Menyimpan cahaya dalam cermin.

Sambungan STPH. Fragment masa kecilku.

Dimasa pendudukan Jepang ibuku  tetirah di Kaliurang ditemani paklik (oom)  Dana Naraca. Aku dan mbak Sam ikut. Mbak Sam tidur bersama ibu sedangkan aku bersama pak lik Dana Naraca.

Pak lik Dana Naraca  seorang pendekar silat, pendiri Persatuan  Pencak Silat Sehati. Aku akan diajari pencak silat dan pemanfaatan tenaga dalam  oleh pak lik, tetapi ibu mengatakan: “Asal kelakuan Kelik  baik, tidak nakal, Kelik pasti banyak teman, kalau nakal Kelik  banyak musuhnya.”

“Ya,ya, tetapi………………. Kelik dapat jadi bulan-bulanan anak nakal,” elak pak lik Dana.

“Teman-teman akan membelanya.”

“Wah, itu bukan ksatria, main keroyokan.”

“Lari saja, sembunyi dibalik ibu, pasti tak ada yang berani mengganggu.” sambung mbak Sam.

“Bela diri itu tujuannya agar  sanggup hidup mandiri, tidak mengandalkan perlindungan orang lain.”

“Ibu bukan orang lain.”

“Ya,ya, tetapi……………” pak Lik tidak meneruskan pembicaraannya.

“Sudahlah, jangan ajari Kelik  pencak silat,  ibu khawatir bukan untuk membela diri melainkan menjaili temannya.”

“Betul, Kelik itu suka jahil.” mbak Sam mengiyakan, aku jengkel kuserang mbak Sam dengan guling.

“Lihat, apa jadinya kalau Kelik diajar pencak silat, kasihan kakaknya.”

—————————————

Sejak itu pak Lik Dana tidak lagi membicarakan masalah bela diri, tetapi pada saat aku menjelang remaja dan  “dikucilkan” karena tidak patuh pada kakak yang ingin “menjajahku” pak lik Dana Naraca  memberi  buku  pelajaran pencak silat dan bela diri. Diam-diam aku mempelajarinya, sehingga teman-teman memberi julukan Begejil ala yang artinya anak kecil  yang kelakuannya buruk.

—————————————-

Pak lik Dana memiliki sentolop (senter) , sering kali batunya kukeluarkan, lampunya kulepas. Pak lik tidak melarang, malah menyediakan potongan kawat tembaga untuk menyalakan lampu yang kulepas  dari tempatnya.

“Mengapa lampu ini menyala? tanyaku.

“Didalam batu ini  tersimpan tenaga,  ada dua titik untuk mengeluarkannya, yang ini titik positip, yang ini titik negatip. Lampu ini juga punya dua titik. Agar lampu menyala titik pada batu harus dihubungkan dengan titip pada lampu.”

“Sudah, jangan ajari  Kelik  macem-macem, nanti  semakin suka ngeyel.” ibu memperingatkan.

Paklik tidak sependapat dengan ibu , menurut pak lik  setiap pertanyaan harus dijelaskan  agar aku menjadi pandai, berani bertanya dan berani berpendapat.

“Dari mana asal tenaga yang ada di dalam batu ini? Bagaimana cara memasukkan tenaga dan  mengapa dapat menyalakan lampu?” pertanyaaku semakin gencar.

“Coba jelaskan, mengapa lilin ini menyala?” pak lik ganti bertanya.

“Karena terbakar.” jawabku polos.

“Lampu itu menyata juga karena terbakar. Coba pegang.”

Aku memegang lampu yang menyala terasa panas.

“Apakah matahari itu menyala karena terbakar?”

“Ya, berbeda dengan bulan, bulan itu seperti cermin, tidak terbakar melainkan memantulkan cayaha.”

“Apakah cermin dapat  mengeluarkan cahaya?

“Dapat kalau diberikan tenaga dari luar, jadi harus  ada alat untuk untuk menyimpan tenaga seperti batu ini. Lihat saya bola lampu ini terbuat dari kaca  seperi cermin, tetapi kaca yang tembus cahaya. Kalau lampu ini saya tutupi dengan barang yang tidak tembus cahaya,  sinar tak akan dapat  terpancar keluar lampu, sinar itu berubah menjadi panas.

