Apa bedanya budi pekerti, akhlak, moral dll nya:

Pertanyaan: Apakah setiap living orgamism memiliki budi pekerti, ataukah budi pekerti hanya dimiliki oleh manusia? Apakah budi pekerti sama dengan akhlak, moral dan lain-lain istilah yang sering digunakan sebagai tingkah laku manusia?

Jawaban: Menurut TP setiap living organisme memiliki budi  pekerti, sedangkan akhlak hanya dimiliki oleh manusia, sebagai halnya soul dimiliki setiap living organism, namun ruh hanya dimiliki oleh manusia.

Sebagai pembanding saya kutibkan beberapa tulisan yang mengulas secara umum, bukan atas dasar TM dan Turunannya:

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.[4] Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat.[2] Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.[2]

Dalam Encyclopedia Brittanica[5], akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilaibaikburuk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagaifilsafat moral.[2]

Syarat[sunting | sunting sumber]

Tolong-menolong merupakan salah satu akhlak baik terhadap sesama

Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.[2]

  1. Perbuatan yang baik atau buruk.
  2. Kemampuan melakukan perbuatan.
  3. Kesadaran akan perbuatan itu
  4. Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk

Sumber[sunting | sunting sumber]

Akhlak bersumber pada agama.[2] Perangai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watakyang merupakan bawaan seseorang.[2] Pembentukan peragai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya.[2] Lingkungan yang paling kecil adalahkeluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Secara terminologi akhlak berartitingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.[2] Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.[2]

Budi pekerti[sunting | sunting sumber]

Budi pekerti pada kamus bahasa Indonesia merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti [1]. Budi berarti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran.[2] Pekerti berarti kelakuan.[2] Secara terminologi, kata budi ialah yang ada pada manusia yang berhubungan dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran,rasio yang disebut dengan nama karakter.[2] Sedangkan pekerti ialah apa yang terlihat pada manusia, karena didorong oleh perasaan hati, yang disebut behavior.[2] Jadi dari kedua kata tersebut budipekerti dapat diartikan sebagai perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.[2] Penerapan budi pekerti tergantung kepada pelaksanaanya.[2] Budi pekerti dapat bersifat positif maupun negatif.[2] Budi pekerti itu sendiri selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Budi pekerti didorong oleh kekuatan yang terdapat di dalam hati yaitu rasio.[2] Rasio mempunyai tabiat kecenderungan kepada ingin tahu dan mau menerima yang logis, yang masuk akal dan sebaliknya tidak mau menerima yang analogis, yang tidak masuk akal.[2]

Selain unsur rasio di dalam hati manusia juga terdapat unsur lainnya yaitu unsur rasa.[2] Perasaan manusia dibentuk oleh adanya suatu pengalaman,pendidikanpengetahuan dan suasana lingkungan.[2] Rasa mempunyai kecenderungan kepada keindahan [2] Letak keindahan adalah pada keharmonisan susunan sesuatu, harmonis antara unsur jasmani dengan rohaniharmonis antara ciptarasa dan karsa, harmonis antara individu dengan masyarakat, harmonis susunan keluarga, harmonis hubungan antara keluarga.[2] Keharmonisan akan menimbulkan rasa nyaman dalam kalbu dan tentram dalam hati.[2]Perasaan hati itu sering disebut dengan nama “hati kecil” atau dengan nama lain yaitu “suara kata hati”, lebih umum lagi disebuut dengan nama hati nurani.[2]Suara hati selalu mendorong untuk berbuat baik yang bersifat keutamaan serta memperingatkan perbuatan yang buruk dan brusaha mencegah perbuatan yang bersifat buruk dan hina.[2] Setiap orang mempunyai suara hati, walaupun suara hati tersebut kadang-kadang berbeda. [6]. Hal ini disebabkan oleh perbedaan keyakinan, perbedaan pengalaman, perbedaan lingkungan, perbedaan pendidikan dan sebagainya. Namun mempunyai kesamaan, yaitu keinginan mencapai kebahagiaan dan keutamaan kebaikan yang tertinggi sebagai tujuan hidup.[2]

Karsa[sunting | sunting sumber]

