Pasangan Jokowi dan Ahok sangat ideal , saling mengimbangi.

Pertanyaan: Menurut Akungibnu pasangan Jokowi dan Ahok saling mengimbangi. Mungkinkah kedua orang ini berpasangan menjadi presiden dan wakil presiden?

Jawaban: Mungkin sekali sebab Prabowo pernah berpasangan dengan Megawati. Ini bukti kedua partai PDIP dan Gerindra memiliki  plaform yang sama: memperjuangan nasib rakyat kecil.

Megawati telah rela tidak mencalonkan diri sebagai presiden dan memberi kesempatan kepada Jokowi (anak asuhnya) untuk menjadi  calon presiden, mengapa Prabowo tidak mengikuti jejak  Megawati memberi kesempatan kepada Ahok (anak asugnya)  untuk menjadi calon wakil presiden?

Semoga Prabowo menggunakan akal budinya, bukan hanya mengandalkan akalnya yang cerdas terpisah dari  batinnya yang lembut.  Akal budi menjadi penentu budi pekerti seseorang, yang akan dinilai oleh setiap orang (rakyat yang akan memilih pemimpin yang berbudi pekerti luhur atau amanah)..  Jika Prabowo rela memberi kesempatan kepada Ahok untuk menjadi pendamping Jokowi sebagai yang pernah dilakukan mendampingkan Ahok dengan Jokowi untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta), menunjukkan dia memiliki budi pekerti yang luhur.

Semoga Prabowo dan Megawati bersedia mendampingkan Jokowi dan Ahok sebagai Capres dan Cawapres tahun 2014,  seperti yang dilakukan pada pemilihan gubernur Jakarta, maka jika pasangan Jokowi dan Ahok berhasil menduduki RI 1 dan RI 2, maka dapat  menebus kegagalan/kekalahan  saat mereka  berpasangan pada pemilu yang lalu dan gagal menduduki RI 1 dan 2.

Ibaratnya: Kegagalan seorang ayah dan ibu dapat tertebus oleh keberhasilan anak-anaknya.

Jika mereka., baik Prabowo maupun Megawati,  bersikukuh mencaklonkan diri sebagai capres, menunjukkan mereka hanya mementingkan diri sendiri, tidak rela berkorban dengan memberi kesempatan/ mengorbitkan  anak-anak mereka (generasi muda)  untuk memimpin bangsa yang  diprediksikan hancur pada tahun 2020. Apa yang dapat diharapkan oleh rakyat dan bangsa Indonesia yang dipimpin oleh orang yang hanya mementingkan diri sendiri?

 

Akungibnu memprediksikan pasangan Jokowi dan Ahok akan terpilih menjadi orang nomor satu dan nomor dua di Republik  seandainya didukung oleh PDIP dan Gerindra, bukan malah saling menghancurkan satu dengan yang lain.

Analisa mengenai Efeck Jokowi yang tidak signifikan dibanding Efek Prabowo yang menjadikan Gerindra mendapatkan kenaikanatau perolehan suara melebihi kenaikan suara yang diperoleh PDIP, serta  Efek Oma Irama yang mendongkrak perolehan suara PKB, cenderung  menjerumuskan Prabowo dan Muhaimin., yang menjadikan mereka merasa supoerior/ takabur. Analisa itu tidak menggunakan akal budi, melainkan sekedar akal-akalan.  Mengapa?

Banyak faktor kenaikan suara yang diperoleh PDIP, Gerindra maupun BK, diantaranya runtuhnya Demokrat akibat ketidak puasan masyarakat terhadap Demokrat, sehingga rakyat menyalurkan suaranya ke partai lain.

PDIP tidak memperoleh kenaikan signifikan dibanding Gerindra dan PKB justru harus kita sukuri, sebab tidak menjadikan Jokowi lupa daratan.

Mengapa Efek Jokowi tidak menjadikan PDIP  dapat mencapai perolehan suara diatas 20% dan justru perolehan suara Gerindra diluar dugaan ?  Menurut Akungibnu pribadi disebabkan “kekecewaan akar rumput PDIP yang tidak setuju Jokowi yang bukan dinasiti Soekarno dicalonkan sebagai Presiden oleh PDIP, sehingga mereka memindahkan suara kepada Gerindra. Mengapa? Plaform Gerindra yang dipimping oleh seorang sosialis  (Putra Tokoh PSI)  sama dengan plafom PDIP yang juga berasaskan Sosialisme Indonesia.

Sebelum pencalonan pasangan Mega Prabowo  beberapa tokoh PDIP telah menyeberang ke Gerindra, diantaranya seorang paranormal terkenal yang sanggup memprediksikan apa yang akan terjadi.  Sekarang telah terbukti suara Gerindra benar-benar melejit, namun tidak sehebat Demokrat yang dimotori oleh SBY sebelumnya, yang kini runtuh akibat ulah para petualang yang menyalah gunakan kepercayaan rakyat untuk kepentingan partai dan kepentingan pribadi.

Pecahnya pamor Gerindra juga  akibat kekesalan kaum muda atas sikap SBY yang terlalu lemah (lebih menggunakan batin dari akal)  sehingga mereka merindukan pemimpin yang berani dan tegas, tanpa peduli risiko memiliki seorang pemimpin yang dapat berlaku otoriter.

Jokowi yang merakyat dan Ahok yang tegas menghadapi rakyat yang tak tahu diri merupakan pasangan yang ideal, saling mengimbangi. Mereka bukan boneka dari Mega maupun Prabowo, melainkan  anak didik yang akan meneruskan idealisme sang pendidiknya.

 

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s