Teori Revolusi Som Wyn:

Pertanyaan Apa itu Teori Revolusi Som Wyn dan apa hubungannya dengan Spiritual Ilmiah?

Jawaban:Teori Revolusi Som Wyn merupakan bagian/turunan dari Teori Minimalis. Silakan baca: Ringkasan dan Rincian Teori Minimalis gagasan akungibnu (ibnusomowiyoino notoatmojo).
Menurut Teori Revolusi Som Wyn (TRSW) manusia merupakan hasil revolusi microcosmos (individual makhluk hidup) di bumi, sehingga peradaban manusia yang merupakan makhluk “termuda” di bumi berkembang sangat pesat  fisik (organisme) maupun non fisiknya (soul atau spirit yang mengendalikan)
Penurut pengamatan akungibnu ada empat tahapan penting sejarah perkembangan budaya/peradaban  manusia sehingga dapat  diambil kesimpulan bahwa manusia bukan turunan kera  melainkan  diturunkan oleh pasangan-pasangan manusia yang mungkin fisiknya mirip  kera, namun  soul atau spirit yang mengendalikan  berbeda.
1. Tahap Spiritual Alamiah (SA) dimana manusia tak berdaya menghadapi lingkungan hidup, termasuk kekuatan alam.
Dalam tahap ini manusia tidak jauh  berbeda dengan makhluk hidup bertubuh organisme  lainnya, malah fisiknya tergolong sangat lemah.
Living organisme (makhluk hidup bertubuh organisme) hanya terdapat di bagian Alam Semesta yang memiliki biosfera, sehingga mengalami bioritmik, kondisi sadar dan bawah sadar kondisi hidup dan mati.
Bumi bagaikan debu di Alam Semesta, namun sangat langka karena memiliki biosfera yang memungkinkan adanya living organisme.
Pada tahap Spiritual Alami  setiap living organisme secara alami menyadari atas dasar pengamatan dengan indra dan kemampuan bawah sadar adanya kehidupan setelah mati, sehingga beranggapan masih terdapat hubungan antara yang telah mati dengan yang masih hidup..
Hubungan ini dipandang sangat penting, karena yang masih hidup suatu saat akan mati, yang telah mati  pernah hidup dan  memiliki pengalaman hidup, hingga dapat memberikan informasi dan pengayoman  kepada yang masih  hidup dalam menjalani kehidupan;  yang telah mati merupakan “guru” atau panutan bagi yang masih hidup. sehingga harus dihormati, disakralkan, dilestraikan keberadaannya.

Pada tahap Spiritual Alamiah  kemampuan paralogika manusia masih negatif, sehingga mencampur adukkan antara mimpi (kondisi bawah sadar yang tak terkendali oleh otak dalam keadaan sadar ) dengan indra yang sanggup mengakses lingkungan nyata yang  dikendalikan oleh otak dalam keadaan sadar, Mereka belum sanggup menggunakan otak secara efektif untuk berfikir (memanfaatkan energi metafisika ) maupun  menyakini tanpa difikir (memanfaatkan energi occult)

Mediator  “mengaku”  sanggup menjadi penghubung antara yang masih hidup dengan yang telah mati. Mediator berperan sangat penting karena dipercaya oleh mereka yang belum sanggup memanfaatkan otaknya untuk berfikir . Mediator  sanggup memanfaatkan energi gelap (dark energy) untuk  meyakinkan mereka yang otaknya  belum  dikotori oleh dark energy. Dark energy hanya dapat  masuk ke otak lewat pikiran.  Atas dasar inilah energi fikiran dinamakan energi gelap/dark energy yang merupakan input  ke otak lewat kemampuan berfikir manusia.

2. Tahap Spiritual Religious (SR)  dimana manusia  dapat diyakinkan oleh manusia yang telah  sanggup memanfaatkan energi gaib (occult energy)  yang hanya dapat masuk ke otak lewat batin. Batin sanggup meyakinkan manusia  tanpa difikir, jadi batin tak membutuhkan dark energy. Atas dasar ini maka energi yang dimanfaatkan untuk menyakini tanpa difikir (believe without thinking)  dinamakan energi terang (bright energy).

