Tuhan YME adalah hasil akal budi manusia.

Pertanyaan: Menurut Eyang Ibnusomowiyono: Tuhan Yang Maha Esa adalah hasil akal budi manusia, ini artinya tanpa manusia Dia tidak ada. Jadi Tuhan YME itu berbeda dengan Tuhan atau Tuhan YMK. yang tetap ada walaupun tidak ada manusia. Apakah Tuhan YME itu identik dengan tuhannya orang materialistik dan tuhannya orang atheis?
Jawaban: Akungibnu ganti bertanya: Einstein yang merupakan manusia genius itu selama hidupnya tidak dapat membuktikan adanya eter. Apakah ini artinya eter itu tidak ada di Alam Semesta?

Kalau cucu menganggap Einstein itu Tuhan yang mengetahui segalanya, maka barulah secara akal budi, bukan sekedar dogma, dapat dibuktikan bahwa eter memang tidak ada. Tetapi Einstein itu hanyalah manusia, bukan Tuhan, jadi dia hanya sanggup menggunakan akal budinya untuk membuktikan adanya eter dan itu telah dilakukan selama hidupnya namun tidak dapat menemukan eter. Nah,  akungibnu juga menggunakan akal budinya untuk mencari eter, agar dapat “menemukan” eter maka akungibnu mendefinisikan dulu apa yang disebut eter itu. Sejalan dengan itu akungibnu ingin menemukan Tuhan dengan akal budinya,bukan atas dasar dogma,  maka terlebih dulu akungibnu mendefiniskan kata tuhan agar  tidak hanya sekedar yakin melainkan yakin setelah berfikir. Nah, agar tidak rancu akungibnu menggunakan istilah Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda dengan  tuhan yang disembah oleh yang mempertuhan karena sanggup memberikan yang diinginkan oleh yang mempertuhan dan menghindarkan atau bahkan tidak menyediakan apa yang tidak diinginkan oleh yang mempertuhan.

Tuhan YME diperkenalkan oleh leluhur kita , oleh the founding Father dalam Sila Pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, namun tidak didefinisikan apa itu Tuhan YME sehingga sering ditafsirkan sebagai  Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjanjikan kebahagian hidup abadi bagi yang mematuhi perintahNya dan akan memberikan sangsi hukuman berkepanjangan bagi yang ingkar.

Dalam kenyataan ada (bahkan banyak) manusia yang tidak mau menerima dogma yang menjadikan Tuhan (YMK) sebagai  pengatur segalanya dipandang oleh manusia yang menggunakan akal budinya pembelenggu kebebasan berkeyakinan, berfikir apa lagi berbuat, sebab dogma ini dimanfaatkan oleh manusia yang kebetulan berkuasa untuk memaksakan kehendaknya dengan mengatas namakan Tuhan YMK, disisi lain  setan  yang  justru “menjerumuskan” manusia  malah  tidak memaksa, melainkan “menggoda”.  Inilah sebabnya bagi yang tidak kuat imannya, yakin atas dasar dogma,  akan mudah terjerumus dalam bujukan setan.

Teori Minimalis justru berusaha untuk mengagungkan Tuhan YME, atas dasar akal budi yang dibekalkan oleh Nya kepada manusia sebagai bagian dari microcosmos, bukan atas dasar dogma yang menjadikan Tuhan (YMK)  tak diterima oleh yang kaum  atheis akibat terbius oleh kenikmatan materialistik hingga mempertuhan berhala, dan mereka yang tidak mau terbelenggu akal budinya demi memanfaatkan segala yang tersedia disekelingnya.

Jadi jelas Tuhan YME bukan hanya tuhan Nya orang atheis/ materialistik/ bebas berfikir, melainkan juga Tuhan setiap ciptaan Nya, sehingga Dia juga maha tahu, maha kuasa, maha adil dan lain-lain, namun  atas dasar kenyataan Tuhan YME juga menyediakan yang tidak diinginkan oleh manusia.

