Manusia boleh membuat rencana,namun hanya akan terujud saat Tuhan YME mengizinkan. .

Tulisan ini merupakan catatan yang pantas kumasukkan dalam Stph.

Kami sembilan bersaudara (baca Stph). Tiga hari yang lalu mas Goen “telah diizinkan” oleh Tuhan YME untuk :berganti kehidupan, meninggalkan “kehidupan nyata” untuk melanjutkan ke “kehidupan yang kita semua tak mungkin mengetahuinya”. Kini tinggal “sepasang”, yaitu aku dan mbak Mi (baca Stph).
Mas Goen tinggal di Malang bersama Lisa, putri nya.  Isterinya, adik mas Suntoro (ayah tiri Obama), meninggal di Mekah saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan disana. Beberapa bulan yang lalu, Indra, anak lelakinya telah mendahuluinya. Anak sulung mas Goen. Anggie, meninggal saat masih bayi akibat kelainan jantung.
Walaupun pernah menjabat kedudukan tinggi di Bank Indonesia,  kehidupan beliau sangat sederhana, namun beliau  merupakan satu-satunya saudaraku yang berhasil menyelesaikan studinya hingga menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Gelar ini dicapai sambil menjalankan tugasnya sebagai orang penting di Bank Indinesia.
Waktu muda beliau sangat pemberani dan tergolong “petualang”. Aku ingat dahulu bersama teman mas Mun, TRIP,  sering “bermain main”  senjata automaitis.Senjata itu ditinggalkan karena mbak Is (isteri mas Man) tak setuju mas Goen berprofesi militer.
Mas Goen  pernah “dibakar api dendam” akibat mas Man difitnah oleh sekelompok orang berduit, sehingga berujar: “Jika aku memegang senjata lagi, yang akan kulakukan adalah menembak .H.J., seorang “klongomerat” yang merupakan musuh bebuyutan mas Man. Menurut mas Goen, klongomerat” itu  mendalangi  “tewasnya Anang dan Mas Man” serta  memfitnahnya dengan menyebarkan isue yang menyatakan mas Man yang mantan  kepala buruh GKBI  “menghilang” saat terjadinya Peristiwa 31 September walau  kenyataannya mas Man telah meninggal sebelum peristiwa itu terjadi.
Mas Goen punya rencana yang terkait dengan rasa dendam, tetapi………….. Tuhan YME tak mengizinkan, malah Tuhan YME diberikan kesadaran sehingga mas Goen pada hari tuanya menjadi seorang alim dan membuktikan dengan menunaikan ibadah Haji bersama isterinya  ( “tantenya Obama”.).
Saat akan menunaikan ibadah haji, mas Gun sakit sehingga barus melakukan operasi. Mbak Gie dalam keadaan sehat wal afiat.
Mas Goen  sangat mencintai isterinya dan cenderung menjadi bayangan isterinya. Mas Goen yang saat mudanya sangat tegar menjadi teramat rapuh dan bagaikan seorang anak manja. Itulah sebabnya saat aku mendengar mbak Ogie meninggal dan dimakamkan di Mekah, aku sangat khawatir kakakku itu tak akan sanggup kembali ke Tanah Air dan akan memilih tetap mendampingi isterinya. Kenyataannya beliau “rela” meninggalkan isterinya di Tanah Suci untuk memulai hidup dalam kenyataan.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 31, ’11
Wati, putri mbak Mi yang tinggal di Siliran Kidul menelponku tentang rencana pemakaman mas Goen di Yogya, aku diminta tabah dan tenang, sebab semua akan ditangani oleh kemenakan-kemenakanku yang tinggal di Yogya. Jenazah akan tiba di Yogya sekitar pukul tiga siang, di solatkan di rumah pusaka, Siliran Lor 29 untuk kemudian dimakamkan di Makam Trah Noto Gendewo di Gambiran.
Aku kehilangan mas Goen, namun aku justru bersyukur karena Tuhan YME telah mengizinkan “rencananya” untuk “menyusul” mereka yang telah mendahuluinya. Yang menjadikan pedih adalah “keluhan” mbak Mi yang menyatakan kini tinggal kami berdua, semua telah tiada, demikian juga Liza telah ditinggalkan orang-orang yang teramat dicintai “seorang diri”. Kukatakan: bahwa masih banyak yang lain dan kami seharusnya bersyukur sebab Tuhan YME telah memberikan kesempatan mas Goen kembali dari ibadahnya beberaoa tahun yang lalu sehingga dapat berkumpul dengan orang-arang yang dicintainya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 2, ’11, edited on Aug 2, ’11
Yulisa, Findi, Athor dan bu Ali Effendi (mertua Yulia) tiga hari sebelum mas Goen wafat sedang di Jogya karena saat lebaran nanti mereka harus mengurusi rumah tangga dan usahanya, karena para pembantu dan pegawainya cuti berlebaran.
Pukul 13.30 kami datang di Siliran 29. Kursi telah tertata rapi dinaungi deklit. Lantai Pendopo dan Gandok Muka dialasi tikar dan karpet. Kemenakan-kemenakan sibuk dengan urusan masing-masing.
Kedatangan kami disambut dengan suasana sedih. Aku dibimbing masuk ke Pendopo, yang lain duduk dikursi yang telah tersedia.
“Mas Som, maaf,” kata Ito, suami kemenakanku, menyambut kedatanganku,” nanti jenazah mas Goen kami solatkan di Pendobo, karena nDalem dipakai untuk menyimpan barang-barang mas Bambang. Pintu besar nDalem terbuka, tetapi pintu pendeknya tertutup sehingga aku dapat menyaksikan ruangan nDalem yang memang terisi barang-barang berharga/spiritual.
“Itu lebih baik, sebab Pendopo lebih luas dan terang.”
Aku bersyukur Pendopo telah dipugar oleh kemenakan-kemenakanku, putri mas Man yang sepenuhnya didukung oleh para suaminya. Dahulu yang diserahi merawat adalah mas Djajadi, adik mbak Is. Setelah beliau wafat rumah pusaka dirawat oleh kemenakan-kemenakanku yang di Yogya.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s