Demokrasi gado-gado, demokrasi lotek dan demokrasi pecel.

Pertanyaan: Akungibnu ternyata tidak ginius, malah teramat bodoh atau sinting dengan menyamakan: Demokrasi saat ini adalah demokrasi gado-gado, Demokrasi Parlementer = demokrasi lotek dan demokrasi presidensiel = demokrasi pecel.

Sangat sulit memahami pemikiran Akungibnu. Terkesan Akung termasuk penggemar pecel  yang tidak bergizi, sehingga menjadi teramat bodoh,  lain dengan gado-gado sangat  bergizi hingga menjadikan penggemarnya menjadi cerdas dan tangkas. Aku malu jadi cucu akung!

Jawaban: Akung juga malu punya cucu yang kritis tetapi bersikap massa bodoh, butinya menganjurkan akung golput!

Akung dapat memahami alasan cucu menjadi golput, karena kecewa pada yang telah cucu pilih, ternyata semua bajingan! Sebaliknya Akungibnu tidak mau golput sebab golput berarti bersikap massa bodoh.  Akung lebih baik cucu katakan bodoh ketimbang massa bodoh.  Bodoh itu masih lebih “aman”  ketimbang massa bodoh!

a. Kebodohan masih dapat dikurangi sepanjang masih mau belajar.

b. Massa bodoh  akan menjadikan kebiasaan tidak peduli pada lingkungan..

Sikap  massa bodoh dapat dirubah secara  instant  menjadi peduli jika cucu  memahami situasi dan kondisi lingkungan demi keselamatan kita semua.

Sebaiknya cucu menyadari kondisi dan situasi saat ini sangat gawat, akibat krisis kepercayaan pada elit/partai politik  yang menikmati  demokrasi gado-gado, namun dengan kepedulian cucu  ikut memilih, tidak golput, berarti cucu ikut menyelamatkan bangsa dan negara ini dengan melakukan restorasi sebagai yang dicanangkan oleh Suryapaloh.

Inilah penjelasan Akungibnu bahayanya demokrasi gado-gado (makanan elit politik) sehingga  harus dikembalikan ke demokrasi pecel (makanan rakyat jelata).

Makna  demokrasi gado-gado adalah  campur aduk antara demokrasi presidensiel dengan  demokrasi parlementer, akibatnya presiden tidak  bebas dalam menjalankan fungsi eksekutif karena “dikendalikan” oleh elit politik di DPR. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi pada saat ini, sebab  saat ini kedua-duanya dipilih langsung oleh  rakyat yang masing-masing bertanggung jawab kepada rakyat yang memilih sesuai dengan hak dan tanggung jawab masing-masing.

SBY seharusnya memiliki hak dalam menjalankan fungsi eksekutif (menjalankan pemerintahan)  sebab dipilih langsung oleh rakyat untuk tugas menjalankan pemerintahan, sedangkan DPR bertugas  menjalankan fungsi legeslatif (membuat undang-undang dan mengawasi jalannya pemerintahan. Disisi lain terdapat tugas menjalankan hukum yang dilakukan jajaran judikatif.

Reformasi telah berjalan untuk  membatasi kewenangan presiden agar tidak berlaku otoriter seperti zaman Orba. Bangsa Indonesia telah menempuh jalan yang benar, memilih melakukan reformasi ketimbang revolusi, namun ternyata melenceng dari tujuan mencegah pemerintahan otoriter menjadi pemerintahan yang impoten (lemah syakwat).

Mengapa  impoten? Karena digebiri oleh para elit politik di DPR disamping penegakan hukum yang amburadul.

Koalisi dalam pemerintahan bertujuan “memperkuat” eksekutif  sehingga seharus terjadi langkah serempak mendukung kebijaksanaan presiden, dalam kenyataan diantara anggautanya berlaku mendua (ambigus) hingga saling berebut kepentingan dengan mengatas namakan  kepentingan rakyat, padahal sebenarnya merupakan kepentingan pribadi/golongan.  Banyak pejabat yang dipalak/diperas dan dijadikan sapi perahan oleh opnum yang mengetahui kesuburan lahan  dan  kelemahan fihak lain;  agar selamat mereka  harus bekerjasama dalam melakukan kejahatan. Kalau sudah begini rakyat yang menjadi korban, termasuk Akung dan Cucu!

Mengapa hal itu terjadi? Sebelum membentuk koalisi sejak awal  masing-masing sudah mengajukan persyaratan, tawar menawar alias “dagang sapi.” Koalisi macam ini jika tidak dicegah akan terus terulang dan berakibat kesengsaraan rakyat, atau…………….. sejarah akan terulang terpaksa dilakukan manifesto politik sebagai era Orla.

Sekarang ada kesempatan untuk memotong/mengakhiri koalisi dagang sapi  yang menjadikan cucu tidak percaya pada elit dan partai politik sehingga cucu  memilih menjadi golput dari pada memilih rampok dan bajingan, yaitu  berkoalisi tanpa syarat.

Jokowi menjanjikan koalisi tidak bersyarat, itulah sebabnya Akung memilih Jokowi*JK.  Akungibnu memberi kesempatan kepada Jokowi atas dasar menilai budi pekerti mereka berdasar penggunaan  akal budi, bukan ikut-ikutan atau berdasar iman mereka yang hanya dapat dinilai oleh Tuhan.

Akung tidak memilih Prabowo sebab dia tidak berani membersihkan diri dari dugaan terlibat kekejaman di Era Orba. Memilih dia sebelum dibuktikan “kebersihannya” bagaikan memilih kucing dalam karung, apalagi sudah nampak dia melakukan politik dagang sapi.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s