Alam Semesta mengembang terus?

Pertanyaan: Menurut Eyang Ibnu penyatuan eteric (E#0) dengan eterik (E#0) akan menghasilkan eteric dan quantum minimalis. Sangat luar biasa, ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa Alam Semesta (versi Science) atau Sub Alam Fisika (versi Teori Minimalis) dapat mengembang, karena quantum memerlukan ruangan sedangkan eteric belum memerlukan ruangan.
Yang saya tanyakan: mungkinkah Alam Semesta/ Sub Alam Fisika akan menysut lagi? Menurut Eyang Ibnu penyatuan maupun penggabungan sesama quantum minimalis hanya menghasilkan quantum dan tidak menghasilkan eteric. Ini berarti Alam Semesta akan terisi oleh quantum minimalis saja. Jadi Science memang benar: Alam Semesta hanya terisi oleh Energi Fisika (quantum) yang membentuk matter. Bagaimana eyang dapat menyanggah kebenaran Science?

Jawaban: Jika cucu mengikuti TM secara cermat ada statement TM yang menyatakan: Photon adalah media transisi memasuki Keseimbangan Prima, sedangkan graviton merupakan media transisi keluar dari Keseimbangan Prima. Jadi tidak benar jika Alam Semesta hanya akan terisi oleh materi yang dibangun oleh quantum, yang benar adalah Sub Alam Fisika memang hanya terisi oleh quantum (quantum minimalis, rantai terbuka quantum quantum minimalis, rantai tertutup quantum minimalis dan quantum eteric.) sehingga Sub Alam Fisika dikuasai oleh lima dimensi (dimensi waktu, dimensi massa dan tiga dimensi ruanang nyata).
Menurut TM Alam Semesta tersusun dari Sub Alam Gaib, Sub Alam Metafisika, Sub Alam Transien, Sub AlamFisika dan Sub Alam Boiologi, sehingga tidak benar kalau Alam Semesta mengembang. Kalau Alam Semesta mengembang artinya mengekpansi keluar  sehingga mendesak Alam Abadi sehingga Alam Abadi tidak lagi abadi (karena dipengaruhi oleh dimensi waktu).
Menurut TM yang dapat mengembang atau menyusut  hanyalah Sub Alam Fisika atas dasar terbentuknya quantum eteric dari eteric dan sebaliknya. Mengembangnya Sub Alam Fisika dapat diamati oleh Pancaindera dan peralatan Fisika. Alam Semesta secara keseluruhan tidak mungkin teramati oleh pancaindera dan peralatan fisika. Yang sanggup mengamati Sub Alam Gaib hanya batin atau budi , yang sanggup mengamati Sub Alam Metafisika hanya fikiran/akal, bahkan Sub Alam Transien hanya mungkin terakses lewat kondisi bawah sadar, diantaranya mimpi dan angan-angan yang tidak membumi.

Science adalah ilmu pengetahuan materialistik sebagai hasil pemikiran ,( tidak memanfaatkan batin) dan harus dapat dibuktikan dengan pengamatan pancaindera dan peralatan fisika. Spiritual Religious yang mengandalkan batin / keyakinan atas dasar dogma yang harus diterima tanpa difikir dan tidak membutuhkan bukti berdasar pancaindera atau peralatan fisika.

Science hanya sanggup mewujutkan kenikmatan duniawi yang bersifat sesaat, sedangkab  Spiritual Religious (Agama Langit) menjanjikan kebahagian abadi.

