan lingkungannya. Ini arrtinya setiap ciptaan Nya diberi kesempatan untuk melakukan reaksi atas perbuatan seseorang atau kelompok yang akibatnya  akan ikut dirasa oleh semuanya  jika ada yang melakukan perbuatan yang tak dikehendaki oleh jenis dan lingkungannya.  Atas dasar inilah maka manusia berusaha membuat hukum untuk mengatur masyarakat manusia dan lingkungannya. Baik atau buruk suatu lingkungan merupakan tanggung jawab yang ada dalam lingkungan itu.
4. Semua kebaikan dan kebobrokan adalah hasil ulah ciptaan Nya, namun pasti telah mendapat izin Nya. Izin ini diberikan justru agar manusia atau semua ciptaan Nya sanggup mengatur diri, jenis dan lingkungannya sebab akibatnya akan dirasakan oleh ciptaan Nya yang gagal dalam mengatur diri mereka.
Jadi………… agar adil maka manusia harus berani melawan ke tidak adilan. Agar dihormati, manusia harus berperilaku terhormat. Untuk menghilangkan  kejahatan manusia harus menyadarkan diri dan lingkungan bahwa kejahatan akan berakibat ketidak nyamanan hidup.
Sifat yang kurang baik adalah “mencari kambing hitam” dan tak berani bertanggung jawab atas setiap perbuatan masing-masing. Ada yang menjadikan iblis,setan dan sejenisnya, sebagai penjerumus dirinya, malah ada yang seperti cucu……………. meragukan  tuhan. (untung bukan Tuhan YME). Semoga cucu tak ragu lagi atas Keberadaan dan Kebesaran Nya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on May 17, ’11
Masing-masing ciptaan Tuhan YME disamping kesadaran dibekali “kelebihan dan kekuarangan.” sehingga berlakulah hukum “hum ping sud” : Kelingking kalah terhadap telunjuk, telunjuk kalah dengan jempol, jempol kalah dengan kelingking. Jadi sangatlah mustahil ada ciptaan Tuhan YME sanggup selalu menang dalam segala hal. Manusia sanggup mengalahkan harimau dan predator, tetapi…………. manusia dapat ditaklukan oleh virus. Spirit hanya mampu memanfaatkan trans energi, tetapi sanggup mengendalikan organisme yang sanggup memanfaatkan berbagai jenis energi. Tubuh manusia lemah namun sanggup mengalahkan virus maupun spirit karena diberi kemampuan berfikir dan berkeyakinan melebih living organisme maupun spirit.

tough2slf
tough2slf wrote on May 18, ’11
Baik atau buruk suatu gejala sesungguhnya hanya merupakan “hasil pikiran” anda …. belum tentu orang lain sependapat dengan anda
Lebih baik dianalisa kenapa gejala tersebut menurut anda baik/buruk dan setelah itu dikonfirmasikan dengan orang lain perihal “kebenaran” pemikiran yang selama ini dianggap benar
ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on May 21, ’11, edited on May 21, ’11
Baik dan buruk tak mungkin dibedakan jika Tuhan MYE tak memberikan kesadaran (consciousnes) kepada setiap ciptaan Nya.)
Karena Tuhan YME meberikan kesempatan untuk memilih,maka konsekwensi memilih adalah harus berani menanggung risikonya. Pilihan itu akan dirasa baik jika hasil/akibatnya seperti yang diinginkan oleh si pemilih, jika tak seperti yang diinginkan akan dirasa buruk.
Bertanggung jawab bukan berarti “menerima saja hasil pilihannya” tanpa berusaha merubahnya/mengoreksinya , lebih celaka lagi malah mencari kambing hitam, misalnya “mereka” yang ikut menentukan pilihan itu atau orang lain yang mempengaruhi dalam saat memilih. So Thinking before believing or doing is the way to reality.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s