Apakah cahaya dapat bertabrakan?

Pertanyaan: Eyang Ibnu menyatakan bahwa photon memiliki massa sehingga membutuhkan ruangan nyata, ini artinya cahaya dapat bertabrakan. Benarkah demikian?

 
Jawaban: Jangan dicampur adukkan antara Fisika dan Teori Minimalis.
Menurut Fisika cahaya memiliki sifat mendua, disatu sisi gelombang elektro magnet, disisi lain merupakan aliran photon. Kecepatan photon = kecepatan cahaya. Jika photon memiliki massa maka sesuai dengan Formula Relativitas massanya akan bertambah hingga  sangat besar, kenyataannya tak demikian. Agar tak menyalahi Teori Relativitas maka  photon “dipaksakan” untuk tak boleh memiliki massa. Eyang pernah membaca lewat Wikipedia, menurut hasil researh terakhir dapat diketahui photon memiliki “ukuran”/dimensi ruang, walau tak dinyatakan memiliki massa.
Menurut Teori Minimalis cahaya merupakan fenomena transien yaitu gelombang  transien x dan y yang diikuti oleh gelombang elektro magnet. Gelombang eter (gelombang x dan y)  tak terdeteksi oleh pancaindra maupun peralatan fisika, sedangkan gelombang Elektro Magnet (interaksi elektro magnet)  dapat terdeteksi.
Menurut Fisika energi cahaya  tidak kontinyu/malar melainkan diskrit (melompat-lompat) tetapi tak dijelaskan mengapa demikian. Teori Minimalis melalui Teori Gelombang Minimalis ( TGM) berusaha menjelaskan mengapa energi cahaya berlaku demikian.
Silakan baca: Teori Gelombang Minimalis yang menjelaskan mengapa energi cahya bersifat diskrit.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 15
Menurut Fisika cahaya mempunyai sifat mendua, disatu sisi bersifat gelombang elekto magnet, disisi lain aliran photon. Jika photon merupakan partikel yang membutuhkan ruangan nyata maka jika bergerak pada lintasan yang sama dengan arah berlawanan maka mungkin sekali bertabrakan. Untuk membuktikan fenomena tabrakan antar cahaya/photon dapat digunakan sinar laser.
Jika ternyata tak terjadi tabrakan, maka berarti photon belum membutuhkan ruangan nyata. Mungkin photon ini merupakan Boson, Messon atau Fermon yang “dicurigai” sebagai pembentuk massa, sehingga kehadirannya menyebabkan partikel yang bergerak mendekati kecepatan cahaya bertambah massanya. Jika memang photon tak memiliki massa, melainkan bahan pembuatan massa, maka tak mengherankan photon bergerak secepat cahaya. Dalam hal ini photon tak akan bertabrakan jika bergerak pada lintasan yang sama dengan arah berlawanan.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 15
Photon dapat “diisolasi” sehingga dapat diketahui sifat-sifatnya. Saya pernah membaca di Wikipedia yang menyatakan berdasar research terakhir dapat diketahui ukuran photon dengan membandingkan dengan ukuran elektron. Jika demikian photon memerlukan ruangan nyata walau tak disebutkan memiliki massa. Dengan Matematika Modern dapat dihitung berapa prosen kemungkinan terjadinya tabrakan antar photon dalam laser., karena photon memerlukan ruang nyata. Untuk menghitung secara matematis dapat dikerahkan kemampuan komputer yang saat ini tersedia diseluruh dunia.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 16, edited on Jul 16
Secara fisika gelombang elektro magnetik (EMW) dapat melakukan interferensi dalam bentuk modulasi atau superposisi.
Atas dasar modulasi gelombang berfrekwensi tinggi dapat dimodulir oleh gelombang berfrekwensi rendah (Modulasi Amplitudo, Modulasi Frekwensi atau modulasi Phasa) sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, diantaranya komunikasi jarak jauh.

Sepasang EMW dan gelombang lainnya dapat melakukan superposisi sehingga intensitasnya bertambah atau sebaliknya. Ini dapat divisualisasikan dengan menginterferensikan dua gelombang yang akan menghasilkan gelombang yang intensitasnya lebih tinggi/kuat (misalnya lebih terang), atau sebaliknya. Visualisasi ini akan lebih efektif jika menggunakan gelombang monokrom, diantaranya laser.

Bagaimana dengan aliran photon? Kita visualisasikan dua arus air yang mengalir melalui lintasan sama dan berlawanan arahnya. Molekul air yang bertabrakan akan “terpancar” secara radial karena molekul air tak secara langsung bergabung atau menyatu. Dapat diperkirakan molekul air yang bertabrakan akan membangkitkan energi panas atau energi fisika lainnya (misalnya suara) dan sanggup meruhah air menjadi uap, bahkan menguraikan air menjadi hydrogen dan oksigen.

Menurut TM tabrakan EMW maupun photon merupakan fenomena fisika, sehingga dapat terdeteksi dengan peralatan fisika, lain halnya dengan tabrakan antara gelombang eter yang merupakan fenomena transien.
Fenomrna transien hanya dapat dijelaskan dengan Teori Gelombang Minimalis dan Formula Gelombang Som Wyn atau dibiarkan saja sebagai sekedar mimpi / angan-angan belaka.

