Teori Gelombang Minimalis melengkapi Teori Gelombang Fisika.

Pertanyaan: Eyang menyatakan EMW berbeda dengan STW. Dapatkah eyang menjelaskan lebih rinci terjadinya EMW dan STW?
Jawaban: EMW merupakan interaksi gelombang magnet dan gelombang listrik, maka dinamakan Gelombang Elektro Magnet.
1.Dalam pelajaran Fisika: Medan listrik hanya akan terjadi jika terjadi perubahan medan magnet. Ini dapat dibuktikan dengan selenoida, jika pada lilitan kawat penghantar  diimbaskan medan magnet tetap (misalnya dengan mendekatkan atau memasukan magnet permanen) maka setelah keadaannya stationer (tak perjadi perubahan medan magnet), maka tak akan terjadi arus listrik. Ini membuktikan medan magnet tetap tak menimbulkan medan listrik sehingga tak terjadi aliran elektron pada rangkaian selenoida yang dalam keadaan tertutup. Jika magnet ditarik keluar atau dijauhkan dari selenoid maka terjadilah arus listrik hingga medan magnet menjadi tetap lagi. Setelah medan magnet tak berubah, maka arus elektron akan berhenti. Kesimpulan: medan listrik hanya terjadi saat medan magnet berubah. Dalam fisika dinyatakan ggl atau tegangan listrik adalah turunan ke satu (derefatif) ke satu dari medan magnet ggl = E = dH/dt, dimana E = medan listrik H = medan magnet t= waktu perubahan H mendekati nol. Jika medan magnet merupakan fungsi  dasar sinosoidal maka medan listrik yang timbul juga merupakan fungsi dasar sinusoidal dengan selisih fase 90 derajat..
Dalam percobaan berikutnya: Jika pada selenoid dialirkan arus bolak balik sinusoidal, maka medan magnet yang ditimbulkan juga berupa medan magnet sinusoidal dengan selisih fasa 90 derajat.
Jika freqensi cukup tinggi dan arus cukup kuat, selenoid yang dialiri arus listrik bolak balik sinusoidal akan membangkitkan EMW. EMW dapat merambat diruangan hampa materi, sehingga menjadikan pertanyaan medium apa yang menghantar EMW diruangan hampa?
Dahulu ada teori eter sehingga dianggap  yang menghantar EMW adalah eter. Teori ini ditinggalkan karena keberadaan eter tak dapat dibuktikan secara eksperimental, sehingga timbulah teori gelombang yang berbasis Mekanika Quantum. Dengan teori gelombang terjadi keanehan, sebab ternyata gerakan EMW berdampingan atau menyatu dengan aliran photon. Terjadinya photon tak dijelaskan, namun timbul teori yang menyatakan EMW, misalnya cahaya, memiliki sifat mendua (ambigus), disatu sisi berujut gelombang EMW disisi lain merupakan aliran photon.
Fisika mengenal massa, tetapi tak menjelaskan mengapa massa dapat terjadi dan dari mana timbulnya photon juga menjadi teka-teki. Timbulah Teori Relativitas yang “sanggup” menjelaskan terjadinya massa, namun Teori ini tak sejalan dengan Mekanika Quantum. Para ilmuwan berusaha mempertemukan Teori Relativitas dengan Mekanika Quantum. Penyatuan ini diharapkan dapat mewujutkan Theory of Everything. Ada dua kemungkinan untuk mendapatkan ToE, lewat Teori Baku  yang berdasar eksperimen atau Fisika Terapan dan Teori Dawai berdasar Fisika Teori. Ada beberaoa Teori Dawai yang sangat  berlainan tetapi dapat menjelaskan dimensi Alam Semesta, sehingga berkembanglah Teori Membrane. Teori Membran menyatakan bahwa Alam Semesta memiliki 11 dimensi. Silakan pelajari T-M.
2. Ketika eyang menulis Fiksi Blackhole yang berlatar belakang Abad ke 30, banyak yang menyatakan sulit mengerti alur ceritera Fiksi Blackhole, sehingga eyang membuat Teori Minimalis untuk menjelaskannya.  Dalam kondisi bawah sadar  eyang “mendapatkan” Formula E = – x + y. Formula itu eyang namakan Fortmula Supernatural Modern seperti yang eyang gambarkan pada fiksi Blckhole tentang adanya sebuah formula  yang sangat sulit dimengerti yang dinamakan Formula Supernatural Modern.