Manusia dapat menyakini adanya kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupan yang tak ada kepastian/untung-untungan alias fana, setiap saat berubah. Tuhan menjanjikan kebahagiaan abadi bagi yang mentaati  bimbingannya dan akan memberikan sangsi siksa berkepanjangan bagi yang ingkar.

Segala yang ada di bumi adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga semua harus menuruti bimbingannya  agar tidak  mendapat siksa berkepanjangan, melainkan mendapatkan kebahagiaan abadi.

Dengan berlindung  Tuhan Yang Maha Kuasa  manusia berani melawan lingkungan termasuk kekuatan alam. Mediator dianggap sebagai musuh Tuhan YMK karena memanfaatkan energi gelap yang dapat menyesatkan.

Dalam tahap spiritual religious otak manusia telah sanggup memanfaatkan energi terang dan sanggup membedakan dengan mimpi  yang memanfaatkan trans energy. Energi terang (bright energy) dapat diterima oleh otak dalam kondisi sadar lewat batin, energi metafisika  juga dapat diterima oleh otak dalam kondisi sadar lewat akal. Trans energy secara keseluruhan hanya  dapat diterima otak dalam kondisi bawah sadar (unconscious/sub conscious). Atas dasar ini TM menginformasikan agar trans energy dapat diterima oleh otak dalam kondisi sadar harus dibagi menjadi wilayah  rational yang masih  dapat diterima oleh otak lewat pendekatan akal  dan wilayah  irrational yang masih dapat diterima oleh otak lewat pendekatan batin.

Yang diterima otak dalam kondisi sadar adalah : bright energy  lewat batin, dark energy  lewat akal dan energi fisika (clear energy) lewat indra, sedangkan trans energy terlebih dahulu harus dipisahkan dalam wilayah rational dan wilayah irrational.

Tiap-tiap energi memiliki kesadaran (consciousness) berbeda (dimensi berbeda), bahkan sering bertentangan, sebagai contoh apa yang diyakini atas dasar dogma/keyakinan lewat batin  sangat berbeda dengan apa yang disaksikan oleh indra secara nyata. Agar dogma tak dapat diganggu gugat karena bertentangan dengan kenyataan , maka  spiritual religious memandang kenyataan sekedar mimpi atau fatamorgana yang dapat menyesatkan  dan  menghalangi jalan mendapatkan kebahagiaan abadi. Hal ini sangat berbeda dengan akal/fikiran   yang sanggup memanfaatkan dark energy (energi metafisika) justru  menjadikan manusia sanggup memanfaatkan masukan/input  energi fisika (clear energy) lewat indra demi  menyediakan kenikmatan duniawi walau hanya sementara.

3. Tahap Materialisme: dimana manusia telah sanggup memanfaatkan otaknya untuk berfikir, memanfaatkan clear energy bukan bermimpi yang memanfaatkan trans energy lewat kemampuan bawah sadar  maupun meyakini tanpa difikir (believe without thinking) dengan memanfaatkan occult energy lewat batin.

Berfikir adalah kemampuan manusia untuk memanfaatkan energi metafisika guna memanfaatkan energi fisika hingga memperoleh kenikmatan duniawi.  Energi occult dapat meyakinkan manusia tanpa berfikir  yang sanggup  menghantar manusia mencapai kebahagiaan abadi.

Dalam tahap Materialisme dogma dianggap menghalangi kebebasan berfikir manusia, sehingga manusia yang terbelenggu oleh materialisme  menisbikan   janji Tuhan YMK  yang menjediakan kebahagiaan abadi bagi manusia yang mentaati petunjuknya dan memberikan sangsi siksa berkepanjangan bagi yang ingkar. Manusia yang materialis tak takut lagi pada akibat dosa maupun  tertarik mengumpulkan pahala.  Faham materialisme memandang isi Alam Semesta hanya materi, kehidupan dipandang sekedar prosses biologi. Materialisme tak mengakui adanya  soul maupun spirit yang mengendalikan tubuh dan  harus bertanggung  jawab atas perbuatan manusia selama hidup.  Ini artinya, tak ada pertanggungan jawab apapun yang dilakukan selama hidup dan kepada siapapun, termasuk kepada  Tuhan YMK, setelah mati. Mati hanya dianggap sebagai daur ulang fisik.