Dalam diri manusia itu sendiri memiliki karsa yang berhubungan dengan rasio dan rasa.[2] Karsa disebut dengan kemauan atau kehendak, hal ini tentunya berbeda dengan keinginan.[2] Keinginan lebih mendekati pada senang atau cinta yang kadang-kadang berlawanan antara satu keinginan dengan keinginan lainnya dari seseorang pada waktu yang sama, keinginan belum menuju pada pelaksanaan.[2] Kehendak atau kemauan adalah keinginan yang dipilih di antara keinginan-keinginan yang banyak untuk dilaksanakan.[2] Adapun kehendak muncul melalui sebuah proses sebagai berikut[7]:

  • Ada stimulan kedalam panca indera
  • Timbul keinginan-keinginan
  • Timbul kebimbangan, proses memilih
  • Menentukan pilihan kepada salah satu keinginan
  • Keinginan yang dipilih menjadi salah satu kemauan, selanjutnya akan dilaksanakan.

Perbuatan yang dilaksanakan dengan kesadaran dan dengan kehendaklah yang disebut dengan perbuatan budi pekerti.[1]

Moral[sunting | sunting sumber]

Moraletika dan akhlak memiliki pengertian yang sangat berbeda. Moral berasal dari bahasa latinyaitu mos, yang berarti adat istiadat yang menjadi dasar untuk mengukur apakah perbuatan seseorang baik atau buruk [8]. Dapat dikatakan baik buruk suatu perbuatan secara moral, bersifat lokal. Sedangkan akhlak adalah tingkah laku baik, buruk, salah benar, penilaian ini dipandang dari sudut hukum yang ada di dalam ajaran agama. Perbedaan dengan etika, yakni Etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Etika terdiri dari tiga pendekatan, yaitu etika deskriptifetika normatif, dan metaetika [9]. Kaidah etika yang biasa dimunculkan dalam etika deskriptif adalah adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Sedangkan kaidah yang sering muncul dalam etika normatif, yaituhati nuranikebebasan dan tanggung jawabnilai dan norma, serta hak dan kewajiban. Selanjutnya yang termasuk kaidah dalam metaetika adalah ucapan-ucapan yang dikatakan pada bidang moralitas. Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa etika adalah ilmumoral adalah ajaran, dan akhlak adalah tingkah laku manusia [10].

Pembagian Akhlak[sunting | sunting sumber]

Akhlak Baik (Al-Hamidah)[sunting | sunting sumber]

1. Jujur (Ash-Shidqu)[sunting | sunting sumber]

adalah suatu tingkah laku yang didorong oleh keinginan (niat) yang baik dengan tujuan tidak mendatangkan kerugian bagi dirinya maupun oranglain.

2. Berprilaku baik (Husnul Khuluqi)[sunting | sunting sumber]

3. Malu (Al-Haya’)[sunting | sunting sumber]

4. Rendah hati (At-Tawadlu’)[sunting | sunting sumber]

5. Murah hati (Al-Hilmu)[sunting | sunting sumber]

6. Sabar (Ash-Shobr)[sunting | sunting sumber]

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, “Rasulullah SAW. bersabda”, “Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru”, “Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?”. Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. “Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?”. Orang-orang ini menjawab, “Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)”. “Apa keutamaan kalian ?”, tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, “Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati”. Akhirnya dikatakan pada mereka, “Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :”Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?”. Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. “Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?”. Orang-orang ini menjawab, “Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). “Kesabaran apa yang kalian maksud ?”, tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, “Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, “Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. (Hilyatul Auliyaa’/ Juz III/ Hal. 140)

Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah)[sunting | sunting sumber]

1. Mencuri/mengambil bukan haknya 2. Iri hati 3. Membicarakan kejelekan orang lain (bergosip) 4. Membunuh 5. Segala bentuk tindakan yang tercela dan merugikan orang lain ( mahluk lain)

Ruang Lingkup Akhlak[sunting | sunting sumber]

Akhlak pribadi[sunting | sunting sumber]

Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyaiperbuatan.[1]

Akhlak berkeluarga[sunting | sunting sumber]

Akhlak ini meliputi kewajiban orang tuaanak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga dirikehormatan dan kemuliaan.[1]

Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.[1]Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat.[1] Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu.[1] Pamanmubibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.[1]

Akhlak bermasyarakat[sunting | sunting sumber]

Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat padatetangga.[1]

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebutmasyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma– norma kesusilaan yang berlaku.[1]

Akhlak bernegara[sunting | sunting sumber]

Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.[1]

Akhlak beragama[sunting | sunting sumber]

Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.[1]

Mengapa setiap living organisme memiliki budi pekerti? Budi pekerti adalah hasil dari akal budi, yang artinya pemanfaatan energy x dan energy y, namun tidak dalam kondisi keseimbangan prima yang bersifat statis melainkan keseimbangan yang dinamis disekitar titik E=0. Tubuh  living organism  adalah organism , sehingga dibangun oleh clear body (clear energy) dengan STW. Clear body memiliki E = 0, sedangkan STW berupa gelombang manikul weber x dan y yang menghasilkan photon. Jadi organism bukan semata-mata materi melainkan memiliki unsur cahaya yang menghasilkan photon. Unsur cahaya inilah yang memungkinkan organsim berinteraksi vitalistik dengan soul maupun spirit. Organisme akan terurai saat telah tidak dikendalikan lagi oleh soul maupun spirit karena sebenuhnya dibangun oleh materi (E=0). Dalam keadaan hidup setiap living organism dikendalikan oleh soul atau spirit sehingga perilaku setiap living organism dapat terdeteksi oleh akal budi, sebagai halnya materi dapat terdeteksi oleh pancaindera dan peralatan fisika.

Setiap perbuatan living organisme dapat dinilai oleh manusia atas dasar akal budi, bukan atas dasar dogma.

Mengenai akhlak saya tidak begitu memahami, namun akhlak tidak hanya dinilai oleh sesama manusia, melainkan oleh Tuhan, ini sesuai dengan Spiritual Religious (Agama Langit  terutama Islam) yang erat kaitannya dengan iman..

Moralitas adalah tatanan untuk mengatur kehidupan manusia, agar berbeda dengan living organism lainnya. TM menginformasikan adanya berbagai moralitas:

1. Moralitas Agung (Moa)adalah tatanan untuk mengatur kehidupan manusia dengan mekanisme dosa dan pahala. Barang siapa patuh pada Tuhan YMK akan memperoleh pahala sehingga dapat memperoleh kebahagiaan abadi, sedangkan yang ingkar akan menrima sangsi siksaan berkepanjangan., diantaranya adalah siksa kubur.

2. Moralitas Tertib Hukum (MoTH) tatanan untuk mengatur kehidupan manusia dengan penegakan Hukum Buatan Manusia. Yang patuh pada hukum yang berlaku dalam masyarakat  akan dilindungi oleh hukum, yang tidak patuh akan terkena sangsi seketika, tak usah menanti peradilan akhirat.

3. Moralitas Minimalis (MoM) tatanan untuk mengatur manusia yang berasal dari masing-masing individu yang telah dibekali kesadaran oleh Tuhan YME untuk mengatur diri, jenis dan lingkungannya atas dasar akal budi. Akal budi dapat dinilai oleh sesama manusia yang memiliki akal budi. Menurut akal budi siapapun akan dinilai oleh manusia, bukan oleh Tuhan, sehingga siapa saja yang merugikan/menelantarkan diri, mencederai jenis (orang lain) yang menjadi tanggung jawabnya serta lingkungan akan mendapatkan nilai buruk sehingga tidak dipercaya oleh lingkungan yang baik, sebaliknya dalam lingkungan yang buruk seorang yang menggunakan akal budinya tidak akan ikut-ikutan buruk.

4. Moralitas Modern  yang sok moralis:  memanfaatkan MoA dan Hak Asasi Manusia untuk melawan MoTH. Membodohi MoM. Menjadikan penjara bukan lagi sebagai tempat penjera, melainkan rumah sakit penyembuhan sekaligus tempat penular penyakit masyarakat. Memandang manusia bukan atas dasar  budi pekertinya, melainkan atas keperkasaan  fisik, kedudukan, kekayaan dan menjadi budak materi/uang.

 

 

 

 

.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s