Akungibnu memihak, tidak pantas jadi panutan!

Pertanyaan: Saya sangat kecewa, akungibnu yang mengagung-agungkan akal budi, ternyata terpisah akal budinya, sebab memihak pada salah satu kubu capres (Jokowi). Akan lebih baik akungibnu golput!

Jawaban: Akung tidak pernah menjadi golput, sebab goput  berarti massa bodoh pada nasib rakyat dan bangsa yang sangat akung cintai. Akung memihak tidak tanpa alasan: Akung menggunakan akal budi untuk menilai budi pekerti seseorang, bukan sekedar ikut-ikutan.

Sebagai contoh:

a. Akung mengacungkan jempol ke atas pada Megawati karena  berani melepaskan diri dari kultur dinasti dengan mencalonkan orang muda diluar dinasti Soekarno. Namun akung mengacungkan kempol kebawah sikap Megawati yang tidak mau “memaafkan” SBY.

b. Akung tak rela mengacungkan jempol keatas pada  Prabowo yang tidak rela mencalonkan Ahok sebagai wapres, malah menagih  janji pada Megawati. Ini berarti  Prabowo belum menunjukkan sikap rela melepaskan diri dari politik dinasti Soemitro. Seandainya Prabowo secara gentlement meminta diadili atas tuduhan keterlibatannya dalam “tragedi nasional“, akung akan mengacungkan jempol keatas.

c. Akung menilai budi pekerti berdasar akal budi terhadap Jokowi, Jusuf Kala maupun Prabowo dan Hata Rajasa. Sebagai seorang yang kritis cucu dapat melakukan sebagai yang akung lakukan, nilailah budi pekerti mereka demi kepentingan rakyat dalam skala nasional maupun lokal. Nilailah dengan jujur berdasar akal budi dan pengamatan bukan berdasar janji.

d. Jokowi*Jusuf Kala jelas bukan ketua partai politik, RPrabowo dan Hata Rajasa  keduanya ketua partai partai politik, bahkan  didukung oleh para elet politik/partai  yang dipilih rakyat dan masih dicurigai  kurang jujur (harus dibuktikan dulu hingga butuh waktu).

e. Apa yang dapat diharapkan dari seorang presiden yang ditelikung oleh elit politik di DPR kalau tidak akan bernasib sama dengan SBY. Seharusnya cucu memahami kelemahan kabinet gado-gado (presiden yang ditelikung oleh elit politik DPR), tidak mungkin menjalankan perannya secara utuh untuk memikirkan rakyat. Gado-gado hanya cocok bagi elit politik yang melakukan jemaah bagi-bagi rejeki, sehingga rakyat ditelantarkan.

Mengapa wakil rakyat (elit politik)  berjemaah untuk bagi-bagi rejeki? Karena untuk dapat kursi yang empuk di DPR , pemerintahan atau  hukum, mereka membutuhkan  modal yang secara bisnis harus kembali.

a.  uang dari hasil usahanya,

b. reputasinya sebagi publik figur,

c. gelar berderet  yang disandangnya.

d. kemapanan yang harus semakin ditingkatkan demi kenikmatan hidup duniawi hingga lupa akan janji Tuhan YMK akan kebahagiaan abadi.

Rakyat yang belum sanggup memanfaatkan akal budinya  tidak akan sanggup menilai budi pekerti calon pemimpinnya sehingga  mudah dibodohi oleh mereka yang telah mapan,  sehingga dibutuhkan orang-orang yang kritis namun tidak massa bodoh.

Jadi Akung tidak akan menjadi golput, bahkan harus menentukan keberfihakan berdasar akal budi.

 

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s