Teori Minimalis pendukung  Revolusi Spiritual Ilmiah yang memanfaatkan akal budi, sehingga memanfaatkan akal untuk mendapatkan kemudahan/kenikmatan hidup sementara dan batin/ budi agar dapat/ sanggup melakukan kesinambungan hidup melalui reinkarnasi hingga pada akhirnya sanggup memperoleh kebahagiaan abadi.
Spiritual Ilmiah adalah upaya manusia keluar dari materialisme sehingga terhindar dari atheisme, namun juga memberikan kebebasan berkeyakinan, berfikir bahkan berbuat sepanjang mendapatkan izin dari Tuhan Yang Maha Esa (bukan dibelenggu oleh dogma yang menjanjikan kebahagiaan abadi bagi yang patuh pada bimbingan Tuhan Yang Maha Pengatur/Maha Kuasa dan mendapatkan sangsi siksa berkebanjangan bagi yang ingkar).

Spiritual Ilmiah merupakan pengembangan Science yang hanya memanfaatkan yang tersedia di Sub Alam Fisika sehingga menjadi sanggup memanfaatkan yang tersedia di Sub Alam Transien. Sebagai contoh: manusia tidak mungkin bermigrasi kebagian Sub Alam Fisika yang jaraknya sangat jauh, apalagi mencapai Alam Abadi dalam satu kehidupan yang teramat pendek.
Spiritual Ilmiah berguru pada Alam agar sanggup melakukan apa yang dilakukan oleh Alam, sebagai contoh: Alam sanggup menghasilkan dan sanggup mengatur  berbagai macam energi  dalam macrocosmos dan  mengatur tujuh lapis kehidupan  microcosmos. Dengan berguru pada Alam bukan berarti manusia mempertuhan Alam apalagi berhala melainkan untuk memuliakan Tuhan YME yang telah  menyesiakan segalanya dan memberikan kesadaran kepada setiap ciptaanNya untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing, memberi kesempatan untuk membimbing (menjadi guru),  dibimbing (menjadi murid) atau menuruti keinginan sendiri sehingga menjadi  mandiri, tidak tergantung  dari guru.

Manusia sebagai living organisme  sanggup melakukan apasaja dalam alam bawah sadarnya (misalnya mimpi) dan saat ini telah terbukti manusia sanggup menyajikan Dunia Maya yang mirip mimpi.

Cucu terkesima (gumun) dengan penjelasan Akungibnu yang menjelaskan FSM berdasar matematika konvensional dan Teori Magned Weber, sayangnya “tersesat” dengan penjelasan mengenai: penyatuan eteric yang sanggup menghasilkan eteric dan quantum minimalis, karena cucu masih terbelenggu dengan Science yang materialistik. Pada ujungnya cucu beranggapan bahwa Alam Semesta dipandang sebagai Sub Alam Fusika dengan menisbikan Sub Alam lainnya.
Coba perhatikan: eter yang terjadi, E’ = – x^2 + y^2, disamping quantum minimalis E” = -xp + xp.
Eter yang terjadi itu semakin lama E nya semakin membesar merupakan fungsi ekponensiel , sedangkan  quantum yang terbentuk merupakan hasil perkalian x dan y.  Keduanya memiliki variable lebih tinggi dari  eter yang menyatu.

Sangat sulit untuk membuktikan  mana yang lebih besar, namun terbentuknya quantum akan menyebabkan Sub Alam Fisika mengembang secara revolusioner, sangat berbeda dengan terjadinya photon yang evolusiner.

Kalau cucu gunakan akal budi, bukan akal-akalan atau dogma, eter tidak meninggalkan Alam Semesta maupun Sub Alam Transien bahkan E nya berkembang secara exponensial, yang memasuki Sub Alam Fisika ( bedakan dengan Alam Semesta yang juga diisi oleh eter) hanyalah quantum minimalisnya yang menyebabkan Sub Alam Fisika mengembang.  Yang harus dipertanyakan benarkah di Sub Alam Fisika terjadi ledakan akibat terbentuknya quantum minimalis  dari penggabungan eter secara revolusioner? Benarkah di Sub Alam Fisika terjadi benda baru yang tadinya tidak ada di Sub Alam Fisika?

Nah, makanya: Aja gumunan lan gampang percaya ning ya aja maido apa sing durung kok ngerteni. Thinking before beliving is the way to reality.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s