Teori Som Wyn versus teori Hawking.

Pertanyaan: Ilmuwan Stephen Hawking mendapat kecaman dari para pemuka  agama karena membuat “teori” yang sangat kontroversial yang menyatakan bahwa Tuhan tak mencampuri urusan alam semesta. Bagaimana pendapat eyang?
Jawaban: Hawking memang sangat “luar biasa”, dahulu dia menjadi “idola” karena menyatakan bahwa Blackhole dapat menjadi jalan menuju ke alam semesta yang lain sehingga teorinya dijadikan bahan penulisan fiksi yang sangat laris, mendatangkan rezki/manfaat luar biasa bagi pengguna teorinya.
Teori itu kemudian dikoreksi dengan menyatakan bahwa tak ada alam semesta yang lain, semua yang terisap oleh Blackhole akan dikermbalikan ke alam semesta yang sama dalam ujud radiasi Hawking. Teori ini tak begitu laku, maka dia “membuat teori lain” yang menyatakan bahwa Tuhan tak mencampuri urusan alam semesta. Agaknya dia ingin melakukan sesuatu “yang lain dari yang lain”  agar teorinya laku dan  bermanfaat/memberi rezki pada mereka yang menggunakan kesempartan dalam kesempitan dengan cara “mendiskriditkan” agama.
Eyang sangat mengenal kelihaian Hawking sehingga harus disikapi dengan hati-hati, tak terpancing oleh “akal bulusnya.” Saat dia menyatakan bahwa Bigbang merupakan awal terjadinya alam semesta, dimanfaatkan oleh berbagai agama  sebagai bukti bahwa alam semesta diciptakan oleg Tuhan. Paus Paulus 2 mengumpulkan para ilmuwan agar tak mengungkapkan fenomena sebelum Bigbang,.
Saat eyang mempostet Teori Minimalis yang mengungkap fenomena sebelum Bigbang, banyak yang “mengkomplin” karena dianggap  menentang “teori penciptaan”.Sedemikian kuatnya “keinginan”  untuk membuktikan bahwa Tuhan menciptakan alam maka Bigbang dijadikan bukti bahwa alam semesta memang diciptakan oleh Tuhan YME.
Eyang terpojokkan dan hampir saja menarik tulisan-tulisan eyang.Tiba-tiba Hawking meralat teorinya dan secara “kebetulan” eyang dapat menjelaskan Teori Minimalis dengan Formula Supernatural Modern sehingga TM yang tadinya hanya dimaksudkan untuk menjelaskan Fiksi Blackhole malah mendapat tanggapan ( positip atau  nergatif) sehingga eyang kembangkan Teori Minimalis dengan payung Teori Informatika mengenai  Evolusi dan Revolusi Alam Semesta, sekaligus “meredakan”  amarah manusia, terutama yang religius terhadap Teori Evolusi Darwin, sedangkan untuk  “mengikis” atheisme eyang mengembangkannya menjadi  Teori Som Wyn atau Teori Paralogika.
Teori Som Wyn menyatakan:
1. Tuhan YME menyediakan segalanya.
2. Tuhan YME memberikan bekal  kepada setiap ciptaan Nya kesadaran (consciousness) untuk mengatur diri, jenis dan lingkungan masing-masing.
3. Tuhan YME memberikan kesempatan untuk memilih patuh pada Nya atau menuruti keinginan sendiri. Semua ulah dan perbuatan individu, jenis atau kelompok akan dirasakan oleh lingkungannya termasuk semua yang ada dalam lingkungan tersebut. Jadi setiap individu, jenis atau kelompok berhak dan berkewajiban untuk memelihara lingkungannya. Itulah sebabnya masing-masing ciptaan Nya (termasuk manusia) membuat norma atau hukum untuk mengatur/menjaga “masyarakatnya”, diantaranya adalah hukum rimba, hukum fisika, hukum ekosystem biologi, budaya manusia dll.
4. Semua yang terjadi adalah ulah ciptaanNya, namun hanya mungkin terjadi jika diizinkan Nya.
5. Izin itu diberikan justru agar ciptaan Nya tak menyia-nyiakan yang tersedia di alam semesta serta memanfaatkan karunia yang sangat berharga, yaitu kesadaran akan eksistansi dan esensinya masing-masing.. Individu yang menyia-nyiakan  karunia Nya (yang disesdiakan oleh Nya maupun kesadaran diri  akan eksisitensi dan esensinya akan berimbas atau menjadi beban lingkungan, sebaliknya kebobrokan lingkungan akan ditanggung akibatnya oleh seluruh penghuninya. Ini tak bertentangan dengan hukum Ekologi Universe.
Menurut TM sebelum menciptakan alam semesta Tuhan YME telah merencanakannya dengan saksama serta menyertakan hukum yang akan mengaturnya, yaitu hukum Ekologi Universe. Cukup dengan satu sentuhan awal (trigger) semua berjalan sesuai dengan rencananya. Jadi mekanisme pengaturan alam semesta sudah disertakan secara sempurna pada saat alam semesta diciptakan.Alam semesta sendiri tidak abadi, selalu berubah karena diberikan dimensi waktu sebagai satu bagian dari Hukum Ekologi Universe. Alam Semesta sebagai rumah akan selalu menyesuaikan diri dengan isinya/penghuninya, demikian juga isinya harus menyesuaikan diri dengan “rumahnya”agar tetap merasa nyaman. Alam semesta dan isinya  berkembang secara evolusi maupun revolusi.Itulah sebabnya TM menginformasikan adanya energi semu yang belum membutuhkan ruang nyata dan energi nyata yang sanggup merubah ruang semu  menjadi ruang nyata sekaligus memerlukan ruang nyata. Di alam semesta ini berlaku kekekalan energi karena energi tak mungkin keluar masuk “tabir” pemisah antara alam abadi dengan alam semesta, yang dapat keluar masuk alam semesta adalah yang bukan energi, diantaranya dinamakan soul (z).

