Para Teroris akan naik ke sorga jika dunia jadi neraka.

Pertanyaan : Menurut eyang : Believe without thingking is the way to the heaven. Ini artinya eyang mengamini kalau mereka yang tercuci otaknya sehingga tak dapat berfikir lagi atau para teroris yang tertembak atau dihukum mati akan masuk ke sorga? Kalau demikian eyang setuju  dunia ini jadi neraka?
Jawaban: Cucu ini payah!  Jangan baca statement sepotong, melainkan harus keseluruhan. Itu sangat berbahaya.! Jika cucu seorang Muslim, jangan memotong statment:: “Tiada tuhan”, melainkan harus kompilit ; ” Tiada tuhan selain Allah!”
Statement eyang adalah : Believe without thinking is the way to the heaven, thnking before believing is the way to reality. Namun sebenarnya statement eyang ini terjadi dari dua frase sehingga  boleh saja dipisahkan, namun harus dibedakan menjadi dua statetment sebab yang menyatakan dua sumber (dua individu).
Guru spiritual eyang menyatakan : Believe without thinking is the way to the heaven. Sedangkan statement: Thinking before believing is the way to reality , sebagai statement pembandingnya, agar secara lengkap statement itu dapat dimanfaatkan sebagai petunjuk kemana arah yang akan kita tuju, akan mendapatkan kebahagiaan abadi atau akan mencari kenikmatan sesaat duniawi.. Kalau akan memperoleh keduanya ya silakan saja, asal jangan menjadi bingung untuk ingin  memperoleh secara serentak (sekaligus) apalagi instant.
Yang eyang pesankan: Silakan mencari sorga, namun jangan jadikan dunia  neraka, kecuali…………….jika  dunia ini dirasa sudah benar-benar jadi neraka, ini artinya sangat yakin meninggal(kan) dunia pasti masuk sorga.
Sejak semula  (baca tulisan-tulisan eyang sebelumnya) eyang menyatakan teror bukanlah sesuatu yang buruk, sepanjang digunakan secara benar. Di zaman penjajahan dulu para pejuang kemerdekaan menggunakan aksi teror untuk melawan penjajah, tetapi mereka (para pejuang kemerdekaan)  harus mencari simpati dari rakyat dan bangsa-bangsa lain, agar tujuan mereka dapat tercapai, yaitu merdeka yang artinya keluar dari neraka.
Teror artinya “menakut-nakuti, disisi lain ada “janji dan sikap manis” yang menyenangkan. Keduanya merupakan strategi untuk memenangkan  suatu “perjuangan” dalam mencapai tujuan.. Keduanya ibarat pisau bermata dua yang jika digunakan secara benar akan sangat bermanfaat, jika keliru akan sangat berbahaya dan dapat menjadi bumerang bagi yang menggunakannya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on May 19, ’11, edited on Feb 17
Hati-hati cucu kalau dikaruniai anak, kalau cucu terbiasa menakurt-nakuti (menteror) anak atau menjanjikan sesuatu yang sangat menyenangkan (iming-iming) kepada mereka, maka janganlah menyalahkan mereka jika menjadi “penakut” karena anda berhasil menterornya dan sebalinya jika cucu gagal melakukan teror terhadap mereka maka justru mereka menjadi sangat berani tanpa difikirkan akibatnya, karena mereka butuh bukti dari teror yang cucu lakukan. Sebaliknya janji yang tak pernah cucu penuhi (janji kosong) akan menjadikan mereka tak mempercayai cucu., akibatnya mereka lebih mempercayai orang lain atau tak percaya kepada siapapun.
Sebagai orang tua atau pendidik sebenarnya leluhur kita telah memberikan pentunjuk (bukan teror atau janji) : Ing ngarso asung tulada, ing madia mbangun karso, tut wuri handahani. Celakanya: ada yang mengatakan bahwa petunjuk ini merupakan virus yang berasal dari kaum Yahudi yang harus dikafirkan, sehingga harus distirilkan dan disisakan ekornya: tut wuri handayani (Mungkin karena orang tua/pendidik memang tak pantas lagi untuk menjadi suri tauladan dan ing madia memberi nafkah dengan menghalalkan segala cara).
Bagi eyang: Makna sebuah informasi bukan dari mana asalnya, tetapi kita butuhkan atau tidak. Ada ungkapan: Carilah ilmu sampai kenegeri Cina. Itulah sebabnya jika ingin memanfaatkan suatu informasi: fikirkan manfaatnya bukan dari mana datangnya, agar kita tak terperangah pada kenyataan yang terjadi akibat sekedar ikut-ikutan.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s