Stress atau kesurupan?

Pagi ini, Selasa 19 Agustus 2014 pukul 5,05, saat aku sedang menghadap monitor komputer meneruskan tulisan perihal bipolar,alter ego, kepribadian terpecah dan kepribadian ganda terdengar suara “gaduh”, teriakan seseorang. Aku mengintip dari jendela sebelah, kulihat beberapa anak kost menahan pintu gerbang masuk ke kost agar tidak dapat dimasuki dari luar.
“Mengapa ribut?” tegurku dari balik jendela.
“Ada orang kesurupan.” jawab mereka.
Aku keluar lewat pintu depan menuju ke rumah pak Pak Pur, teman ronda yang mempunyai kemampuan “menjinakan”/ menyadarkan orang kesurupan.
Aku berjalan kaki, rumah pak Pur sekitar 300 meter dari rumahku. Ditengah jalan adik iparku, Bambang Oerip, menyusul aku untuk digoncengkan.
Kami meminta “pertolongan” pak Pur untuk mengatasi orang kesurupan.
Kami mendahului pak Pur yang bersedia akan datang menusul kami.
Saat kami datang, pintu gerbang kost telah terbuka, kulihat seorang pemuda duduk ditepi bak sambah, dikelilingi oleh bebarapa orang.
Aku berjalan ke pintu gerbang yang telah terbuka. Pemuda yang duduk ditepi bak sampah mengacung-acungkan tanganan menolak kedatanganku. Aku tetap mendekati tanpa rasa kawatir, karena banyak orang disekitarnya yang menurut nalar tak akan tinggal diam seandainya orang yang “kesurupan” itu menyerang aku.
“Kamu kenal ku? Aku mbah Ibnu, pemilik kost ini.”
“Sudah,sudah, aku akan pergi, aku akan kembali ke Kalimantan, aku tidak betah tinggal disini.”
Aku yakin dia tidak kesurupan atau mabuk sebab dari omongannya dia mengenal aku.
Tiba-tiba Martana  nongol : “Sudah pak, aku akan menanganinya. Dia patuh kepadaku.”
“Ya, jangan gunakan kekerasan!”
Marta memegang kedua tangan Rangga yang dikira kesurupan oleh teman-teman kost,, ternyata pemuda ini patuh dan bersedia dibimbing keluar menjauh dari orang yang mengerumuni.
Pak Purwa  datang, sebelum mendekati Martana dan Rangga aku memberikan informasi; ” Dia  itu sangat sopan, tetapi kalau  sudah kumpul teman-temannya, seakan larut sehingga tidak peduli pada lingkungan.”

Kutinggalkan pak Purwa, Martana dan Rangga, aku masuk ke rumah mematikan komputer lalu memberi tahu Endang apa yang telah kulakukan untuk “menangani” kasus “kesurupan” itu.

“Bagaimana kung, aku khawatir pak Pur menyatakan anak itu kesurupan, apalagi mengatakan rumah ini angker. Dia kan ustad”

“Ya, tapi pandangannya luas dan lagi dia sangat mengenal  aku, Aku memberi buku mengenai pengalaman hidupku.”

“Namaku  bapak Mas Yon?”

“Ya! Tak usah khawatir.”

Aku keluar, Didepan pintu gerbang pak Pur sudah siap pada kendaraan roda duanya, untuk pulang.  Cepat-cepat aku mengambil Mio untuk menyusul pak Pur, ternyata pak Pur tidak segera pulang melainkan berbincang dengan Oerip dan anak-anak kost yang lain.

“Bagaimana anak itu?”

“Orang tuanya akan datang,” tukas salah seorang anak kost.”

“Dia bukan kesurupan,” kata pak Pur dan didengar oleh yang lain,

“Mabuk?”

“Cuma stres.”

“Sudah  saya duga stres, sebab dia masih mengenal saya  dan berjanji akan pergi ke Kalimantan, karena tak tahan lagi tinggal di kost ini. Suaranya kukenal, bukan suara orang lain, kalau kesurupan pasti tidak mengenal saya lagi dan suaranya berubah.”
“Kalau mabuk pasti sempoyongan,” komentar temannya.

‘Saya lega jika orang tuanya datang.”

Tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor berhenti dan dengan gaya orang penting menayakan apa yang sedang terjadi.

“Ah, tidak apa-apa,” saut pak Pur dengan acuh, orang itu segera berlalu.

“Siapa dia?”

“Tidak tahu,” jawab pak Pur.

“Kok aneh, gayanya itu lho, kayak sudah kenal pak Pur.” kata ku “O ya,,ada yang lebih aneh, sebelum kejadian ini saya menulis di situs saya mengenai bi polar, yang berkaitan dengan kelainan kejiwaan.”

——————–

Rangga menempati kamar 9 yang terletak di lantai tiga. Kamar ini menghadap ke selatan, berjendela lebar, ada teras didepannya sehingga dapat melihat jalan Mesan yang membujur ke barat, bahkan dapat melihat kampus AMY. Banyak yang “menyukai”  kamar ini walau untuk mencapainya harus melewati trap beton permanen  yang landai menuju lantai dua, kemudian harus melewati tangga kayu darurat yang terjal menuju ke lantai 3.

