Misteri Kucing Hitam.

Fragmen STPH.

Menulis: Mengusir hantu dengan cahaya aku jadi teringat zaman Orde Baru, saat banyak pengikut Soekarno menjadi korban fitnah,   banyak yang stress sehingga terjerumus dalam mistik.

Mas Man yang meninggal sebelum peristiwa G30 S, dikabarkan menghilang dan dinyatakan sebagai buron. Kami sekeluarga sangat marah dan berusaha melawan fitnah kejam itu. Mas Gun berucap: “kalau aku pegang pistol, pertama akan kutembak haji J………….”

Aku berusaha menggunakan akal,  namun apa yang kuhadapi sering tidak masuk akal.

Ini kisahnya: Misteri kucing hitam: 

Seekor kucing melompat dari pohon jambu air di halaman rumah pusaka,  tempat aku menyandarkan sepeda.  Binatang itu melompat dari atas pohon dan nyaris menerkam mukaku.

Kucing hitam itu kemudiaan  diisukan sebagai “kesurupan” oleh setan yang menghuni sentong kulon. Saat mbak Isti sakit dan memerlukan beristirahak kucing itu berbuat ulah, berlarian diatas langit-langit seng sehingga suasana sangat gaduh.  Lebih gila lagi saat  mbak Isti  dirawat di rumah sakit, ada kucing lain yang datang dan  setiap saat melakukan perkelahian diatas langit-langit Dalem dan Gandok Wetan. Semua ini dituturkan oleh pak Dwijo yang menghuni Gandok Kulon dan mbah Iro yang menunggu rumah pusaka. Boleh percaya atau tidak, setelah mbak Isti sembuh dan pulang ke Siliran Lor 29 kucing misterius itu menjadi sangat jinak.

————————————

“Kelik pasti khawatir melihat apa yang sedang kualami, aku juga khawatir pada yang sedang kau alami,” kata mas Man saat aku hampir menjadi sasaran kucing hitam yang misterius. “Marilah kita jaga diri dan keluarga masing-masing.”

Ucapan itu merupakan pesan terakhir dari mas Man sebelum mengalami musibah.

Aku lalu ingat saat aku memugar Astana Gambiran paska gempa besar yang dialami Yogya, aku bermimpi berajojing (berjoget ria)  di Siliran Lor 29, dalam mimpiku mas Man memperingatkanku supaya tidak  berlaku sembarangan di rumah pusaka, apalagi di Astana Gambiran.

Saat melakukan pemugaran astana Gambiran itulah banyak hal yang tidak masuk akal.

1. Aku dianggap lebih mendahulukan orang mati ketimbang yang hidup, padahal pemugaran itu demi menyelamatkan yang masih hidup agar tak tertimpa reruntuhan bangunan., saat berziarah.

2. Cuci bu lik , yang panggilannya juga  Kelik (karena semua saudaranya perempuan), menyatakan aku musrik karena berniat memugar makam astana Gambiran.  Kelik pegawai Pertamina sehingga diharapkan oleh Esti( putri tertua mas Man   yang suaminya juga pegawai Pertamina)  mendukung pemugaran astana Gambiran, namun kenyataannya dia  malah  membiarkan makam leluhurnya tetap beratapkan genteng, sementara yang lain  kami pugar  beratapkan beton bertulang.

Mungkin “kemusrikanku” inilah yang menjadikan aku mendapat kesulitan saat memugar astana Gambiran. Jadi Kelik memang benar.

3. Saat akan menurunkan atap makam tidak ada tukang yang berani melakukannya. Untung mbak Mi punya orang  handal, yang tak mempercayai perihal  musrik dan takhayul, dia penghuni dekat pojok beteng tenggara yang terkenal angker.

4. Saat menggali  footplat penunjang pilar, banyak liang lahat yang ikut terbuka.

5. Pada makam mbak Isti ada lubang kecil, saat kami isi dengan pasir habis satu kijang

6. Jalan menuju makam ditutup karena digali untuk pemasangan pipa beton.

7. Bebarapa kali molen  harus kami matikan  karena ada orang meninggal (korban gempa yang tertimpa reruntuhan namun untuk sementara terselamatkan).

8. Aku kehabisan dana karena tidak didukung lagi (dihentikan)  oleh trah Rahwodi padahal pilar-pilar penyangga atap telah berdiri  namun belum ada atapnya., sehingga makam  tidak terlindungi dari  terik matahari dan hujan. Yang aneh malah yang leluhurnya tidak dimakamkan di Gambiran ikut  memberikan sumbangan mengatapan makam,  misalnya Trah Sastradimenta dan Trah  Sastrasengaja.

9.  Nisan orangtuaku dan  mas Man dan Mbak Is harus cepat kuamankan dari hujan karena terbuat dari marmer.

Esti sepenuhnya mendukung rencanaku untuk mengatapi makam, namun  dengan genteng,  padahal telah kupertsiapan pilar-pilar yang sanggup menopang atap beton bertulang.

Aku berniat memberi atap beton pada makam bapak ibuku, sebab bagiku makam adalah sebuah monumen yang harus sanggup bertahan lama.  Esti mendukung rencanaku dan memberikan dana untuk memberikan atap beton diatas makam ibu bapaknya.  Aku meminta jangan kepalang tanggung untuk memberi atap beton pada seluruh makam. Esti setuju, tetapi harus mendapat persetujuan dari ahli warisnya.

Aku tak berani memberi atap beton diatas makam eyangnya Kelik yang menuduh aku musrik, sehingga kubiarkan  tetap terbuka.  Genteng  dan kayu bekas bangunan lama kugunakan sebagai atap makam eyang Noto Gendewo dan yang sederet dengan makam ini, “menghemat biaya”

Aku bagaikan diterkam “kucing hitam” yang misterius itu,  karena tidak sanggup menyelesaikan projek pemugaran astana gambiran. Aku diejek: “malu-maluin………….., blegedreg………….berani merusak tak becus membetulkan.”

Untung Esti sanggup melanjutkan finishing, Kelik (cucu bu lik) segera  mengatapi bagian yang kubiarkan terbuka.  Kedua keponakanku pensiunan Pertamina perlu disentil agar menjadikan makam sebagai monumen, bukan tempat “pembuangan” bekas organisme yang terdaur ulang walau  telah berjasa selama hidupnya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s