Seandainya Hawking membaca tulisan ini mungkin dia dapat mengkritisi  kebenaran atau kebohongan  Teori Minimalis dan Teori Som Wyn, sebaliknya sebagai ilmuwan seharusnya setiap pengambilan kesimpulan harus memiliki argumentasi.
“Argumentasi apa yang digunakan untuk membuktikan bahwa Tuhan tak mencampuri urusan alam semesta?”

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on May 22, ’11
Yang perlu dipertanyakan apakah yang dimaksud oleh Hawking dengan tuhan? Kalau tuhan yang setiap saat mengatur dan memaksakan kehendaknya sehingga mengekang kebebasan berfikir manusia, termasuk Hawking, maka jelas bukan Tuhan YME seperti yang dinyatakan oleh Teori Paralogika.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on May 22, ’11, edited on May 22, ’11
Agar tidak terombang-ambing oleh teori Hawking maupun teori Som Wyn, cobalah jawab:
1. Siapa yang menyediakan semua yang ada di alam semesta?
2. Mengapa alam semesta berlaku cosmos (teratur).?Siapa atau apa yang “mengatur”, hingga dapat teratur.
3. Apakah cucu boleh berfikir, bekeyakinan dan berbuat sekehendak hati tanpa mendapatkan sangsi atau reaksi dari lingkungan cucu? Ataukah tiba-tiba cucu segera berubah jadi patung batu agar tak dapat berbuat sesuatu, dan tak dapat berfikir lagi ?
4. Jangan ragu berfikir, berkeyakinan dan berbuat sejalan dengan kebutuhan lingkungan atau membuat lingkungan menjadi baik sehingga mendapatkan dukungan dari lingkungan. Kalau cucu sudah gila, barulah dapat terbebas dari pengaruh lingkungan, tetapi justru menjadikan masalah bagi lingkungan, tetapi siapakah yang memilih gila dari waras?
ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 13, ’11
Ada yang bertanya kepada saya: Mengapa sering kali terjadi benturan, padahal menurut Teori Som Wyn Tuhan YME telah memberikan kesadaran untuk mengurusi diri masing-masing?
Jawaban saya : Seandainya semuanya diatur oleh Tuhan YME (bukan atas ulah masing-masing ciptaan Nya) atau semua patuh kepada Nya, maka tak mungkin terjadi benturan satu dengan yang lainnya. Benturan itu terjadi karena masing-masing punya kepentingan atau menuruti kehendak sendiri dan Tuhan YME mengizinkan untuk terjadinya benturan.
Mengapa diizinkan? Supaya ciptaan Nya semakin sadar akan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan, bukan hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri,jenis/kelompoknya
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s