Dengan mengkotak-katik  FSM  dengan pengetahuan fisika konvensional dan mathematika konvensional yang sangat minimal ternyata FSM dapat membantu eyang menjelaskan TM secara gamblang.
Dengan TM dan TM plus eyang dapat membuat berbagai teori turunannya, Misalnya Teori Paralogika (Teori Som Wyn) ,Teori  Quantum Eteric, Teori Revolusi Som Wyn,  yang terakhir adalah  Model Atom Minimalis.
Pertanyaan cucu yang ingin mendapat penjelasan secara rinci mengenai perbedaan antara EMW dengan STW serta bagaimana terjadinya kedua gelombang itu menggelitik eyang untuk membuat Teori Gelombang Minimalis.
Bagi yang ingin mendalami TM dan TGM silakan mengikuti uraian yang akan eyang sampaikan secara bertahap.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Sep 4, ’11, edited on Nov 13, ’11
TM membagi Alam Semesta menjadi:
1. Sub Alam gaib dimana terdawat dawai energi gaib x=c1F1(t), gelombang gaib atau bright wave x=a1sin (u1 + w1t). dan rantai tertutup (x) atau body gaib (x).
2. Sub Alam metafisika dimana terdapat dawai metafisika y=c2F2(t), gelombang enegi metafisika y= a2sin (u2 + w2t) dan rantai tertutup atau body metafisika (y).
3. Sub Alam Transien dimana terdapat dawai energi transien E= -x + y atau e=c4F4(t), gelombang transien e=a4sin (u4 + w4t) dan rantai tertutup atau body transien (e).
4. Sub Alam Fisika dimana terdapat dawai energi fisika q = m*c^2 atau q=c5F5(t), gelombang kutub magnet s=a6sin (u6 + w6t) dan gelombang kutub magnet u=a7sin (u7 + w7t), rantai tertutup atau clear body (q).

Gelombang kutub maqnet atau getaran kutub magnet ini disebut Gelombang Magnet Minimalis (GMM) yang menimbulkan Medan/gelombang Listrik Minimalis (GLM) yang merupakan EMW Minimalis yang dalam Sub Alam Fisika merupakan EWW fisika. Jadi ada dua GMM, yaitu GMMs (getaran x) dan GMMu (getaran y) yang menyebabkan adanya dua EMW Minimalis, yaitu EMWs (EMWx) dan EMWu.(EMWu).
Interferensi kedua GMM (bukan EMW) ini akan membangkitkan photon jika amlitudonya a6 + a7 < E. Jika a6 + a7 > E maka tak akan timbul photon.
GMM yang membangkitkan photon dinamakan STW (Symmetrical Trans Wave) sedangkan yang tak menimbulkan photon dinamakan Asymmetrical Trans Wave.
TGM dapat menjelaskan terjadinya photon yaitu saat GMMs dan GMMu saling “meniadakan” satu dengan yang lain sehingga x=y=q atau kondisi saat GMM nengalami fasa nol. Hal ini dapat dijelaskan oleh FSM E= -x + y, saat x=y=g maka terjadilah massa yang berupa photon.
Dengan TGM dapat diinformasikan mengapa aliran photon kecepatannya sama dengan EMW. Juga diinformasikan bahwa EMW tak bersifat ambigus melainkan berupa gelombang murni , photon dibangkitkan oleh STW yang kecepatannya sama dengan EMW. Photon tak akan timbul pada EMW yang dibangkitkan oleh ATW. Dalam hal ini kecepatan EMW dapat melebihi c (kecepatan cahaya berdasar Fisika.)
Jadi TM menginformasikan adanya EMW (termasuk cahaya )yang kecepatannya melebihi c., namun EMW ini merupakan fenomena Sub Alam Transien.
Ada jenis cahaya lain yang kecepatannya melebihi c dan juga melebihi ATW, yaitu cahaya gaib atau cahaya Ilahi sehingga manusia dapat mengakses Alam Abadi lewat kemampuan bathiniah.
Gelombang fikiran sedikit lambat dari cahaya Ilahi, sehingga hanya sanggup mengakses seluruh Alam Semesta lewat fikiran.
