Mengapa Science menisbikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mungkinkah Science membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Esa?

Pertanyaan: Menurut Akungibnu dengan memanfaatkan akal manusia sanggup membuat peralatan fisika yang dapat memperhebat kemampuan penginderaan manusia yang sangat terbatas menjadi hampir tidak terbatas sehingga dapat mengakses Alam Semesta yang teramat luas dan isinya yang sangat halus. Apakah hanya akibat penemuan peralatan fisika menjadikan manusia atheis? Mungkinkah Tuhan Yang Maha Esa dapat dibuktikan keberadaannya, tidak seperti Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak dapat dibuktikan keberadaannya?

Jawaban: Tuhan Yang Maha Esa adalah hasil akal budi manusia  (Filosofi)   yang individual dan ilmiah, merupakan pintu gerbang memasuki Spiritual Ilmiah (SS)  sedangkan Tuhan Yang Maha Kuasa adalah hasil keseimbangan dinamis antara Fikiran* Dogma yang alami dan universal yang merupakan pintu gerbang memasuki Spiritual Religious (RS).

Yang menjadikan keserakahan (maximalisme)  adalah Ilmu Materialistik yang berkembang akibat penemuan peralatan fisika dan superiorisme (Penguatan fikiran dengan akal).  Tuhan Yang Maha Kuasa menjanjikan kehidupan yang lebih mulia (kebahagiaan abadi) bagi yang patuh pada Tuhan YMK dan memberikan sangsi kepada yang ingkar. Baik Tuhan YMK dan janji Nya tak dapat terakses oleh pancaindera dan peralatan fisika, juga dianggap tidak masuk akal, sehingga dinisbikan.

Tuhan Yang Maha Kuasa   termasuk Spirirtual Religious berdasar dogma yang tak perlu dibuktikan lewat pancaindera dan peralatan fisika dan fikiran yang alami dan universal.

Tuhan Yang Maha Esa termasuk konsep Spiritual Ilmiah,  paling tidak dapat diterima oleh akal (karena hasil akal budi manusia), juga dapat diterima oleh batin (karena hasil akal budi manusia).

Tuhan YME tidak berdasar objeknya (jumlahnya berapa) , melainkan berdasar subjeknya, manusia yang menggunakan akal budinya yang individual dan ilmiah sehingga berbeda-beda satu dengan lainnya dan  harus dipersatukan dengan adanya Satu Tuhan (Tuhan YME)  untuk semua yang berbeda-beda agar dapat menyatu (tidak tercerai berai), ibaratnya Bhinneka Tunggal Ika.

Tuhan Yang Maha Esa dapat terakses oleh pancaindera dari bukti hasil ciptaanNya baik yang termasuk dalam macrocosmos maupun microcosmos.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s