Kelemahan kamar ini adalah, jika berbicara agak keras atau membunyikan radio, tv,  peralatan elektronik yang dilengkapi audio  suaranya akan terdengar dari lingkungan dibawahnya, diantara dari rumah induk di lantai satu, rumah Bambang Oerip  dan rumah Tito, bahkan jika jendela dibuka dapat terdengar hingga AMY.

Suatu saat Endang merasa terganggu oleh suara gaduh ditengah malam  dari kamar 9. Keesok harinya aku menanyakan pada penghuni kamar 9, ternyata semalam mereka menonton pertandingan sepak bola. Kuperingatkan agar jangan membuat kegaduhan dimalam hari.

Untuk sementara agaknya mereka memindahkan kegiatan nonton bola ke  kamar 12 yang penghuninya, Joko, sedang berlayar. Saat Joko datang memprotes karena harus membayar listrik Rp 175.000. Dia hanya memiliki uang Rp 50.000,-  Untuk sementara kuterima uang itu dan akan kuteliti sebabnya.  Bulan berikutnya kamar no 6 rekening listriknya membengkak dan tidak segera membayar, sehingga listrik tidak kunyalakan. Anehnya: terdapat kabel gulungan  terentang  dari tempat jemuran pakaian  yang beratap menuju ke lantai satu.  Kabel itu  menuju perbatasan kamar 6 yang dihuni oleh Vaizin dan kamar 12 yang dihuni oleh Joko.

Kamar 6 belum kuhidupkan listriknya karena belum melunasi rekening  listrik bulanannya. Aku curiga  listrik diambil dari kamar Joko, oleh karena itu listrik kamar 12 kumatikan.  Joko protes, kukatakan: Lunasi dulu kekurangan listrik bulan  lalu, alasanku dia memberi sambungan listrik  ke kamar 6 dan jempat jemuran yang digunakan oleh rombongan Vaizin. Joko “menyanggah” tuduhan itu, namun segera melunasi tunggakan listrik. Listrik  kamar 12 kunyalakan.

Anak kost kukumpulkan untuk memberi kesaksian mengenai penggunaan “kabel” misterius tersebuat. Poce  yang menenpati kamar 15 disebelah jemuran, menyatakan aktivitas “pencurian” listrik dari kamar Joko sudah berlangsung lama saat ditinggal oleh penghuninya berlayar, jadi Joko menjadi korbannya. Belakangan Poce  diminta memberi aliran listrik via kabel “liar” tersebut, namun dia menolaknya.

Vaizin ternyata pulang kampung, padahal  kontraknya hampir  habis dan tidak menyatakan akan  memperpanjang. Kukatakan kepada anak-anak kost yang ada untuk mengirim pesan pada Vaizin agar mencari kost lain, sebab tidak kuizinkan untuk memperpanjang. Kabel “liar” itu kusita dan kuminta jika akan mengambil harus melunasi tunggakan listrik yang belum dibayar. 

Tindakan tegas itu kuambil untuk memberi sangsi bagi yang menghubungkan aliran listrik keluar kamar kecuali atas izinku. Mengapa? Listrik merupakan sarana untuk mengatur ketertiban kost, barang siapan melanggar tatatertib lingkungan  sewaktu-waktu  listrik akan kupadamkan. Setiap tanggal 15 listrik juga kumatikan dari kamar kontrol, masing-masing kamar kami lengkapi dengan kwh meter dan NCB. Listrik akan kunyatalan saat penghuninya telah melunasi rekening listrik bulanannya.  Pengambilan listrik dari kamar lain ternyata disalah gunakan.

————————-

Angga akan memperpanjang kontrak sewa kamar. Kuminta sewa bulanan saja  agar jika  mengulangi kesalahannya, mengganggu lingkungan, bebas mencari kost lain tanpa kehilangan uang kontrakan. Sewa bulanan Rp 300,000,- (kamar kosong) + jaminan penggunaan listrik, sampah dan air Rp 200,000.= total Rp 500.000. Uang jaminan akan dikembalikan kelebihannya saat harus meninggalkan kost Esna. 

Rangga meminta diizinkan memperpanjang kontrakan enam bulan Rp 800.000,- + tagihan penggunaan  listrik, air dan sampah. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya, mengganggu lingkungan, jika melanggar sewaktu-waktu harus meninggalkan kost Esna, tanpa syarat. 

Aku mengizinkan  perpanjangan itu sebab dia telah “menghentikan” aktivitasnya sehingga suasana menjadi baik, tenang dan tenteram. 

Dalam pernilaianku Rangga selalu  sopan, itulah sebabnya saat terjadi peristiwa “misterius” itu, aku mencoba mengetahui apakah dia  kesurupan , mabuk  atau stress.dengan menanyakan apakah dia mengenal aku sebagai bapak kost. Dugaanku benar :”Dia dalam kondisi stress”

Endang tidak sependapat, menurut istriku yang kritis ini (menggunakan akal budinya)  ” Rangga  bukan stress,  tapi kalap.”  Kalap berbeda dengan stres. Kalap diakibatkan tidak sanggup menahan amarah. Jika amarah itu reda kondisinya akan segera normal, berbeda dengan stress membutuhkan waktu lama  dan pengobatan.

