Mengapa cucu golput!

Pertanyaan: menurut cucu lebih baik golput ketimbang memilih bajingan dan rampok. Bubarkan saja semua Partai Politik, kita pilih lansung wakil rakyat tanpa melalui partai yang sudah terbukti hanya memikirkan kepentingan kelompoknya hingga harus ditumpas lewat KPK. Kasihan KPK harus berhadapan dengan koruptor yang berjemaah dan selalu berusaha menghancurkannya.

Jawaban: Saat ini sebelum hujan dibutuhkan awan, meniadakan partai politik dalam sistem demokrasi bagaikan mengharap hujan tapi meniadakan awan yang mengotori langit dan  menghalangi pancaran sinar matahari. Bagaikan:  Ingin makan cempedak tetapi ogah terkena getahnya!

Demokrasi memerlukan kehadiran partai politik , sebagai halnya hujan memerlukan kehadiran awan. Jadi kurang rasional jika semua partai politik dibubarkan, kecuali jika kita memang berniat menggantikan demokrasi dengan sistem yang lain, misalnya sistem otoriter yang mengandalkan kekuatan fisik atau sistim monarchi absolute yang memanfaatkan “agama” atau Spiritual Religious. Jika kita menggunakan akal*budi maka kita dapat menilai budi pekerti (perilaku) manusia  yang pantas memimpin masyarakat manusia.

Jika kita gunakan akal*budi maka seharusnya kita tak usah menyalahkan partai politik atau awan. Partai politik sangat bermanfaat untuk menegakkan demokrasi sebagai halnya awan bermanfaat untuk mendatangkan hujan. Namun sudah terbukti jika partai politik “disalah gunakan” oleh sekelompok manusia sekedar mencari kenikmatan individual atau kelompok,  maka hasilnya menyengsarakan rakyat sehingga tidak dipercaya lagi oleh rakyat. Jadi tidak heran cucu berniat membubarkan partai politik yang menghasilkan bajingan atau rampok.

Akan lebih baik bersikap waspada terhadap sepak terjang opnum/elit politikus, sebaliknya Institusi Partai politik juga  harus berusaha Partainya dipercaya oleh rakyat.

Jika cucu menggunakan akal*budinya: Kelompok yang mendukung calon presiden yang terang-terangan menjanjikan kursi dalam pemerintahan, jelas akan memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Disini berlaku politik dagang sapi.  Kelompok yang mendukung calon presiden yang tidak menjanjikan sesuatu  secara terang-terangan memang pantas dicurigai apakah mengharapkan sesuatu, namun tidak secara fulgar (terang-terangan).

Kesimpulan: Ada dua kubu:

a. Kubu fulgar yang tak punya malu sehingga punya saksi (rakyat)  untuk menagih  janji jika yang didukung menang. Disinilah letak kelebihan politik dagang sapi. Para pendukungnya teramat lihai.  Sebaliknya yang menjanjikan sesuatu pada yang mendukung ibaratnya : Menang jadi arang, kalah menjadi abu. Jika terpilih  akan digebiri oleh elit politik pendukungnya sehingga lemah syakwat atau impoten.  Jika tidak terpilih: bagaikan  jatuh tertimpa tangga.

b. Kubu “malu-malu kucing” yang tidak memiliki saksi (rakyat) sehingga tidak dapat menuntut janji jika yang didukung menang. Disini berlaku “dagang kepercayaan” Mereka percaya sepenuhnya (trastful)  pada calon yang didukungnya. Ucapan Jokowi: Kalah ra popo, menang ra popo” sebab tidak menjanjikan sesuatu kepada yang mendukungnya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s