Materialisme menjadikan manusia dapat berbuat  sesukanya, oleh karena itu untuk mengatur perilaku manusia diberlakukan hukum buatan manusia: siapa mentaati hukum buatan manusia akan dilindungi oleh hukum itu, yang tak patuh akan terkena sangsi yang dibuat sendiri oleh manusia.

Menurut TM manusia yang materialistik harus  ditata berdasar Moralitas Tertip Hukum (MoTH) yang menjadikan manusia sebagai objek hukum buatan  manusia , bukan sebagai subjek yang sanggup mengatur diri sendiri dalam bermasyarakat.

Pada tahap Spiritual Religious  menurut  TP manusia ditata atas dasar Moralitas Agung (MoA) , yang dikristalisasikan dalam Dosa dan Pahala. Semua diatur oleh Tuhan YMK, hukumnya juga diciptakan oleh Tuhan YMK dan diberikan lewat  dogma/ keyakinan yang memanfaatkan bright energy , tak membutuhkan dark energy.  Manusia  menjadi objek  hukum dogma, bukan sebagai subjek yang sanggup mengatur diri sendiri dalam bermasyarakat.

4.Tahap Spiritual Ilmiah: saat   otak manusia  telah sanggup  mengolah berbagai jenis energi secara proportional sesuai  program dasar sebagai fundasi menyusun  program terapan yang berguna untuk mengatur perilaku manusia, sehingga manusia  menjadi  subjek hukum karena masing-masing dapat mengatur diri dalam bermasyarakat.  Spiritual Ilmiah  dapat difahami lebih mudah lewat Teori Paralogika yang memanfaatkan komputer sebagai model organisme, user sebagai model spirit dan cpu sebagai model otak.

a. Program dasar yang berorientasi akal/pikiran menjadikan manusia lebih mudah memanfaatkan energi metafisika disamping energi lainnya. Manusia menjadi cerdas hingga sanggup menyusun strategi untuk menghadapi kenyataan  berdasar bukti yang harus  dapat diterima oleh akal dan  sesuai dengan kenyataan agar sanggup memanfaatkan energi nyata (clear energy/energi fisika)  secara efektif untuk mewujudkan kenikmatan hidup duniawi. Manusia dengan program dasar ini  harus diatur  lewat Moralitas Minimalis (MoM)

b. Program dasar yang berorientasi batin/keyakinan menjadikan manusia  lebih mudah memanfaatkan energi occult disamping energi lainnya. Manusia menjadi mudah menerima dogma demi memasuki kehidupan abadi yang sulit diterima oleh akal. Manusia sanggup meyakini sesuatu tanpa menuntut bukti nyata. Manusia dengan program dasar  ini  dengan mudah diatur  lewat MoA.

c. Program dasar yang berorientasi indra menjadikan manusia mudah memanfaatkan energi fisika hingga hanya  percaya pada yang nyata (riel)  dan mengesampingkan batin maupun  akal sehat. Manusia materialis  beranggapan hidup sekedar proses  biologis/biokimia. Matarialisme tak  dapat dimasukkan dalam spiritual, karena tak percaya  adanya hubungan antara yang masih hidup dengan yang telah mati. Manusia dengan program dasar ini harus diatur lewat MoTH.

d Program dasar holistik yang berimbang antara pemanfaatan indra, akal dan batin sehingga dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang sedang dibutuhkan.  Program dasar holistik  sanggup memilah masukan bawah sadar menjadi wilayah rational dan irrational hingga dapat menjadikan mimpi sebagai kenyataan atau sebaliknya membuat kenyataan bagaikan mimpi.  Manusia dengan program dasar ini   bagaikan sebuah komputer yang menerima masukan lewat usb. Program dasar holistik  ini menjadikan perbuatan manusia menjadi spekulatif, dapat bertindak cepat atas dasar intuisi, karena manusia bertintak berdasar kebutuhan, bukan lagi atas  memisahkan masukan indra, fikiran maupun batin. untuk saling mengimbangi/mengkontrol. Inilah yang menjadikan manusia dapat menyelamatkan dunia atau menghancurkan dunia, bahkan Sub Alam Fisika.

