Mengapa eter tak dapat dilacak lewat pancaindera, bahkan peralatan fisika?

Pertanyaan: Menurut akungibnu eter adalah isi  alam semesta yang berupa dipole magnet yang memancarkan energi/gaya magnetik sehingga seharusnya dapat dilacak dengan peralatan magnet, kenyataannya tidak terlacak oleh peralatan magnet maupun elektronika, sehingga eter diragukan bahkan tidak dipercaya keberadaannya. Tolong jelaskan secara ilmiah bagaimana cara membuktikan adanya eter.
Jawaban: Selama ilmu pengetahuan,science, bersifat materialistik yang beranggapan Sub Alam Fisika identik dengan Alam Semesta, sehingga hanya terisi oleh materi/partikel, maka tak mungkin ilmu pengetahuan  sanggup menerima keberadaan eter, sebab eter bukan materi atau partikel yang terbentuk dari energy fisika (quantum) , melainkan  tersusun dari energy transient yang ada di Sub Alam Transient, bukan di Sub Alam Fisika, namun keduanya ada di wilayah Alam Semesta yang dikuasai oleh dimensi waktu.

Sebenarnya ilmu pengetahuan ( lewat ilmu fisika )  mengakui adanya ruang yang tak terisi materi/partikel dan dinamakan ruang  kosong (vacum) yang didalamnya terdapat energy magnet, energy cahaya, energi gravitasi sehingga dapat terjadi penghantaran gaya, bukan lompatan gaya.

Selama manusia tak berusahan membebaskan diri dari konsep materialisme yang mengandalkan pancaindra dan peralatan fisika, maka manusia akan tertinggal dari makhluk cerdas yang lebih mengandalkan fikiran ketimbang pancainder. Pancaindra hanya sanggup mengakses partikel. Cahaya dapat terakses oleh pancaindra berkat timbulnya photon yang sanggup berinteraksi dengan energi fisika.

Menurut TM  Alam Semesta memiliki 11 dimensi, bukan sekedar lima dimensi yang dikenal dalam ilmu pengetahuan yang materialistik. Hal ini juga telah dilakukan secara “ilmiah” sebagai upaya membebaskan manusia dari materialisme yang berujung pada atheisme, yaitu  a. Spiritual Ilmiah yang berbasis spiritual namun ilmiah (scientific)  karena merupakan hasil pemikiran manusia (akal budi manusia), bukan dogma religi.  b.  Teori Membrane (T-M) yang berbasis Science namun memasukkan unsur non fisik.

Pancaindra dan peralatan fisika tak mungkin  mengakses fenomena di luar Sub Alam Fisika, namun fikiran sanggup mengakses Sub Alam Metafisika, yang terisi energy metafisika lewat kemampuan berfikir (bukan pengamatan mengindera, melainkan olah fikir) untuk memanfaatkan berbagai energi yang tersedia di Alam Semesta guna menunjang keterbatasan pancaindra dalam memasuki   Alam Nyata  yang dikuasai oleh lima dimensi. bahkan   batin/keyakinan sanggup mengakses Sub Alam Gaib lewat dogma.  Sub Alam Gaib merupakan pintu memasuki Alam Abadi yang tidak mungkin terakses oleh pancaindera maupun  fikiran manusia.

Teori Menimalis memanfaatkan Formula Supernatural Modern E= -x + y untuk menjelaskan adanya 5 Sub Alam (Sub Alam Gaib, Sub Alam Metafisika, Sub Alam Fisika, Sub Alam Transient dan Sub Alam Organisme).

Terus terang saya tak sanggup menjelaskan keberadaan eter secara ilmiah, selama yang dimaksud dengan ilmiah adalah fenomena yang harus  dapat terakses oleh pancaindra.

Saya memperkenalkan adanya Sub Alam Transient yang hanya sanggup terakses lewat Kemampuan Bawah Sadar, sebab energy transient merupakan sebuah spectrum energy yang teramat luas, merupakan garis-garis lurus sejajar yang membentuk bidang Sub Alam Transien. sangat berbeda dengan energy batin, energy metafisika, apalagi energi fisika yang merupakan fungsi linier dan dapat divisualisasikan sebagai garis pada bidang masing-masing. Silakan baca: Peta energy dan non energy Alam Semesta versi TM.

Kemampuan Bawah Sadar, diantaranya mimpi, kondisi tidak sadar/mabuk, pingsan, angan-angan, indera keenam  sampai imaginasi adalah bagian dari Kemampuan Bawah Sadar yang tidak dapat dikendalikan oleh otak sebagai bagian dari living organisme, termasuk manusia. Manusia dan living organisme lainnya  tetap dapat hidup saat otak beristirahat karena organ-tubuh vital justru, kecuali otak, dikendalikan oleh sumsum tulang belakang atau organ lainnya berdasar Kemampuan Bawah Sadar bukan berdasar kesadaran . Siapa yang mengendalinkan  living organisme, dapat berupa soul (WB) atau spirit (RB)

Soul tidak memiliki unsur energy, merupakan bagian dari non energy yang ada diluar garis energi maupun bidang spektrum energy. Dengan peta energy dan non energy Alam Semesta dapat diinformasikan bahwa  non energy (nonen)  mendominasi  Alam Semesta, bahkan soul (z)  sanggup keluar masuk Alam Semesta setelah terbebas dari mata kail energy dalam membentuk microcosmos.

Manusia  hanya mungkin mendeteksi soul lewat perilaku atau aktifitas living organisme yang dikendalikannya. Manusia tak mungkin mengungkap rahasia soul, sebab soul sepenuhnya merupakan rahasia Tuhan YME. Lain halnya dengan  Spirit yang memiliki  tubuh astral yang berupa eter. Jika manusia sanggup melacak aktifitas eter, berarti manusia sanggup menguak rahasia   living organisme bukan hanya saat masih hidup, melainkan setelah spirit meninggalkan organisme hingga organisme terdaur ulang. . Jadi ………….. tunggu saja pelacakan eter agar manusia dapat mengungkap jati dirinya, merupakan organisme yang harus ada mekanisme pengendalian hingga berbeda dengan sekedar benda mati atau organisme yang akan terdaur ulang akibat kehilangan kendali.  Apakah upaya ini akan berhasil?

Jika Tuhan YME mengizinkan, segalanya dapat terjadi, tergantung upaya manusia untuk sanggup melacak eter dan berani menanggung risikonya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s