Nah, secara nalar, bukan dogma, Tuhan YME berbeda dengan tuhan menurut difinisi umum: memberikan yang diinginkan oleh yang menyembah dan menghindarkan dari yang tidak diinginkan oleh yang menyembah. Tuhan YME berbeda dengan Tuhan YMK yang menjanjikan…………………… bagi yang patuh padaNya dan “menghukum” pada yang ingkar.

Bagi yang menggunakan akal budinya hidup ini merupakan kesempatan untuk memilih, bagi yang mau menggunakan kesempatan memilih, namun  harus sanggup berbuat untuk memenuhi keinginannya/ pilihannya dan berani menanggung risikonya. Disamping nalar manusia juga dikaruniahi batin untuk mengimbangi nalar/akal.  Jika hanya menggunakan akal, maka manusia akan cenderung melakukan akal-akalan, tidak peduli pada lingkungannya, sedangkan jika hanya mengandalkan batinnya cenderung akan tidak peduli pada kenyataan yang dapat terakses lewat kemampuan pancaindera, hidup bagaikan sekedar fatamorgana.

Tuhan YME hanya dapat diterima lewat akal budi, bukan hanya akal mapun hanya batin. Setiap manusia dapat dan berhak mengkritisinya akan kebenarannya, sangat berbeda dengan Tuhan berdasar dogma.

Inilah yang dimaksud Tuhan YME berdasar Teori Som Wyn gagasan Eyang IbnuSomowiyono yang merupakan hasil olah akal budi manusia, bukan dogma.

Tuhan Yang Maha Esa:
1. Menyediakan segalanya yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan oleh ciptaanNya,termasuk manusia.
2. Membekalkan kesadaran (consciousness) pada setiap ciptaanNya untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing, sehingga Alam Semesta dapat cosmos (teratur), namun suatu saat dapat chaos akibat berebut kepentingan namun akan menjadi teratur kembali saat masing-masing menyadari kepentingan bersama.
3. Memberi kesempatan untuk memilih:  patuh kepada yang membimbing, menjadi pembimbing atau menuruti kehendak sendiri.
4. Segala yang terjadi adalah ulah ciptaanNya namun pasti telah mendapatkan izinNya. (Axioma Som Wyn) 
5. Izin itu hanya akan diberikan kepada ciptaanNya yang sanggup berbuat untuk menuruti keinginannya, dan berani menanggung risikonya.

Penjelasannya:
1. Tuhan YME berbeda dengan difinisi tuhan secara umum.
2. Dia tidak setiap saat mencipta sebagai layaknya seorang seniman yang  harus memulai dan menyelesaikan karyanya, melainkan  merencanakan dengan seksama sebelum “menorehkan ” Karya besarNya yang sanggup menyediakan segalanya dalam sekejap  baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan oleh ciptaanNya, termasuk manusia. Dia tidak setiap saat   mengatur ciptaanNya karena Dia telah menyediakan segalanya, memberi bekal kesadaran kepada setiap ciptaanNya untuk menguru diri, jenis dan lingkungan masing-masing. kesadaran.
3. Dia sanggup melakukan apa saja (maha dalam segalanya), namun memberikan kesempatan untuk dipimpin, memimpin atau menuruti keinginan dan jalan hidup sendiri.
4. Adalah naif menggunakan Tuhan YME untuk “menghalangi” apa yang terbukti dapat terjadi, sebab pasti telah mendapatkan izinNya. Tuhan YME menurut akal budi manusia sangat konsisten.
5. Risiko suatu perbuatan adalah mendapatkan reaksi (hukum aksi reaksi) dari diri sendiri, jenis dan lingkungan (termasuk yang sedang berkuasa).
Seandainya izin itu telah diberikan, namun jika yang diberi izin tidak berani risikonya, dengan sendirinya izin itu tak akan digunakan.

Kesimpulan: Tuhan YME memang hasil akal budi manusia, namun tanpa manusia bukan berarti Tuhan YME tidak ada, sebab manusia sangat terbatas kemampuannya, termasuk akal budinya. Lebih banyak yang tak mungkin diketahui oleh manusia, namun manusia berusaha membuat tahu dirinya lewat akal budi, bukan lewat dogma yang harus dipercaya

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s