Keempat tahapan  tersebut berlangsung secara cepat, saling tumpang tindih (overlap), yang satu belum selesai telah disusul oleh tahapan  berikutnya. Karena berlaku secara cepat dibanding dengan perkembangan kemampuan living organisme lain (tumbuh-tumbuhan dan hewan) apalagi dibanding dengan perkembangan macrocosmos yang berlangsung sangat lambat (evolusi) maka menunjukkan bahwa mansia sanggup melakukan revolusi di bumi.

Manusia merupakan microcosmos (keteraturan kecil pada individu makluk hidup) di bumi sehingga menurut Teori Revolusi Som Wyn manusia merupakan hasil revolusi microcosmos di bumi. Manusia sanggup menjadikan dunia bagaikan surga atau bagaikan neraka.

TRSW tak menyanggah Teori Darwin maupun Teori Adam dan Hawa, melainkan mengkritisi.  Teori Darwin  adalah teori evolusi biologi, hanya mempermasalahkan living organisme pada organismenya  tanpa  memasukkan faktor yang mengendalikan organisme, yaitu soul maupun spirit.  Adam dan hawa mungkin merupakan manusi pertama di bumi, namun tidak seluruh manusia merupakan keturunannya. Hal ini dapat dijelaskan berdasar terdapatnya berbagai ras manusia. dan manusia tidak  mengalami degradasi, melainkan gradasi, semakin cerdas akibat proses hybrida (perkawinan silang).

Organisme manusia mungkin ada kemiripannya dengan kera, karena keduanya dibangun oleh unsur organisme  yang terdapat  di bumi, bukan unsur yang ada di surga, namun soul  atau spirit yang mengembangkan dan mengendalikan organisme jelas  berbeda. Ini dapat dibuktikan: perkembangan kecerdasan manusia sangat berbeda dengan  kecerdasan kera.

Spiritual Ilmiah telah berkembang  jauh sebelum Akungibnu  menggagas Teori Minimalis yang semula hanya dimaksud untuk menjelaskan Fiksi Blackhole karya Akungibnu. Teori Som Wyn merupakan turunan/pengembangan dari Teori Minimalis, jadi tak ada hubungan secara langsung antara Teori Som Wyn dengan Spiritual Ilmiah, namun Akungibnu memprediksikan Era Scientific Spiritual Revolution dimana otak manusia sanggup memanfaatkan berbagai energi yang tersedia di Alam Semesta  dengan empat kemampuan yang diberikan oleh Tuhan YME.

  1. Kemampuan otak manusia  mengolah input energi fisika (E=0) lewat indra manusia yang sangat terbatas namun dapat dibantu oleh peralatan fisika hasil rekayasa manusia berkat kemampuan otak  manusia mengolah energi metafisika.
  2. Kemampuan  otak manusia mengolah input energi occult (E<0) lewat batin yang dapat menjadikan manusia sanggup meyakini adanya Alam Abadi atas dasar dogma yang sama sekali tak memerlukan energi metafisika.
  3. Kemampuan otak manusia mengolah input energi metafisika  (E>0) lewat fikiran hingga menunjang aktifitas otak dalam mengolah energi metafisika sehingga memberikan kemudahan hidup dan menyediakan kenikmatan duniawi.
  4. Kemampuan otak untuk memilah input energi transient  (E= -x + y dimana x#0 dan y#0) menjadi wilayah rational (y>x) dan wilayah irrational (y<x)  berkat kemampuan paralogika positif, sehingga energi transient yang hanya terakses oleh otak dalam kondisi bawah  sadar ( sub conscious condition) sanggup diolah oleh otak dalam kondisi sadar (counscious) .

Untuk dapat sampai pada Teori Som Wyn harus melewati Teori Minimalis Plus yang menginformasikan adanya non energi E# -x + y di Alam Semesta yang tak mungkin dimengerti oleh manusia, kecuali lewat dogma. Satu diantara non energi dinyatakan oleh Formula Som Wyn z# -x + y. (z adalah singkatan dari zeros = soul) .