Ini ada ceritera paklik Dana Naraca  bagaimana menyimpan cahaya dari bulan dengan cermin ajaib.

——————————–

Sambil memegang cermin bulat pak lik Dana berceritera mengenai cermin ajaib:

“Dibelakang cermin ini ada lapisan tipis yang dapat memantulkan cahaya, jika lapisan nya diganti yang dapat menyerap cahaya dan dihadapkan kearah bulan, maka cahaya bulan akan diserap oleh lapisan penyerap cahaya.”

“Mengapa bukan dihadapkan ke matahari?”

“Cahaya matahari terlalu kuat sehingga dapat merusak lapisan penyerap cahaya. Kalau yang dihadapkan ke matahari cermin, cahayanya dipantulkan, jadi tidak merusak cermin, malahan kalau cahaya itu dikumpulkan dapat membakar benda yang ada didepannya.”

—————————————–

Pagi hari aku membuktikan, cermin itu kuhadapkan ke matahari hingga pantulan cahayanya mengenai mataku.”

“Jangan!” kata mbak Sam sambil merebut cermin, kami berebut cermin, cerpin itu jatuh dan pecah.

“Nah itu akibat  berebut!” kata pak lik sambil mengumpulkan pecahan cermin.

“Tidak usah berebutan, gantian saja atau gunakan bersama-sama.”  ibu  melerai pertikaian kami sambil memberikan cermin yang lain.

“Aku bukan ingin bercermin,” kata mbak Sam, “Cermin itu kurebut karena  Mimin tidak ingin Kelik celaka.” ujar mbak Sam, ” Pantulan cahaya matahari  ke  mata sangat berbahaya.”

“O,ya? Siapa yang mengajarimu?”

“Pak lik Dana.” jawab mbak Sam, “Benarkan pak Lik?”

” Ya, tapi jangan di rebut, diberi tahu saja adikmu.”

“Kelik itu suka ngeyel, susah diberi tahu.”

“Nih, pak lik punya cermin,” kata pak lik Dana  sambil menunjukkan cermin  yang permukaannya tidak datar Cermin itu diarahkan ke matahari  sehingga  pantulan cahayanya mengenai jemuran yang berwarna hitam.  Aneh,  kain yang tertimpa pantulan  cahaya terbakar.

“Nah, kau sekarang tahu  pantulan cahaya matahari oleh cermin dapat membakar benda. Kalau mata Kelik terbakar, apa jadinya?”

Aku terdiam sejenak, menyadari bahwa kakaku sayang padaku, kupeluk dia sambil berucap terima kasih.”

————————————————

Aku menagih janji perihal  Cermin yang sanggup menyimpan cahaya.

Malam  diterangi bulan purnama, kami duduk ditaman, pak lik menyediakan kaca yang dilapisi serbuk halus, serbuk itu jika terkena cahaya senter akan memancarkan cahaya. Serbuk itu bukan memanculkan cahaya, sebab saat lampu senter dimatikan serbuk itu tetap menyala. Jika kaca berlapis serbuk diarahkan ke bulan tidak memantulkan cahaya, saat diletakkan penghalang justru serbuk itu memancarkan cahaya.

Pak lik meminta kami telentang dirumput memandang bulan purnama, pak lik  meletakkan kaca yang bertaburan serbuk ajaib itu kearah bulan.

Pak lik menutupi tubuh kami dengan selimut tebal. “Tidurlah kalian agar cermin  ajaib itu menyerap cahaya bulan, nanti kamu akan melihat saat bulan tertutup awan, cermin   itu akan memancarkan cahaya yang tersimpan pada serbuk ajaib itu.”  

Keesokan harinya kami bangun, pak lik tetap duduk membawa kaca ajaibnya.

“Apa yang kalian lihat semalam?”

“Cermin itu memancarkan cahaya saat bulan tertutup awan tebal,” kata mbak Sam dengan yakin.

“Aku bermimpi  berjalan diatas bukit itu,  melihat kota Yogya yang bergemerlapan cahaya aneka warna, indah sekali.

“Kalian berdua bermimpi, bukan kenyataan. Kelik  bermimpi semaumunya sendiri, memimpikan Yogya seperti yang diinginkan, gemerlapan dimalam hari.  Mimi bermimpi sesuai dengan yang pak lik janjikan melihat cahaya  yang tersimpan dalam cermin.”

 

 

 

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s