Akal budi adalah metoda untuk memprediksikan yang akan terjadi pada diri seseorang atau kelompok/komunitas tertentu.

Pertanyaan: Metoda yang digunakan dalam quickcout adalah statistik, metoda apa yang Akunggunakan hingga sanggup memprediksikan sesuatu yang akan terjadi?

Jawaban:  Akubibnu menggunakan metoda akal-budi untuk memprediksikan sesuatu yang akan terjadi berdasar pengamatan budi-perkerti/peri laku 0bjek yang Akungibnu amati. Metoda akal-budi merupakan fenomena  keseimbangan akal-budi yang dalam Psychominimalis diberi notasi ><, sama dengan keseimbangan  notasi pikiran >< dogma.

Keseimbangan pikiran >< dogma adalah universal dan alami sedangkan keseimbangan akal-budi bersifat individual namun ilmiah.

Religious Spirituality (RS) merupakan hasil keseimbangan pikiran >< dogma. SR sanggup memprediksikan bahkan meramalkan sesuatu yang akan terjadi berdasar iman seseorang (kesatuan dogma * batin.)

Sientific Spriluality (SS) merupakan hasil keseimbangan akal >< budi (batin) sanggup memprediksikan ( namun tak sanggup meramalkan) berdasar penggunaan akal-budi lewat sarana panca indera dan perealatan fisika (berdasar kenyataan), sehingga bersifat ilmiah namun individual.

Statistik merupakan bagian dari Materialistic Science (MS) yang tersusun secara sistematik sehingga mudah dipelajari lewat  Science.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Akal budi adalah metoda untuk memprediksikan yang akan terjadi pada diri seseorang atau kelompok/komunitas tertentu.

  1. Akung Ibnu berkata:

    Pada tulisan sebelumnya Akungibnu tidak memprediksikan siapa yang akan menang dalam pemilihan presiden RI, melainkan mempertanyakan: Quo vadis r4akyat dan bangsa Indonesia yang akan menentukan pilihan mereka.
    Akungibnu memilih Jokowi dan JK untuk menjadi RI 1 atas dasar pengamatan dengan pemanfaatan akal budin budi pekerti/peri laku mereka.
    Akal budi bersifat individual namun ilmiah, sehingga seandainya Jokowi dan JK menang, ini artinya rakyat dan bangsa Indonesia sebagian besar menggunakan akal budinya.
    Jika seluruh rakyat menggunakan akal budinya, maka akan memilih “genti genten” ketimbang tiji-tibeh, sehingga tanggal 22-Juli 2014 tak akan terjadi “bencana”. Yang kini kalah tak usah “marah”, sebab masih ada kesempatan lain (lima tahun lagi).
    Tidak berkuasa adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri agar “dipercaya” rakyat hingga menang dalam pemilu lima tahun lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s