Hujan abu hujan telpun dan hujan buatan, hujan masalah, hujan ide mengatasi masalah.

Jum’at 14 Februari 2014: dini hari Urip menelpon memberitahu jika diluar hujan abu. Aku keluar,  keadaan gelap pekat malau telah terdengar  kumandang Azan subuh, bahkan seharusnya matahari telah terbit di timur.

Kuketahui lewat TV tadi malam gunung Kelud “meletus”.

Sore hari:

Ika menelpon bertanya perihal hujan abu, sebab kemarin  dia dan keluarganya ke Yogya menengok anaknya yang sekolah di Simenari Magelang sekaligus membersihkan rumahnya di Mesan.
“Pak de, katanya Yogya hujan abu. Benarkah?”
“Ya, benar.”
“Waduh, rumah kami kotor lagi, bagaimana ya?”
“Katanya  yang Kung  dan yang Tie nya Santal  akan ke Yogya.”
“Ya itu, kasihan kan, di Jakarta sudah bersih-bersih lumpur karena banjir, sekarang akan ke Yogya harus bersih-bersih debu di Yogya.”
“Itu risikonya punya rumah. Tinggal saja di apartment.”
“Apakah debunya banyak?”
“Tebalnya abu Kelut di Mesan dua kalinya abu Merapi.”
“Wah, tebal sekali, ngeri deh.”

Ida menelpon:
“Akung jangan bepergian, di rumah saja dan selalu pakai masker, debunya pasti berhamburan kemana-mana.”
“Ya benar, kami membagi tugas: Utie berdoa meminta segera turun hujan, akung berusaha membuat hujan tiruan.”
“Walah  kayak  ilmuwan, membuat hujan tiruan.”
“Yang dapat membuat hujan tiruan bukan hanya ilmuwan, akung benar-benar melakukannya. Menara air akung di lantai empat cukup untuk menyemprotkan air ke semua atap rumah kita, kecuali atap lantai  empat dimana diletakkan tangki air itu.”

“O, hujan buatan akung sanggup membersihkan seluruh atap rumah Mesan, hebat sekali.”                                                                                                                                        ” Karena kebetulan air melimpah, karena musim hujan akung berani menghambur-hamburkan air, mudah-mudahan pomba airnya tidak ngadat.  Belum seluruh bagian, tetapi lumayan, dapat mengurangi abu yang menutupi genteng dan  lantai. ”

Diana menelpon utie  Endang yang menyatakan hujan abu di Solo membuat orang tuanya kelabakan karena menunggu hujan tidak kunjung datang.
Utie Endang menceriterakan perihal diserahi tugas oleh akung  berdoa memohon hujan, namun ternyata doanya tidak mujarab, maka dia ikut membantu akung membersihkan atap rumah dengan hujan tiruan, disamping sibuk membersihkan debu yang berhamburan di semua tempat.

Yulia menelpon memberitahu Fanda telah dioperasi usus buntunya, sedangkan Endi, suaminya, telah dioperasi batu ginjalnya sehingga kami tidak terfokus pada hujan abu. Dua operasi itu dilakukan bersamaan dengan hujan abu gunung Kelud. Akung lalu ingat: gempa bumi Yogya juga bersamaan dengan Ulang Tahun Ida.

Sigit menelpon menanyakan perihal hujan abu  di Yogya dan mengabarkan bahwa di Winsor,tempat tinggalnya.  terjadi  hujan  salju yang sangat lebat, terhebat sepanjang yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Atap rumah sudah sudah kami bersihkan dengan membuat hujan tiruan berkat tersedianya reservoir di lantai ke empat yang kami sediakan untuk menyediakan air bertekanan tinggi guna kebutuhan heater gas dilantai dua dan air bersih bagi lantai tiga.   Lumpurnya turun ke jalan Mesan sehingga jalan didepan rumah kami penuh dengan lumpur abu.

Di sepanjang jalan Mesan terdapat saluran irigasi. Penduduk di sepanjang jalan Mesan menyiram jalan yang dipenuhi abu  dengan air saluran irigasi yang mengalir di tepi selatan jalan Mesan agar tidak berdebu dengan air irigasi. Yang tidak terpikirkan akibat hujan buatan kami l umpur abu  yang berasal dari atap rumah kami  jatuh ke  tepi utara jalan  Mesan  dan terbawa oleh ban kendaraan menambah ketebalan lumpur sepanjang jalan.
Beberapa orang berinisiatip “menutup” pintu air di sudut jalan bagian timur/selatan jalan sehingga air mengalir ditepi jalan dari timur ke -barat di sisi selatan jalan yang lebih rendar dari tepi utara jalan. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk menggiring lumpur yang berhamburan di tepi utara jalan  dan  terbawa oleh ban/roda kendaraan yang lewat  menyebar sepanjang jalan yang dilewati.

