Satu orang banyak nama dan satu nama banyak orang.

Lanjutan dari tulisan Stres atau kesurupan.

Pagi hari Endang sedang koreksi pekerjaan taruna  AMY, tiba-tiba dia bertanya kepadaku yang sedang sarapan.

“Rangga yang kalap itu  pendek atau tinggi Kung?”

“Sedang.”

“Aku sedang koreksi pekerjaaan  taruna Tatalaksana, ada dua nama Rangga, yang   satu rajin yang satu lagi sering tak kuliah, yang satu tinggi yang lain pendek.”

————-

Siang hari saat aku sedang merakit antena  TV di garage, Martana lewat dan menghampiri aku:

“Dapat pesan dari bapaknya Rangga, beliau minta maaf tidak menemui bapak.”

“Seharusnya saya yang minta maaf tidak menemui beliau. Apakah mereka sudah kembali ke Kalimantan?”

“Mereka menunggu sampai Rangga bersedia diajak pulang.”

“O ya, kata ibu ada dua taruna tatalaksana yang kini diajar ibu.”

“Rangga itu sudah wisuda tahun 2011, dia seangkatan Prapto di Nautika.”

“Lho mengapa masih kost disini belum selesai ambil sertifikat profesi?”

“Ya itulah pangkal masalahnya. Disini dia berusaha mandiri, namun kurang beruntung.”

“Dia tak melanjutkan mengambil sertifikat profesi di Semarang?”

“Seharusnya demikian, tetapi agaknya kiriman orang tuanya digunakan sebagai modal usaha dan usahanya gagal.”

“Sayang sekali, teman-temannya telah mendapat sertifikat profesi dan  banyak yang telah melanglang buana. Itulah nasib anak bungsu yang manja seperti bapak ini, tidak selesai kuliah di ITB dan UGM karena coba-coba usaha sendiri. Tapi bapak tidak menyesal, sebab bapak tak mau jadi bayang-bayang kakak -kakak bapak. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.”

Martana tak meneruskan pembicaraan.

—————————-

Saat ini banyak manusia  menggunakan sarana dunia maya untuk tujuan-tujuan yang tidak bertanggung jawab sehingga sengaja  menggunakan nama samaran atau nama fiktif  untuk menghindari pertanggungan jawab pada “korbannya”. Bisnis on line sangat  riskan (besar risikonya). Satu diantara korbannya adalah Rangga.

Ada suami isteri yang mengaku namanya Beja pada mbah Arjo,  mbah Arjo sudah meninggal enam tahun yang lalu, tapi Beja masih menetap di kost ESNA dan baru akan pindah rumah  saat dapat membangun rumah sendiri.. Saat ini isterinya tidak bekerja lagi karena mengasuh putrinya yang masih balita , dia “mengaku” bisnis online dan nampaknya sukes. Semoga  mereka membaca tulisanku di web.site ku (Akungibnu) , atau mendapatkan informasi dari Martana tentang nasib Rangga yang terlalu berani berspekulasi di dunia maya, , sehingga istri Beja berhati-hati dalam melakukan bisnis online nya.

——————————– 

Nama asliku, pemberian orang tua,  adalah Soma Wiyana, sebagai “pengarang” aku menggunakan berbagai nama samaran. (Silakan baca Siapa Som Wyn.). Jadi individuku satu, namun namaku banyak sekali.

Belakangan aku menulis di Multi Play  dengan nama ibnusomowiyono,  ternyata ” sukse besar” . Situsku dihargai jutaan dolar AS oleh mereka yang menyelenggara Statistik Web Site.. Hampir saja aku “gila”, tetapi anak-anakku memperingatkan jangan mempercayai pernilaian itu. Sebaliknya  menantuku, Ir Suwandi Dharma, menjelaskan bahwa pernilaian itu berdasar jumlah pembacanya, sehingga dilirik oleh pemasang iklan di internet. Aku tidak peduli atas nilai  jual yang fantastik itu, sebab tujuanku menulis di web site bukan untuk memperoleh royalty. Aku tak berharap memperoleh uang dari menulis, tulisanku dibaca saja aku sudah sangat berterima kasih, apalagi dikritisi.

Sudah kukira MP  akan gulung tikar karena dipenuhi oleh iklan gratisan.. Dugaanku benar, kami diperingatkan untuk men dawnload  file yang terrekan pada MP yang akan segera dimusnahkan.. Aku menuruti sehingga aku punya bukti (backup file)  bahwa aktivitasku di internet sukses. Ada beberapa orang  meminta izin untuk mengkoleksi tulisan-tulisanku, diantaranya ananda Sudarjanto, seorang pemilik perpustakaan mandiri di Samarinda.

Menantuku, Ir Diana Prabandari memindahkan sebagian dari tulisanku ke Wordsite, namun dengan nama Akungibnu. Bahkan dia membukukan lewat dapur buku bagian yang berjudul Sedikit Tentang Pengalaman Hidupku (STPH), namun dengan judul” ” Namaku BAPAK MAS YON.” 

Aku sangat berterima kasih kepada semua yang ikut mengamankan tulisanku hingga tidak perlu memberikan royalty kepadaku, namun tidak menyimpang/memanipulasi tulisan-tulisanku. Tujuan utama : Memuliakan Tuhan Yang Maha Esa dengan tidak menjadikan Nya sebagai penghalang kebebasan berkeyakinan, berfikir bahkan berbuat sepanjang berani menanggung risikonya..

MP benar-benar telah “almarhum”, namun kenyataannya timbul  MP-MP baru, bahkan ada yang  menggunakan tulisan-tulisanku di MP lama yang tidak kuhilangkan/kucabut  dari MP yang sudah almarhum (metafile di Google Search)  dan Blogspot lainnya  sebagai petunjuk memasuki situs-situs baru yang bermunculan. Jika dulu aku nebeng di MP tanpa bayar, kini sudah semestinya yang  nebeng pada tulisanku juga tidak perlu bayar.

Suwandi Dharma menyesalkan mengapa aku tak memberi tahu pada pembaca MP (sebelum ditutup)  alamat baru setelah MP ditutup, malah menggunakan nama lain. Ini akan menjadikan kesuksesanku di MP “hancur” berkeping-keping dan harus memulai dari nol. Dia berusaha membuat link atau penghubung  antara ibnusomowiyono di MP dengan akungibnu di Wordsite. Hasilnya sangat signifikan, jika dulu tulisanku banyak dibaca di India kini di Amerika Serikat, walau nilai jualnya masih sangat rendah.

Seharusnya aku dapat melengkapi file-file yang tak ikut  dipindahkan oleh Diana ke Wordsite, namun aku sangat menghargai  pertimbangan menantuku, Diana P,  yang telah menyaring bahan-bahan yang pantas untuk dipindahkan dan meniadakan yang tidak pantas untuk ditulis di Wordsite.

Aku memiliki file lengkap yang sewaktu diperlukan dapat digunakan oleh siapa saja, tetapi tidak menggunakan nama yang diberikan oleh Diana, yaitu Akungibnu, melainkan tetap ibnusomowiyono, agar pertanggungan jawabnya tetap pada aku, bukan pada Diana Prabandari.

Sebagai penghargaan  kepada menantuku (Diana Prabandari) yang selalu memperhatikan gagasan dan tulisanku dan berusaha  menyeleksi  tulisan-tulisan dan gagasanku sehingga lebih “aman” ku berikan nama penerus idealis   Diana Som Wyn, atau Diana Wyn Som  mengacu pada penulis fiksi Diana Wynne Jones.

 

 

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s