TUT WURI HANGGROGOTI

Pertanyaan: Eyang menginginkan moto pendidikan dikembalikan pada: Ing ngarso asung tulada, ing madya mbangun karso, tut wuri handayani. Itu tak mungkin, sebab sekarang ini para penguasa, termasuk pendidik merasa tak pantas untuk menjadi tauladan, mereka tak berkarya demi kepentingan rakyat dan anak didik  melainkan untuk diri sendiri dan kelompoknya, memberikan nafkah pada anaknya dengan rezki kotor, bahkan jika dibelakang tak lagi mengawasi hingga bawahan segan  melakukan perbuatan tercela, melainkan membiartkan bawahanbertindak tercela dan mengharapkan mendapatkan manfaat dari situasi buruk itu. dengan menutupinya.
Satu contoh adalah kasus sontek masal yang dengan cepat direspon pak Mentrdengan menyatakan “tak ada sontek masa” dengan argumentasi sangat tak masuk akal:
1. Dikatakan bahwa penyelenggaraan ujian dilakukan dengan pengawasan silang. Ini tak menjamin tak terjadinya kecurangan, sebab saat ini bukan rahasia lagi adanya kejahatan yang dilakukan secara berjemaah.
2. Telah dilakukan pemeriksaan ulang hasil pekerjaan peserta yang dicurigai melakukan contek masal dengan memberntuk “tim ahli” yang nota bene mereka yang dianggap ahli, namun memiliki kepentingan tertentu sehingga  mungkin melakukan kejahatan berjemaah.
3. Saat ini telah terjadi krisis kepercayaan kepada para penguasa dan kroninya, jadi rakyat tak akan mungkin dikibuli oleh akal-akalan para penguasa.

Saya sependapat dengan eyang Ibnu, agar hasil pemriksaan terhadap hasil yang dicurigai contek masal itu  dapat dipercaya oleh rakyat maka hasil kerja peserta ujian yang dicurigai terjadinya contek masal itu dilakukan  bukan oleh kroni penguasa, betapapun mereka termasuk para ahli,  melainkan dilakukan oleh : orang tua murid, mas media, masyarakat awam dan Komisi Perlindungan Anak, bukan seperti yang dilakukan secara sembunyi tangan oleh kroni penguasa. Jika hal ini tak dilakukan, artinya…………… menteri nya menyembunyikan borok, melindungi anak buahnya. Kalau menteri pendidikan sudah tak jujur, mana mungkin bawahannya segan untuk bertindak tak jujur. Kalau para pendidik, termasuk gurun sudah berlaku tak jujur……………… mana mungkin menghasilkan generasi yang jujur. Benar eyang Ibnu: Tak ada manfaatnya menjadikan anak didik cerdas dan terampil jika tidak jujur. Kalau menteri sampai dengan guru sudah tak jujur, itu pendidikan sudah digerogoti oleh para guru sampai dengan menterinya, akan lebih baik Logo Pendidikan dikoreksi menjadi : Tut wuri hanggerogoti.

Jawaban: Benar sekali, eyang tak perlu mengomentari, Biarlah para pembaca yang menilai. Eyang perlu mempertanggung jawabkan “manipulasi: nilai eptanas” di SMA Negeri Makassar menjelang berakhirnya Orde Lama. Semua dilakukann karena “keterpaksaan”  untuk menegakkan keadilan dalam  sistim pendidikan nasional dan lokal  agar tak mendorong melakukan kecurangan seperti yang kini banyak terjadi Waktu itu panitia ujian bukan mengajari peserta untuk berbuat curang, melainkan memberikan tambahan nilai, sebab hasil yang buruk dari eptanas saat itu ditempat itu  bukan kesalahan para peserta ujian melainkan karena ketidak adilah dengan diberlakukan Eptanas yang sesuai dengan standard nasional, pada hal kami belum sanggup memberikan bekal kepada murid kami akibat keterbatasan kondisi pendidikan setempat.
Saya tak tahu apakah ketimpangan dalam sistem pendidikan nasional masih berlaku hingga saat ini? Jika memang demikian sebaiknya Eptanas di uji ulang agar tak lagi dorongan untuk melakukan kecurangan. Kecurangan akan berkurang jika penguasa turun kelapangan untuk melihat kenyataan, bukan hanya bekerja dibelakang meja pemerintahan pusat.

sudarjanto
sudarjanto wrote on Jun 16, ’11
Tak bisa disalahkan karena guru dituntut murid harus lulus 100% agar nilai kreditasinya naik,jadi bukan tingginya kwalitas murid yang lulus,disamping itu rakyat juga melihat ketidak jujuran sampai ketingkat tertinggi negeri ini malah merekalah yang menikmati kemewahan,Jaman Bung Karno idealisme dan kejujuran masih sangat berharga berpedoman pada Pemimpin,dan sekarang kepemimpinan seperti itu tidak ada lagi.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s