Tata Bahasa dan Rasa Bahasa.

Pertanyaan: Pada Ibnu’s Site di Multiply Eyang Ibnu mengupas masalah Rasa Bahasa, mohon dijelaskan perbedaan antara Rasa Bahasa dengan Tata Bahasa.  

Jawaban: Bahasa adalah sistem/tatanan yang digunakan sebagai sarana  komunikasi dan informasi diantara microcosmos dalam macrocosmos. 

Agar dapat saling memahami maka dibutuhkan tatanan, diantara tatanan tersebut adalah Tata Bahasa.  Setiap kelompok microcosmos, termasuk living organisme dan manusia membutuhkan saling berkomunikasi atau saling memberi dan menerima informasi dengan bahasa masing-masing. Sebagai contoh: bangsa Indonesia membutuhkan bahasa Indonesia disamping bahasa daerah agar seluruh bangsa Indonesia sanggup berkomunikasi dan memberi/menerima informasi. Bahasa Inggris digunakan untuk berkomunikasi antar bangsa yang menggunakan  berbagai bahasa.

Setiap bahasa memiliki tatanan dalam penyusunan kata (bahkan suku kata atau tanda-tanda dalam bahasa) yang tersusun secara sistematis sehingga mudah dimengerti oleh kelompok yang memanfaatkan bahasa tersebut.  Tatanan ini tersusun sebagai Tata  Bahasa.

Tata Bahasa seringkali menjadi runyam saat dikontaminasi oleh kata-kata asing atau kata-kata daerah. Dalam kondisi demikian tiap-tiap individu yang dikendalikan oleh z (soul) atau spirit membutuhkan kepekaan dalam memanfaatkan bahasa yang menyimpang dari Tata Bahasa  atau dalam menafsirkan sebuah kata yang ambigus. Kemampuan individu inilah yang dinamakan Rasa Bahasa.

Banyak  kata-kata yang belum terdefinisikan atau didefinisikan  akibat perkembangan peradaban manusia yang sangat cepat sehingga  tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, sebagai contoh  istilah macrocosmos dan microcosmos, tuhan, energi dan non energi, nol alias nihil,  dark energy, alam semesta………………. dan lain-lain.

Setiap manusia (dan living organisme lainnya yang dikendalikan oleh soul maupun spirit)  secara individual juga  berkomunikasi antara unsur macrocosmos (tubuh yang tersusun oleh organisme) dan antara unsur microcosmosmos ( akal dan fikiran, dogma dan batin,  ilmu sosio materialis dan ilmu  individual materialisme). Komunikasi internal dalam satu individu inilah membutuhkan rasa bahasa yang dikelola oleh otak dalam kondisi sadar. Jadi rasa bahasa itu tatanan subjektif, tiap individu memiliki kemampuan  rasa bahasa masing-masing.  Rasa bahasa ini sangat penting untuk melengkapi atau mengimbangi (meyanggah) Tata Bahasa. Seorang yang memiliki rasa bahasa tinggi akan merasa adanya “kejanggalan” Tata Bahasa sehingga membuat idiomatik atau istilah baru  yang mungkin   penyimpangan dari Tata Bahasa.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s