Dogma dan Akal Budi.

Pertanyaan: Menurut Eyangibnu budi pekerti merupakan penerapan dari akal budi, sedangkan agama berdasarkan dogma. Pesan eyangibnu Tujuan Teori Minimalis adalah mengagungkan Tuhan YME lewat akal budi, bukan lewat dogma. Apakah agama tidak mengajarkan budi pekerti?

Jawaban: Budi pekerti dikemas menjadi satu dalam  iman, padahal iman berdasar dogma sehingga harus diterima dan dilaksanakan tanpa difikir/tak boleh disanggah. . Believe without thinking is the way to the heaven. (pesan  guru spiritual eyang yang taat  pada agamanya, agama langit). Katanya:  Setiap perilaku manusia diketahui oleh Allah, walaupun tidak diketahui oleh orang lain .

Orang atheis tidak mempercayai adanya dan kebesaran  Allah, sehingga merasa tidak ada yang mengetahui/ menilai perbuatan mereka, akibatnya mereka tidak takut berbuat sesukanya. Nah, agar mereka tidak berbuat sesukanya, maka mereka harus dikeluarkan atau dihindarkan dari atheisme. Bagaimana caranya? Mereka alergi pada agama yang “menyembah” Tuhan YMK, karena beranggapan Dia membatasi kebebasan berkeyakinan, berfikir apalagi berbuat. Mereka mendambakan kebebasan itu! Nah TM memberi jalan bagi mereka keluar atau terhindar  dari atheisme dengan cara menginformasikan bahwa Tuhan YME bukanlah Sang Maha Pengatur, melainkan Sang Maha Penentu.

Siapa yang harus mengatur manusia? Yang harus mengatur manusia semacam ini, yang tidak mau diatur oleh Tuhan YMK adalah manusia itu sendiri, baik secara individual, atau kelompok. Tuhan YME akan menentukan atas dasar upaya manusia macam ini akan berhasil atau gagal. Jika terbukti dapat mengatur diri mereka (tanpa dipaksa) maka akan diizinkan untuk menuruti keinginan mereka, jika ternyata tidak sanggup, kondisinya akan menjadi kacau yang akibatnya merugikan mereka yang tak sanggup mengatur diri, jenis dan lingkungannya. Kondisinya akan kembali teratur saat masing-masing telah menyadari kepentingan bersama.

Budi pekerti dapat ditegakkan oleh akal budi, bukan dogma lewat iman seseorang. Mengapa? Kebiasaan ibaratnya rel menuju tujuan secara otomatis, budi pekerti adalah suatu kebiasaan, yang terbiasa berbuat baik, akan menjadi orang baik, yang terbiasa berbuat jelek akan menjadi orang jelek. Siapa yang menilai baik dan jelek? Manusia sendiri, bukan Tuhan! Jadi budi pekerti bukan berdasarkan iman melainkan kebiasaan.

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dogma dan Akal Budi.

  1. Akung Ibnu berkata:

    Ada pepatah: Kalah adat oleh biasa! Dalam kenyataan banyak orang beragama, beriman, namun karena terbiasa melakukan perbuatan yang menyimpang dari agamanya, misalnya korupsi, menjadi koruptor.

  2. Akung Ibnu berkata:

    Iman memanfaatkan batin sehingga lebih efektif memanfaatkan bright energy, sedangkan akal budi memanfaatkan akal yang sanggup memanfaatkan dark energy untuk mengimbangi bright energy sehingga sanggup menghasilkan kemampuan untuk menjadikannya clear energy dari keseimbangan bright energy dan dark energy.
    Clear energy dapat terakses lewat pancaindera, itulah sebabnya budi pekerti dapat diketahui oleh living organisme untuk “dinilai” baik buruknya, sangat berbeda dengan iman yang menilai adalah Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s