Lumpur yang terkumpul didepan rumah  kami semprot dengan air air bertekanan sangat tinggi  ke arah selatan agar terbawa oleh air yang mengalir di tepi selatan jalan  dari timur ke barat untuk kemudian kembali masuk selokan irigasi.

Saat itu jalan sangat lengang sehingga kendaraan yang lewat dapat memilih bagian jalan yang menguntungkan,  tepi sebelah selatan yang bersih dari lumpur.

Kami saksikan kendaraan yang lewat,  pengendara yang menggunakan akal budi, bukan asal-asalan, dapat  menghindari bagian yang berlumpur (di tepi utara) dan memilih yang dialiri oleh air (di tepi selatan jalan) , sebaliknya pengendara yang tidak memanfaatkan kesempatan tersedianya aliran air  bersih yang mengalir untuk memberisihkan ban/rodanya, malah melewati bagian yang berlumpur sehingga membawa lumpur ke sepanjang jalan dan menjadikan kendaraan itu malah berkelepotan lumpur.

Keadaan kacau ini  akibat berebut kepentingan dalam mengatasi masalah, namun akan kembali teratur jika masing-masing menyadari kepentingan bersama, bukan cari benarnya sendiri hingga menimbulkan sengketa.

a.  Mereka yang mengalirkan air irigasi sepanjang tepi jalan  menggunakan akal (dark energy) hingga bukan benar dalam kondisi normal  (menggunakan air irigasi) tetapi  penar (tepat)  untuk mengatasi kondisi  darurat , sebab saat ini musim penghujan, sehingga air melimpah. Hal ini sejalan dengan membuat hujan tiruan dari menara air yang kami lakukan.

b. Mereka yang menyiram jalan dengan air irigasi  agar  tidak berdebu ( bukan membersihkan abu)  tidak benar (menggunakan air irigasi)   dan kurang penar (karena menjadikan jalan malah berlumpur yang akan segera kembali menjadi berdebu saat  mengering atau harus  terus menerus menyiram air sehingga  kurang efisien.

c. Kendaraan yang  memilih tempat yang berlumpur dalam kondisi normal  benar karena mematuhi peraturan lalu lintas, berjalan dikiri, namun tidak penar saat kondisi darurat, karena akan menyebar lumpur.  Jika berpapasan seharusnya berhenti dulu, tidak nekat melintas di bagian yang berlumpur.

d. Pengendara yang memanfaatkan bagian yang dialiri air bukan yang bagian yang dipenuhi lumpur  dapat benar  sekaligus penar bagi yang kebetulan melintas ke barat, bagi yang ke timur dalam kondisi normal tidak benar, namun penar dalam kondisi darurat karena tidak akan  gelepotan dan menyebar lumpur sepanjang jalan.

Saat kami berusaha menggiring lumpur dengan air bertekanan tinggi agar terbawa oleh aliran air ditepi selatan jalan terjadi hal yang menjadikan kami menghentikan upaya ” sia-sia itu” .

Kami tidak mengenakan masker karena lorong sepi, jalanan basah bahkan dialiri air. Kami tidak peduli pada atap  tetangga yang  masih dipenuhi debu, sebab tak ada hembusan angin sama sekali. Hanya atap rumah kami yang telah kami guyur dengan “hujan” buatan., namun harus kami sempurnakan dengan  menyemrot lumpur yang jatuh ke jalan agar ikut terhanyut dengan air sepanjang jalan Mesan. Tiba-tiba angin berhenbus dengan sangat keras  dari selatan menghamburkan abu  tebal di atap tetangga, pak Tanto. Angin itu seakan “menembakkan” debu kearah kami sehingga kulempar slang ke jalan dan cepat-cepat masuk rumah.

“Lho kung, slangnya itu mengganggu jalan!”  Endang memperingatkan. Aku keluar lagi mengenakan masker. Kulihat Endang tidak mengenakan masker.

