Quo vadis demokrasi gado-gado?

Pertanyaan: Pemilihan Caleg saat ini dianggap paling buruk dalam sejarah demokrasi di Indonesia. Apakah Pemilihan Presiden juga akan menjadi paling buruk?

Jawaban:

a.Jangan apriori menyatakan Pemilihan Caleg saat ini paling buruk, harus dibuktikan dulu. Semoga MK dapat memperbaiki citranya dengan tidak mengulangi kesalahan massa lampau dalam menegakkan kebenaran dalam menangani sengketa pemileg.

b.Dengan hanya ada dua pasangan calong prisiden/wakilnya merupakan kabar menggembirakan, sebab tidak mungkin terjadi putaran kedua, cukup sekali, sehingga tidak menghambur-hamburkan uang dan waktu.

Era reformasi menjadikan demokrasi di Indonesia bagaikan gado-gado. Demokrasi menurut UUD 45 adalah Demokrasi Presidensiel, walau pernah dicoba demokrasi parlementer yang ternyata tidak stabil.
Dekrit Presiden mengembalikan ke demokrasi presidentsiel, baik dalam Era Orde Lama maupun Orde Baru. Terbukti Orde Baru dengan sistem presidensiel dapat bertahan lebih dari 30 tahun.
Era Reformasi menjadikan sistem demokrasi menjadi gado-gado, bukan lagi presidensiel, atau  parlementer. Reformasi menutup kemungkinan terbentuknya penguasa yang otoriter, disisi lain menjadikan presiden tidak “berdaya” dalam menghadapi parlemen. Ini dapat dibuktikan beberapa orang presiden pada Era Reformasi  hanya bertahan sangat singkat akibat tidak didukung atau bahkan dijatuhkan oleh parlement.

Saat ini ada yang memimpikan seorang presiden yang lebih tegas,cerdas, sehingga sanggup menasionalisasi perusahaan asing, menghapus sistem kerja kontrak dan memurnikan agama.
Disisi lain ada yang memimpikan seorang presiden yang senasib seperjuangan dengan rakyat dengan harapan dapat merubah nasib rakyat yang putus asa sehingga berlaku anarkis.

Yang perlu dipertanyakan adalah: seorang presiden yang dianggap merakyat sanggup memperjuangklan perbaikan nasib rakyat jika tidak didukung oleh jajaran legeslatif dan judikatif? Diasisi lain: apa yang dapat diharapkan dari seorang presiden yang tegas hingga berani menasionalisali perusahaan asing, menghilangkan sistem kerja kontrak, memurnikan agama hingga tak terjadi penistaan agama?

Menurut saya: Pemilu Presiden/wakilnya yang akan segera dilakukan merupakan  kesempatan untuk membuktikan apakah rakyat mempercayai presiden yang membumi atau presiden  yang melangit. Apakah akan memilih yang “menguasai” parlemen, bahkan Presiden dan Wakilnya Ketua Parpol , dan mungkin juga menteri-menterinya elit parpol,  atau upaya menegakkan demokrasi presidensiel dengan bukti  presiden dan wakilnya bukan ketua parpol.

Prediksi saya: Kalau rakyat memang sudah tidak percaya lagi pada parpol mereka akan memilih Presiden yang berusaha memilih menterinya bukan atas dasar kursi di DPR melainkan atas dasar kemampuan dan didekasinya kepada rakyat. 

Ada baiknya sebelum pemilihan presiden masing-masing capres/ cawapres memaparkan missi dan fisinya serta  telah siap menyusun siapa yang bakal menjadi menterinya. Dengan demikian rakyat tidak harus memilih kucing dalam karung.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s