Kisah Tukang Kayu Tua.

Ini saya kutipkan tulisan seorang cucu kepada saya, ibnusomowiyono.

Anne Ahira

To Me
Jan 25 at 7:08 AM

———————————-
Anne Ahira Newsletter
Think & Succeed!
———————————-

Dear Ibnusomowiyono,

Seorang tukang bangunan yang sudah
tua berniat untuk pensiun dari
profesi yang sudah ia geluti selama
puluhan tahun.

Ia ingin menikmati masa tua bersama
istri dan anak cucunya. Ia tahu ia
akan kehilangan penghasilan rutinnya
namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh
istirahat. Ia pun menyampaikan
rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia
akan kehilangan salah satu tukang
kayu terbaiknya, ahli bangunan yang
handal yang ia miliki dalam timnya.
Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum
tukang kayu tua ini berhenti, sang
mandor memintanya untuk sekali lagi
membangun sebuah rumah untuk terakhir
kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu
menyanggupi namun ia berkata karena
ia sudah berniat untuk pensiun maka
ia akan mengerjakannya tidak dengan
segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan
berkata, “Kerjakanlah dengan yang
terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas
membangun dengan semua bahan terbaik
yang ada.

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan
terakhirnya. Ia begitu malas-malasan.
Ia asal-asalan membuat rangka
bangunan, ia malas mencari, maka ia
gunakan bahan-bahan berkualitas
rendah. Sayang sekali, ia memilih
cara yang buruk untuk mengakhiri
karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor
datang untuk memeriksa. Saat sang
mandor memegang daun pintu depan, ia
berbalik dan berkata, “Ini adalah
rumahmu, hadiah dariku untukmu!

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia
sangat menyesal. Kalau saja sejak
awal ia tahu bahwa ia sedang
membangun rumahnya, ia akan
mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya,
ia harus tinggal di rumah yang ia
bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini.
Anggaplah rumah itu sama dengan
kehidupan Anda. Setiap kali Anda
memalu paku, memasang rangka,
memasang keramik, lakukanlah dengan
segenap hati dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah
akibat dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari
keputusanmu saat ini

 

Seandainya saya yang menjadi tukang kayu tua yang sudah ingin pensiun, saya tidak akan bersedia menuruti permintaan sang mandor. Seandainya saya menjadi sang mandor, saya akan beri tahu kepada tukang kayu yang saya suruh membuat rumah terakhir bahwa rumah itu akan saya berikan kepadanya sebagai penghargaan atas dedikasi dan jaza-jazanya.

Seandainya mandor saya akan menghadiahi rumah dengan dalih apapun, saya akan sangat berterima kasih, namun karena saya telah memiliki rumah hasil jerih payah selama bekerja dan selama bekerja saya telah menerima upah/hak atas kewajiban saya  secara adil, maka akan lebih baik rumah itu dimanfaatkan untuk mereka yang belum memiliki tempat tinggal.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kisah Tukang Kayu Tua.

  1. Akung Ibnu berkata:

    Saya tidak menyandang gelar formal karena untuk memperolehnya dibutuhkan pengorbanan yang sangat berat bagi saya, yaitu “tergadainya” kemerdekaan demi memperoleh gelar formal. Bagi saya kemerdekaan bukan sekedar jembatan untuk mencapai tujuan, melainkan bagian dari tujuan hidup saya.
    Saya hanya akan melakukan apa yang ” sesuai dengan keinginan/selera saya dan mampu saya kerjakan” , inilah yang menjadikan saya sering menyia-nyiakan kesempatan yang “lewat”, sementara saya mengejar kesempatan yang ada dalam mimpi saya yang menginspirasi untuk saya capai, dengan syarat tidak mengorbankan kemerdekaan untuk mencapainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s