“Dasar bego, lebih penting mana slang dengan masker? Mengapa utie tak mengenakan masker?”‘

“Siapa bilang, nih!” sambil menarik bajunya untuk menutupi hidungnya. “Tak usah panik, aku kan punya akal seperti Max Gaver, memanfaatkan yang dapat dimanfaatkan, tidak panik seperti akung.”

“Bukan akal namanya, refleks. Untung  yang dipakai menutup hidung baju, bukan rok yang menutupi itunya Utie, padahal celananya Utie sudah dilempar ke atap rumah  untuk menolak hujan.”

“He, kita mengharap hujan, bukan menolak hujan.”

“Ya,ya……….makanya berdoa sajalah, tidak usah ikut-ikutan bantuin hujan buatan.”

“Aku sudah melakukan, nyatanya tetap tidak datang hujan, makanya tidak cukup hanya berdoa,  harus berusaha.”

“Thankyou, aku dibantu.”

“Akung ikut berdoa, biar dikabulkan oleh Allah sebab semakin banyak yang berdoa semakin tinggi relive energy-nya , kan?”

“Minimalis nih , tahu relative energy segala.  Menurut prediksi akung nanti malam akan hujan.”

“Kok tahu.”

“Angin kan pembawa hujan, jadi angin tadi meminta kita bersabar menanti hujan yang akan dibawanya nanti malam.”

Pukul 22.00 hujan turun, benar kata Endang : Semakin banyak yang berdoa semakin tinggi energy doa sesuai dengan Teori Minimalis. Tetapi tiba-tiba listrik padam, namun kami telah menyiapkan “bulan tiruan”. Kami nyalakan  LED dengan aki dan inverter, sehingga kami dapat mengatasi gelap, namun aku segera ingat, tanpa listrik PLN…………… kami akan kehabisan air karena telah kami gunakan untuk membuat hujan tiruan. Aku segera tenang karena telah tersedia Genset, jadi air dapat dipompa dengan Genset.

Dua jam kemudian listrik menyala, namun kemudian padam lagi hingga pagi hari. Aku berusaha menghidupkan Genset, ternyata bensinnya tinggal sedikit. Untuk membeli bensin tidak boleh menggunakan jeligen, atau harus mendapat rekomendasi dari RT,RW dan Kalurahan.

Jam 6 pagi  listrik nyala, aku lega tak posing cari bensin untuk menyalakan Gen Set. Saat membuka gurden jendela depan  kulihat atap pak Tanto masih tertutup oleh abu tebal.
O, jadi yang  ku alami semalam cuma mimpi gara-gara memprediksikan akan hujan atas dasar adanya angin kemarin.  Aku harus beli bensin untuk persiapan sewaktu-waktu listrik padam lagi, paling gampang akan kupenuhi  tangki mobil untuk sewaktu-waktu kusedot isinya dam kugunakan untuk mengisi Gen set.

Ternyata Starlet tak dapat kustater gara-gara aki terkor. Aku tak pernah menggunakan starlet karena “dilarang” oleh anak-anak, sehingga aku  ogah setiap saat memanasi atau merawat  kendaraan  kesayangan isteriku ini.

Kudengar gemericik air  jatuh di dekat starlet yang gelepotan abu dan tak mau kuisi bensin itu. Aku naik ke lantai dua, kulihat Endang sedang sibuk mengguyur genteng yang gelepotan debu dengan ember.

Aku naik ke lantai 3 dan menyaksikan keadaan di sekeliling rumah kami yang dapat terlihat dengan jelas sekali, karena langit sangat cerah.   Genteng  rumah di sebelah timur jalan  menuju Peruman Intan Permai  dan Hotel Tentrem telah bersih, sedangkan genteng rumah di sebelah barat jalan  masih berselimut abu tebal.

O, jadi tadi malam memang hujan.  Prediksi akan hujan atas dasar hembusan angin ternyata benar numun hujan yang turun tidak merata.  Dugaanku benar: Listrik padam biasanya  disebabkan oleh hujan atau angin.

Kondisi  alam memang sedang kacau, ada yang kebagian hujan abu, ada yang kebagian listrik padam, ada yang kebagian banjir dan tanah longsor,  ada yang kebagian banjir lahar dingin dan lumpur,   ada yang kebagian  badai  dan taufan, ada yang kebagian hujan salju, tetapi kita sebenarnya juga kebanjiran ide untuk mengatasi masalah.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s