Mengusir hantu dengan cahaya?

Fragmen STPH:

Menulis: Menyimpan cahaya dalam cermin aku lalu teringat saat Rumah Pusaka  di Siliran Lor 29  Yogya,  diisyukan  ditempanti hantu pindahan dari Ringin Kurung di Alum-alun Kidul Yogyakarta yang roboh. Hantu itu  akan menumpas kelor penghuni rumah itu.

Ini kisahnya:

Is dan Tatik dititipkan pada keluarga Prof Iman Sutiknyo, adik Ibnu Sutowo.

Suatu senja aku dipanggil Mas Tik  diminta persetujuan untuk menyelamatkan kedua kemenakanku yang sementara menetap di Bulak Sumur agar dekat dengan ibunya yang sedang dirawat di Panti Rapih.

“Dik Som, kelapa gading itu akan kami gunakan untuk mengalihkan perhatian makluk jahat yang kini menetap di sentong kulon.” kata mas Tik sambil menunjuk ke dua butir kelapa kuning yang digambari muka manusia.

“Terima kasih, saya hanya  meminta dukun itu jangan dipertemukan dengan kemenakan saya, dan jangan beritahu hal-hal yang tak masuk akal ini kepada siapapun.”

———————————–

Semuanya sudah berlalu dan sudah terbukti rumah pusaka itu kini telah aman dan dihuni para penyewa dan kemenakanku  tanpa mendapat gangguan.

Apa yang dikatakan mas Tik itu menurut aku akibat kondisi kejiwaan beliau saat itu yang sangat tertekan oleh  Teror Orba pada kaum Nasionalis.

Kisah ini sebenarnya pernah kutulis dalam STPH, namun ada baiknya kutulis lagi karena ada kaitannya dengan tulisanku yang berjudul Menyimpan cahaya dalam cermin.

.……………………..Saat kami terbangun: mbak Sam yakin ada cahaya yang keluar dari cermin ajaib milik pak lik Dana sedangkan aku teringat mimpiku berjalan diatas bukti dan melihat cahaya gemerlapan di Yogya.

Dari fragmen  itu kalian (cucu-cucuku)  akan tahu bahwa eyang Sami  Rahayu mudah mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal, sedangkan Akungibnu sebaliknya.

———————————–

Suatu saat aku dipanggil mbak Mi (bu de Murdo)  dan mbak Sam (bu de Sami)  ke Siliran Kidul 47,  aku diminta malam hari nanti mengikuti  ritual pengusiran makluk jahat yang nongkrong di Siliran Lor 29. Ritual itu akan dipimpin oleh seorang dukun yang bermimpi  roh mas Man gentayangan dan membutuhkan pertolongan.  Mas Mir menyangkal dan menyatakkan bahwa dia juga bermimpi  roh mas Man  telah berada disisi  Allah dan  mendapatkan kebahagiaan abadi. Mas Mir tidak melarang ritual demi “kepuasan” orang yang meyakini mimpi sesat itu.

Aku menolak hadir pada upacara ritual itu  dengan alasan: Jika aku datang, mengikuti ritual itu,  akan menyulitkan  upaya dukun itu  mengusir makhluk jahat yang nongkrong di rumah pusaka. Lebih-lebih demi ketenteraman seluruh penghuni rumah pusaka aku tak sepantasnya aku menjadi penghalang.

Pada hari-hari berikutnya ritual itu diikuti oleh ritual lainnya, misalnya mengubur jimat, menabur beras kuning, membakar kemenyan……………….

Aku tak mengerti apakah upaya dukun itu berhasil mengusir hantu, yang jelas rumah Siliran 29 terkesan semakin angker, tak ada yang berani tidur dirumah itu, kecuali mbah Ira, Bero dan keluarga pak Dwijo yang menyewa di Gandok Kulon.

Aku pernah penasaran dan meminta keris Kiai Slamet untuk mengusir hantu itu, tetapi pak lik Sastrodimento yang ketitipan pusaka peninggalan ayah itu saat mas Man mendapat musibah, menasihatkan agar aku menggunakan akalku dalam menghadapi setiap masalah.

Mbak Isti (bu de Jachman) sembuh dan kembali ke Siliran Lor 29, namun lainnya tetap saja tidak berani bermalam dirumah itu, padahal ada Tatik dan Is.

Dahulu, sebelum mbak Isti sembuh,” setiap aku   datang ke- rumah  peninggalan orang tua, selalu bulu tekukku  tergelitik/merinding, namun sejak kesembuhan mbak Siti dan menempati sentong kulon yang diisukan ditempati makluk jahat, segalanya berubah sehingga aku dan Endang berani menempati Ngecapan.

Kondisi rumah jika malam hari sangat mencengkam. Rumah joglo yang sangat luas itu hanya diterangi oleh listrik PLN berdaya 100 watt, tegangan 110 ngedrop hingga 70 v0lt, . Aku mencuri listrik  karena tak dapat menambah daya, anehnya para tetangga membiarkannya, tak ada yang melaporkan perbuatanku.

Tanpa kuduga jaringan listrik PLN  110volt  diubah menjadi 220 volt, instalasi lama diganti dengan instalasi baru dan diizinkan untuk menambah daya menjadi 220volt/ 450 watt.

Cepat-cepat aku memasang aliran laru 220 volt/ 900 waat untuk Ngecapan, sementara langganan lama yang   ditingkatkan menjadi 220 volt/ 450 watt disediakan untuk Gandok Kulon yang ditempati pak Dwijo.    Mbak Isti  pemasangan instalasi baru untuk Dalem dan Pendopo: 220volt /900 watt.  Mas Mun melengkapi Gandok Wetan dengan  220 volt /450 waat. Mbak Sam memasangi Gandok Lor daya 220 volt 2300 watt.

Mimpiku di Kaliurang  sekian tahun yang lalu (baca Menyimpan cahaya dalam cermin) menjadi kenyataan: Siliran lor gemerlapan oleh cahaya lampu (mungkin itu yang kulihat dari atas bukit saat bermimpi bersama mbak Sam yang melihat cahaya keluar dari cerminnya pak Lik Dana).

Siliran Lor menjadi tidak seram lagi, baik malam hari apalagi  siang hari. Mengapa? Siliran Lor telah direnovasi oleh kakak-kakakku setelah kubagi-bagi tugas memelihara rumah pusaka itu. Last but not least tersedianya daya listrik yang melimpah menjadikan  “mimpiku”  menjadi kenyataan.

Apakah hatu-hantu takut pada cahaya? Menurut Teori Minimalis: Hantu termasuk spirit, sebagai halnya, setan, jim  dan makluk halus yang bertubuh astral membutuhkan cahaya untuk menunjang hidupnya, jadi justru mereka mencari cahaya, bukan takut pada cahaya.

Aneh?  Tidak! Cahaya yang melimpah menjadikan spirit “terpuaskan”, jadi mereka bukannya terusir melainkan tidak menjahili living organisme. Mereka tetap ada disekitar kita, jika kekurangan cahaya…………… ibaratnya  kehausan atau kelaparan, barulah mereka berusaha menyusupi living organisme agar dapat memanfaatkan energi lainnya (terutama bio energi).

Aja gumunan lan gampang percaya ning ya aja gampang maido apa sing durung kok ngerteni.

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s