Getombang transien yang dapat terakses lewat kemampuan bawah sadar atau kemampuan paralogika (misalnya angan angan dan mimpi) sangat bervariasi kecepatannya, merupakan spektrum sebagai halnya cahaya fisika yang kecepatannya di Sub Alam Fisika atau ruang nyata yang terisi materi selalu dibawah c Cahaya transien kecepatannya diatas c, terdiri dari cahaya rasional dan cahaya irrasional. Cahaya rasional kecepatannya lebih rendah dari cahaya irrasional.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Sep 5, ’11
Gelombang adalah getaran energi (atau energi yang berubah jenis atau intensitasnya dengan sangat cepat terdiri dari gelombang dasar sinusoidal. Sifatnya dapat saling berinterferensi atau membentuk gelombang campuran. Gelombang dapat merambat melalui media tertentu, misalnya quanta (q) , quantum q, eter (e) , eteric e, quantum eteric {(q)*(e)},dan anti mater {(q)+(e)} , atau body gaib (x) atau energi gaib x, body matafisika (y) atau energi metafisika y tergantung dari jenis gelombangnya Perpindahan itu berlaku di Sub Alam Masing-masing, misalnya EMW Fisika terjadi di Sub Alam Fisika, EMW Minimalis terjadi di Sub Alam Transien, STW juga terjadi di Sub Alam Transien namun saat phasenya 0 membangkitkan photon yang masuk ke Sub Alam Fisika karena E nya=0. Diruangan hampa materi atau ruangan semu photon akan segera lenyap, tetapi diruangan nyata yang terisi materi photon akan berinteraksi dengan quantum eteruic..

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Sep 26, ’11
Tiap gelombang memiliki frequensi tertentu yang sangat eret kaitannya dengan jenis energi yang bergetar. Semakin besar variable energinya semakin turun frequensinya, demikian juga semakin mendekati titik keseimbangan E=0 semakin rendah frequnesinya. Dengan informasi ini dapat diduga frequensi gelombang partikel fisika yang Enya=0(misalnya gelombang suara) akan lebih rendah dari EMW yang hanya menghasilkan photon saat E=0 kemudian lenyap diruangan hampa. EMW yang tak menghasilkan photon karena dibangkitkan oleh ATW frequensinya lebih tinggi dari yang mengahasilkan photon karena dibangkitkan oleh STW. Gelombang gaib dengan x lebih besar frequensinya akan merendah, demikian juga gelombang fikiran dengan y lebih besar frequensinya akan merendah. Gelombang cosmos memiliki frequensi paling tinggi dibanding EMW lainnya yang dibangkitkan oleh STW, tetapi lebih rendah dari yang dihasilkan oleh ATW.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 7
TGM hanya membedakan andanya STW (yang membangkitkan quantum atau photon) dan ATW (yang tak menimbulkan quantum maupun photon, tetapi merupakan Gelombang Eter atau Selombang Eteric. TGM tak dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena partikel yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya, misalnya neutrino.
Terakhir untuk menjelaskan fenomena yang tak mematuhi hukum relativitas, eyang membuat Formula Gelombang Som Wyn (FGSW). Gelombang Som Wyn adalah campuran STW dan ATW, sehingga kecepatannya lebih tinggi dari STW, tetapi lebih rendah dari ATW. Keistimewaannya dapat membangkitkan partikel yang dapat terakses oleh peralatan fisika canggih.
Formula Gelombang Som Wyn merupakan perkembangan dari TGM. Pada TGM E merupakan sebuah konstanta yang tak bergantung dimensi waktu, manusia hanya dapat memberikan nilai matematisnya, nilai yang sesungguhnya hanya Tuhan YME yang sanggup merubahnya.
Sebagai halnya saya menginformasikan x=F1(t) dan y=F2(t), pada TGSW saya menginformasikan E=F3(t), sehingga terbentuklah FGSW sebagai F3(t) = – F1(t) + F2(t), fungsi dasar sinosoidalnya adalah a3.sin(u3 +w3t) = – a1.sin(u1 +w1t) + a2.sin(u2 + w2t) .
Ingin mengerti lebih lanjut: buka Gelombang Som Wyn, atau tulisan berjudul : Mangapa nuetrino dapat bergerak melebihi kecepatan photon.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s