Menurut TM lewat Teori Gelombang Minimalis (TGM) cahaya bukanlah aliran photon yang bergerak sejajar/seiring dengan EMW dan memiliki kecepatan sama. TM menginformasikan photon terbentuk akibat sepasang gelombang eter (gelombang x dan gelombang y yang koheren) saat keduanya memiliki nilai x dan y sama, sehingga photon hanya terjadi saat nilai E pada formula Supernatural Modern bernilai nol, sehingga mengasilkan x = y = q. Q adalah quantum minimalis. Ingat FSM E = – x + y, hanya saat E = 0, maka x=y=q. Jika E#0, maka yang terjadi adalah e (eter).

Jadi photon adalah kondisi dari gelombang eter x dan y saat E=0 sehingga terjadi quantum sesaat, sedangkan EMW merupakan turunan pertama (derevatif ke 1) dari gelombang eter.

Gelombang eter dihasilkan oleh osilasi kutub magnet x dan y. Kutub magnet menghasilkan medan magnet, perubahan medan magnet akan menghasilkan medan listrik, sebaliknya perubahan medan listrik akan menghasilkan medan magnet, sehingga terjadi selisih phasa sembilan puluh drajat antara medan magnet dengan medan listrik pada EMW. Fenomena ini disebut interaksi elektro magnetik. Interaksi antara gelombang eter x dan gelombang eter y dinamakan interaksi magnetik. Karena kecepatan EMW= kecepatan STW maka kecepatan photon= kecepatan EMW.

Dengan Formula Gelombang Som Wyn dapat dijelaskan bahwa gelombang eter dapat menghasilkan quntum, photon, nutrino atau partikel lainnya yang sanggup bergerak melebihi kecepatan photon/cahaya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 16, edited on Jul 16
Marilah kita visualisasikan cahaya yang membangkitkan photon dengan kendaraan yang melalui sebuah jalan raya di darat yang lurus dan rata.
Jika mobil selalu meluncur dijalan (didaratan), pastilah terjadi tabrakan. Lain halnya jika mobil hanya ada di jalan pada saat tertentu, mobil itu dapat “terbang” dan masuk kebawah jalan/tanah sehingga gerakan mobil naik turun menuruti grafik sinusoidal, atau berkelok-kelok menurut grafik sinusoidal. Pada satu gelombang naik turun atau berkelok-kelok mobil hanya berada dijalan yang lurus, dua kali, setiap satu periode, selain itu mobil berada diatas dan dibawah jalan atau dikelokan jalan.
Cobalah fikirkan: jika ada mobil melalui jalan darat yang sama dan berlawanan arahnya namun mobil naik turunatau berkelok-kelok menuruti fungsi sinusoidal, apakah mobil itu akan bertabrakan? Dapat diprediksikan tabrakan hanya akan terjadi jika kedua mobil itu pada koordinat ruang dan koodinat waktunya sama. Itulah sebabnya TM tak menyatukan dimensi ruang dan dimensi waktu.
Menurut fisika partikel yang berada disuatu koordinat ruang akan “melakukan reaksi fisika” jika ada partikel lain yang dalam koordinat waktu sama akan menempati ruangan tersebut. Hal ini tak terjadi pada eter.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 17
Cucu dapat menggunakan grafik untuk menggambarkan jalan yang dilalui kedua mobil dari apa yang eyang vidualisasikan diatas. Jika mobil yang berlawanan arah itu melalui satu jalur garis lurus satu dimensi pasti keduanya akan bertabrakan, atau kemungkinan bertabrakan adalah 100 %.
Kalau digunakan sistem dua dimensi, mobil berkelok-kelok menurut grafik fungsi sinusoidal atau naik turun menurut grafik sinusoidal, kemungkinan bertabrakan tak 100%, tergantung dari kedua grafik fungsinya, yaitu gerakan mobil 1 adalah a1.sin(u1 + w1t) dan gerakan mobil 2 adalah a2.sin(u2 + w2t). Seandainya a1=a2, w1=w2 dan u1= u2, dan kedua grafik terletak pada satu bidang datar, maka walau mobil berkelok-kelok maupun naik turun kemungkinan bertabrakan adalah 100% sebab kedua grafik itu berhimbitan, artinya jalan yang dilalui kedua mobil adalah sama walau berkelok-kelok.
Jika u1 dan u2 tak sama, maka kemungkinan kedua mobil bertabrakan hanya pada perpotongan jalan yang berliku tersebut. Jika kedua jalan itu merupakan grafik sinusoidal yang sama, tetapi sudut phasanya berbeda, maka setiap siklus /periode kelokan hanya akan terjadi duakali tabrakan, yaitu pada perpotongan jalan yang berbentuk grafik sinusoidal dengan sudut phasa berbeda.
Hal tersebut sangat mudah dijelaskan dengan Teori Gelombang Minimalis.
Photon hanya timbul saat E=0 (perpotongan dua grafik sinosoidal) dimana nilai x = y = q. Dalam hal dua fungsi sinosoidal yang koderen, photon hanya timbul saat kedua grafik berpotongan.
Percobaan menabrakkan dua laser dapat digunakan untuk membuktikan kebohongan atau kebenaran Teori Gelombang Minimalis, sekaligus mengkritisi pandangan yang menganggap cahaya bersifat ambigus (mendua), disatu sisi bersifat gelombang elektro magnet, disisi lain aliran photon. Ini bukan berarti menyanggah kebenaran bahwa photon bergerak seiring dengan EMW dan memiliki kecepatan sama dengan EMW, melaikan justru menjelaskan mengapa hal itu dapat terjadi. Ini juga dapat menjelaskan mengapa gelombang EMW kontinyu, tetapi energi fisiknya diskrit. Energi fisika ditentukan oleh photon yang tiap penjang kelombang hanya muncul dua kali, sehingga energi cahaya sebanding lurus dengan frequensinya, bukan intensites cahaya.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s