tuhan, Tuhan dan Tuhan Yang Maha Esa.

Pertanyaan: Saya tak berhasil menemukan definesi kata tuhan seperti yang Akungibnu definisi pada Teori Som Wyn,  lewat berbagai penelusuran yang memiliki makna universal dan tidak terbantahkan lagi, sehingga definisi tersebut memang merupakan gagasan Akungibnu. Apa tujuan Akungibnu membuat definisi  kata tuhan?

Jawaban: Ini saya kutip beberapa tulisan yang menjelaskan perihal Tuhan, bukan definisi kata tuhan melainkan apa itu Tuhan.

Tuhan dipahami sebagai zat Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.[1] Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teismedeismepanteisme, dan lain-lain. Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri. Para cendekiawan menganggap berbagai sifat-sifat Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Yang paling umum, di antaranya adalah Mahatahu (mengetahui segalanya), Mahakuasa (memiliki kekuasaan tak terbatas), Mahaada (hadir di mana pun), Mahamulia (mengandung segala sifat-sifat baik yang sempurna), tak ada yang setara dengan-Nya, serta bersifat kekal abadi. Penganutmonoteisme percaya bahwa Tuhan hanya ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi), memiliki pribadi, sumber segala kewajiban moral, dan “hal terbesar yang dapat direnungkan”.[1] Banyak filsuf abad pertengahan dan modern terkemuka yang mengembangkan argumen untuk mendukung dan membantahkeberadaan Tuhan.[2]

Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan, dan nama yang berbeda-beda melekat pada gagasan kultural tentang sosok Tuhan dan sifat-sifat apa yang dimilikinya. Atenisme pada zaman Mesir Kuno, kemungkinan besar merupakan agama monoteistis tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yang mengajarkan Tuhan sejati dan pencipta alam semesta,[3] yang disebut Aten.[4] Kalimat “Aku adalah Aku” dalam Alkitab Ibrani, dan “Tetragrammaton” YHVHdigunakan sebagai nama Tuhan, sedangkan Yahweh, dan Yehuwa kadangkala digunakan dalam agama Kristen sebagai hasil vokalisasi dari YHVH. Dalambahasa Arab, nama Allah digunakan, dan karena predominansi Islam di antara para penutur bahasa Arab, maka nama Allah memiliki konotasi dengan kepercayaan dan kebudayaan Islam. Umat muslim mengenal 99 nama suci bagi Allah, sedangkan umat Yahudi biasanya menyebut Tuhan dengan gelarElohim atau Adonai (nama yang kedua dipercaya oleh sejumlah pakar berasal dari bahasa Mesir Kuno, Aten).[5][6][7][8][9] Dalam agama HinduBrahmanbiasanya dianggap sebagai Tuhan monistis.[10] Agama-agama lainnya memiliki panggilan untuk Tuhan, di antaranya: Baha dalam agama Baha’i,[11]Waheguru dalam Sikhisme,[12] dan Ahura Mazda dalam Zoroastrianisme.[13]

Banyaknya konsep tentang Tuhan dan pertentangan satu sama lain dalam hal sifat, maksud, dan tindakan Tuhan, telah mengarah pada munculnya pemikiran-pemikiran seperti omniteismepandeism,[14][15] atau filsafat Perennial, yang menganggap adanya satu kebenaran teologis yang mendasari segalanya, yang diamati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbeda-beda, maka sesungguhnya agama-agama di dunia menyembah satu Tuhan yang sama, namun melalui konsep dan pencitraan mental yang berbeda-beda mengenai-Nya.[16]

Dari kutipan diatas terbukti penafsiran tentang  sifat Tuhan berbeda-beda, namun pada dasarnya semua mengakui keberadaanNya berdasar spiritualisme yang meyakini bahwa Tuhan memang  ada, baik menurut spiritual alamiah, spiritual religious maupun spiritual ilmiah.  Faham materialisme cenderung berujung pada atheisme, pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan.  Maksud Akungibnu mendefinisikan tuhan secara umum, termasuk dari sudut pandang materialisme, adalah mendefinisikan tuhan (huruf kecil)  , bukan Tuhan (yang selalu dimulai dengan huruf besar) agar terhindar dari atheisme  karena dapat dibuktikan bahwa  mereka juga mengakui keberadaan tuhan. dari sudut pandang mereka , namun tetap saja tidak mengakui Tuhan. yang dipandang sebagai pembelenggu kebebasan manusia. Mereka yang materialisme  bahkan menyembah tuhan berhala. yang sanggup memberikan semua  yang diinginkan dan menghindarkan dari yang tidak diinginkan.  Definisi ini belum sanggup meyakinkan mereka, karena memandang Tuhan berbeda dengan tuhan yang mereka sembah.  Atas  dasar akal budi (bukan dogma) diberikan definisi Tuhan berdasar sudut pandang Spiritual ilmiah yang memandang Tuhan bukanlah Tuhan Yang Maha Pengatur segalanya, melainkan Tuhan Yang Maha menentukan.

Tak ada lagi alasan/argumen untuk tidak  mengakui keberadaan dan kekuasaanNya, sebab Tuhan YME bukanlah sebuah  dogma, melainkan hasil akal budi manusia. berbeda dengan  Tuhan YMK. Tuhan YME bukanlah Sang Maha Pengatur, melainkan Sang Maha Penentu.

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.