Semoga analisa Endang ini benar!

 —————————–

Aku menemui Martana untuk mendapatkan informasi perihal Rangga. Menurut Martana ayah Rangga telah datang dan membawa rangga ke seorang ahli  penyakit jiwa. . Dokter jiwa itu menasihatkan agar Rangga dibawa kerumah sakit Jiwa. Martana tak sependapar sehingga Rangga diminta dibawa kembali ke Kalimantan. Untuk sementara mereka tinggal di hotel dan melakukan pengobatan jalan.

Aku berusaha menguak misteri itu, aku khawatir  Rangga stres karena kuancam harus meninggalkan kost Esna jika mengulangi perbuatannnya, mengganggu lingkungan.

Menurut Martana belakangan perilaku Rangga memang berbeda dengan kebiasaannya, namun tak pernah mengungkapkan mendapat tekanan dari aku, padahal Rangga sangat terbuka terhadap Martana.

Rangga anak seorang kaya raya, anak bungsu dari tiga bersaudara hingga sangat dimanja oleh orang tuanya, segala keinginannya dituruti.

Kedua kakaknya, semua perempuan,  telah berumah tangga sehingga orang tuanya menginginkan Rangga segera menikah dan meneruskan usaha orang tuanya. ..

.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Stress atau kesurupan?

  1. Akung Ibnu berkata:

    Menurut Endang yang mengajar Rangga, taruna ini semangat belajarnya tinggi, baik budi pekertinya, sehingga sangat disayangkan jika kuliahnya tidak selesai.
    Menurut pengamatanku kondisi kejiawaannya labil, alter ego , atau memiliki kepribadian ganda, Sepintas dia sangat mengormati orang lain, disisi lain perbuatannya “merugikan lingkungan.” Seringkali dia berkomunikasi dengan teman-temannya yang berada sangat jauh dengan saling berteriak teriak tanpa mengingat waktu dan ketenangan lingkungan.. Kamarnya menjadi “markas” teman-temannya baik teman kuliah maupun yang bukan teman kuliah sehingga ada yang mencurigai digunakan. untuk “mabuk-mabukan.” Aku menyanggah isu itu karena tak temukan botol bekas minuman keras.
    Suatu saat Martana kehilangan motor yang diparkir didepan pintu gerbang,
    Aku khawatir kost Esna kehilangan pasaran. Suatu saat kupergoki pemuda yang bukan anak kost menuntun keluar kendaraan yang diparkir didekat pintu gerbang.
    Kuteriaki :” pencuri!” dan tanpa ragu kupegang kedua tangannya. Dia tidak melawan, kuseret dia ke kamar Martana dimana sedang berkumpul para taruna AMY. Ternyata dia bukan mencuri melainkan mengambil kendaraannya sendiri yang dititipkan dihalaman parkir kost Esna..
    Terakhir Poce yang menempati kamar 8 yang terletak didekat pintu gerbang kehilangan lap top sehingga minta pindah ke kamar 15 yang belum selesai dibangun. Anehnya kamar 8 segera teris, semua kamar terisi.
    Ternyata anak-anak kost berusaha mengatasi gangguan kemananan dengan kewaspadaan. dan strategi. Setiap pendatang tamu diawasi dan akan dijebak. Kuperingatkan: Silakan saja menjebak, namun jangan main hakim sendiri, usahakan dapat ikan tapi jangan perkeruh air!

    Usaha itu berhasil, ada pelaku yang tertangkap basah, namun tidak diperlakukan kasar melainkan dilakukan pendekatan sehingga terungkap penyebab terjadinya kejahatan sekaligus metode melakukannya. .

    Lokasi kost Esna yang sangat dekat dengan kampus AMY dan fasilitasnya “lengkap”, dimanfaatkan oleh mereka yang cari enaknya sendiri, diantaranya: memparkir kendaran baik yang bertamu atau yang ogah memparkir kendaraan di kampus,. menitipkan kendaraan karena dirasa aman, ikut mandi bahkan mencuci pakaian, nunut beristirahat atau bermalam tanpa memberitahu pemilik kost, …………………. sehingga sangat rentan pada kejahatan. Inilah yang mendorong anak kost untuk mengatasi tindak kejahatan. yang terjadi di kost yang mereka cintai. Mengapa dicintai? Karena fasilitasnya lengkap tersedia :kamar mandi bagi tiap penghini kost, wc, air melimpah,, tersedia pembuangan sampah pada setiap unit, tempat jemuran luas dan aman baik yang terbuka atau beratap, dapur, penggunaan listrik sesuai kebutuhan, ………….. dan yang tak tersaingi adalah tarifnya sangat murah.

    “Management” Esna adalah: memberikan kebebasan/kesempatan untuk mengurusi diri sendiri, jenis dan lingkungannya. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh penghuninya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s