Dea dan Nadin, generasi Spiritual Ilmiah.

Nadin dan Dea adalah cucuku yang ikut orang tuanya kerja di Australia, sehingga mereka sekolah disana. Tak ada pelajaran agama, sehingga orang tua yang berkewajiban menanamkan nilai agama bagi anak-anaknya.

Ibunya, Diana Prabandari seorang Muslim yang sangat meyakini dogma agamanya. Dia sering kuwalahan menghadapi kedua putrinya yang mandiri dan kritis.
Ketika dibelikan sepatu baru Nadin bertanya: ” Mam, sepatu ini buatan siapa?”
“Buatan pabrik.” jawab ibunya dengan bangga.
“Apakah pabrik itu Allah?”
“Ha? ” Diana terperangah.
“Lho, kata mama semua buatan Allah.”

Diana akan bertanya kepada saya lewat internet untuk menjawab pertanyaan si kecil yang masih duduk di TK ini, sebab kakaknya pernah bertanya masalah barang-barang mainannya  buata China dan mengira China adalah Allah.  Keburu Dea menjelaskan kepada adiknya:

“Allah yang menyediakan bahannya, yang membuat sepatu itu manusia, pabrik itu buatan manusia, manusia ciptaan Allah.”

Dea dapat menerima penjelasan kakaknya, sebaliknya saya justru  sangat heran mengapa Dea sanggup menjawab pertanyaan adiknya, sebab saya lupa……………… Dea pernah bertanya masalah serupa kepada ibunya. Diana juga lupa kalau pernah menjawab pertanyaan Dea.

Sehari setelah Diana menelpon  kepadaku, barulah aku teringat kejadian itu………….. Kami   mengambil hikmah atas dua kejadian itu : Jangan sembarangan “menjawab” pertanyaan anak-anak mandiri dan kritis, sebab jawaban itu akan dimanfaatkan untuk menjelaskan kepada generasi berikutnya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.