Akal dan Batin itu Ilmiah , sedang Fikiran dan Dogma itu itu alami.

Pertanyaan: Mohon dijelaskan mengapa akal dan batin itu ilmiah namun individual, sedangkan fikiran dan dogma itu alami dan universal.

Jawaban: Pelajari TM dan TM plus.

A. TM hanya mempelajari energi yang mengisi Alam Semesta membentuk Macrocosmos berdasar FSM ( E = -x + y ) sehingga bersifat Alami dan universal.

B. TM Plus menginformasikan adanya non energi (E# -x + y)  diantaranya z atau soul (z # -x + y )  yang sanggup melakukan interaksi vitalistik dengan body yang tersusun dari energi membentuk microcosmos (sintesa antara E = – x + y  dan z # -x +y ).

Z termasuk non energi dan diformulan berdasar akal budi  dengan FSW ( z # -x + y ).  FSW  merupakan hasil budaya manusia yang  diformulakan oleh seorang manusia  yang bernama Somawiyana/ Som Wyn  (Ibnusomowiyono ) atas dasar akal budi (bukan dogma) sehingga bersifat ilmiah (dapat diterima oleh  akal dan batin/ bukan hanya akal saja)  namun bersifat individualis (tidak universal). Buktinya ada yang menganggap memenuhi logika fikiran (alias logis dan ilmiah) ada yang menganggap “ngawur) tak sesuai dengan science (yang matereialistik) yang tak mengakui adanya z.

Pada TM 004 akal budi dinotasikan dengan ( >< )  sehingga sama dengan notasi fikiran (metafisika) dan dogma (gaib/dogmatis) yang juga (><).  Jadi TM 004 tidak membedakan antara akal budi dan metafisik dan dogma, namun jika notasi tersebut diterima oleh Spiritual Ilmiah dan Science, maka yang menentukan apakah (>< ) adalah individu yang menggunakan notasi tersebut.

Terus terang  Som Wyn adalah seorang yang individualis, bahkan cenderung egois, sehingga sering kali  dicap sebagai sombong alias bong som. 

Agar lebih mengerti TM 004 mari kita cermati ringkasan dibawah ini.

a.  Teori Som Wyn menggunakan  notasi (><) sebagai akal budi, bukan pikiran dan dogma sehingga bersifat individual ilmiah. 

b. Spiritual Ilmiah menggunakan notasi ( ><) sebagai  fenomena Spiritual yang Universal dan Ilmiah yang individual. Jadi penyatuan antara Universal dan ilmiah.

c. Spiritual Religious menggunakan notasi (><) sebagai fikiran yang  universal dan dogma (bukan batin) yang juga universal.  Spiritual Religious bersifat Universal, namun terpecah menjadi berbagai agama hingga bersifat individual.

Menurut TM dan TM plus  Perkembangan Budaya Manusia berlaku revolusioner (bukan evolusioner sebagai  budaya living organisme lainnya) dinyatakan:    Spiritual Religious muncul saat manusia telah menggunakan fikiran (bukal akal) yang diimbangi dengan dogma  sebagai mekanisme mengatur manusia  yang tidak lagi takut lagi pada keperkasaan alam, dan menggantikan dengan Kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. sehingga berbeda dengan Spiritual Alamiah saat manusia belum  sanggup menggunakan fikirannya sehingga hanya  menggunakan pancaindera  dan kemampuan bawah sadarnya, namun  baru sanggup mencapai paralogika negatif, tak dapat membedakan antara mimpi/angan-angan  dengan kenyataan.

d. Ilmu pengetahuan yang materialistik tidak mengenal notasi (><  ) melainkan notasi (==) sebagai notasi  maximalis (keserakahan penggunakan energi fisika)   sedangkan ilmu pengetahuan metafisika  hanya mengenal notasi  ( >>) sebagai notasi supirioisme sebagai pandangan  yang tidak ada yang melebihi manusia, menisbikan kekuatan alam , bahkan sang pencipta alam. Keduanya berujung pada atheisme. 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s