Teori Paralogika  merupakan pengkhususan Teori Som Wyn yang menginformasikan tentang Living Organisme,  sedangkan Teori Revolusi Som Wyn merupakan pengkhususan dari Teori Paralogika yang menginformasikan tentang manusia.

Sesuai dengan TM Energi tak mungkin keluar dari Alam Semesta, bukan fenomena Alam Abadi yang sepenuhnya merupakan rahasia Tuah YME, sehingga dapat dimengerti oleh manusia lewat batin, fikiran, indra maupun kemampuan bawah sadar. Non Energi (yang bukan energi) merupakan rahasia Tuhan YME, dapat keluar masuk Alam Semesta atas kehendak Tuhan YME, sehingga tidak  mungkin dimengerti oleh manusia kecuali lewat dogma.

Menurut TSW Non Energi (diantaranya zeroz)  menjadi dapat dimengerti oleh manusia saat berinteraksi vitaltistik dengan body yang tersusun dari energi membentuk microcosmos (keteraturan kecil)  yang berupa  individu makhluk hidup yang dikendalikan oleh z.

Microcosmos dikendalikan oleh z, sedangkan macrocosmos ( berbagai jenis energi yang mengisi Alam Semesta)  diberikan kesadaran oleh Tuhan YME untuk mengurus diri sendiri, jenis (golongan) dan lingkungan mereka, sehingga Alam Semesta dapat mengatur dirinya menjadi cosmos (teratur) dan disebut macrocosmos (keteraturan besar).  Suatu saat macrocosmos dapat menjadi kacau (chaos) karena saling berebut kepentingan, namun akan segera kembali menjadi cosmos setelah masing-masing menyadari akan kepentingan bersama.

Hubungan antara Teori Revolusi Som Wyn dengan Spiritual ilmiah:

Spiritual Ilmiah telah berkembang  jauh sebelum Akungibnu  menggagas Teori Minimalis yang tadinya  hanya dimaksud untuk menjelaskan Fiksi Blackhole karya Akungibnu. Teori Som Wyn merupakan turunan/pengembangan dari Teori Minimalis lewat berbagai teori sebelumnya (TM+, Teori Som Wyn, dan Teori Paralogika)  jadi tak ada hubungan secara langsung antara Teori  Revolusi Som Wyn dengan Spiritual Ilmiah, namun Akungibnu memprediksikan akan segera terjadi  Era Scientific Spiritual Revolution dimana otak manusia sanggup memanfaatkan berbagai energi yang tersedia di Alam Semesta  dengan empat kemampuan yang diberikan oleh Tuhan YME.

  1. Kemampuan otak manusia  mengolah input Energi Fisika (E=0) lewat indra manusia yang sangat terbatas namun dapat dibantu oleh peralatan fisika hasil rekayasa manusia berkat kemampuan otak  manusia mengolah energi Fisika dibantu dengan energi metafisika.
  2. Kemampuan  otak manusia mengolah input Energi Occult (E<0) lewat batin yang dapat menjadikan manusia sanggup meyakini adanya Alam Abadi atas dasar dogma yang sama sekali tak memerlukan energi metafisika.
  3. Kemampuan otak manusia mengolah input Energi Metafisika  (E>0) lewat fikiran hingga menunjang aktifitas otak dalam mengolah energi metafisika sehingga memberikan kemudahan hidup dan menyediakan kenikmatan duniawi.
  4. Kemampuan otak untuk memilah input Energi Transient  (E= -x + y dimana x#0 dan y#0) menjadi wilayah rational (y>x) dan wilayah irrational (y<x)  berkat kemampuan paralogika positif, sehingga energi transient yang hanya terakses oleh otak dalam kondisi bawah  sadar ( sub conscious condition) sanggup diolah oleh otak dalam kondisi sadar (counscious) .

Untuk dapat sampai pada Teori Som Wyn harus melewati Teori Minimalis Plus yang menginformasikan adanya non energi E# -x + y di Alam Semesta yang tak mungkin dimengertui oleh manusia, kecuali lewat dogma. Satu diantara non energi dinyatakan oleh Formula Som Wyn z# -x + y. (z adalah singkatan dari zeros = soul) .

Sesuai dengan TM energi tak mungkin keluar dari Alam Semesta, sehingga dapat  dimengerti oleh manusia lewat batin, fikiran, indra maupun kemampuan bawah sadar. Non energi merupakan rahasia Tuhan YME, sehingga dapat keluar masuk Alam Semesta atas kehendak Tuhan YMK.

Menurut TSW non energi menjadi dapat dimengerti oleh manusia saat berinteraksi vitaltistik dengan body yang tersusun dari energi membentuk microcosmos (keteraturan kecil)  yang berupa  individu makluk hidup yang dikendalikan oleh z.  Microcosmos dikendalikan oleh z, sedangkan macrocosmos ( berbagai jenis energi yang mengisi Alam Semesta)  diberikan kesadaran oleh Tuhan YME untuk mengurusi diri sendiri, jenis (golongan) dan lingkungannya, sehingga Alam Semesta dapat mengatur dirinya menjadi cosmos (teratur) dan disebut macrocosmos (keteraturan besar).  Suatu saat macrocosmos dapat menjadi kacau (chaos) karena saling berebut kepentingan, namun akan segera kembali menjadi cosmos setelah masing-masing menyadari akan kepentingan bersama.

Axioma Som Wyn adalah aktualisasi dari Spiritual Religious yang meyakini bahwa segala yang terjadi adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mereka yang  mengagungkan  kebebasan berfikir merasa “terbelenggu “ kebebasan berfikirnya, sehingga tidak  percaya  pada janji   Tuhan Yang Maha Kuasa tentang tersedianya kebahagiaan abadi bagi yang mematuhi segala kehendak/perintahnya lewat dogma yang tidak  dapat diterima  oleh akal mereka yang mempertuhan fikiran.

Rationalisme menjadikan fikran (bedakan dengan  organ tubuh yang dinamakan otak)  sebagai tuhan yang maha cerdas (Talent Body) , bukan  Tuhan Yang Maha Suci (Holly Body) , karena tuhan ymc  sanggup mengolah energi fisika untuk menyediakan kenikmatan duniawi yang sangat mudah dibuktikan lewat indra, walau hanya sesaat.

Teori Minimalis menamakan energy metafisika sebagai  dark energy (energi gelap) atas dua alasan:

a.Spiritual Religious   menginformasikan  yang menyebabkan manusia dikeluarkan dari Taman Eden  yang penuh kebahagiaan  ke dunia  yang tak ada kepastian (selalu berubah setiap saat) akibat bujukan iblis agar manusia makan “buah ilmu pengetahuan”  Atau sebagai akibat  ingkar pada  Tuhan YMK  dan  menggantikannya dengan tuhan berhala.

b.Science yang menginformasikan bahwa komposisi energi yang mengisi Alam Semesta 73 % adalah dark energy.

Dengan penamaan energi metafisika atau energi fikiran sebagai dark energy merupakan prediksi bahwa  manusia semakin lama semakin cerdas hingga  teramat sulit untuk kembali ke Taman Eden, atau naik ke sorga,  namun  tetap punya kesempatan untuk menjadikan dunia laksana sorga atau sebaliknya jadi neraka atau kembali pada jalan Tuhan yang akan membimbing memperoleh kebahagiaan abadi.

Rationalis berkembang menjadi materialis yang  pada ujungnya berkembanglah Atheisme Modern.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Teori Revolusi Som Wyn:

  1. Akung Ibnu berkata:

    Teori Minimalis sedang berkembang sehingga setiap saat terjadi perubahan, namun tujuan utamanya tidak berubah yaitu mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa agar tidak disalah gunakan untuk membelenggu kebebasan berfikir, berkeyakinan dan berbuat sepanjang berani menanggunung risikonya.

  2. Akung Ibnu berkata:

    Teori Minimalis bukan termasuk Spiritual Religi atau Religious Spirituality (RS) , maupun Ilmu Pengetabhuan Materialistik atau Materialistic Science (MS). TM menunjang Spiritual Ilmiah atau Scientific Spirituality (SS). TM berlindung dibawah bendera Sekedar Informasi, sehingga sekedar memberi informasi mengenai Rahasia Alam Semesta sesuai dengan sudut pandang SS, walau tidak ada kaitan secara langsung dengan SS..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s