Ijazah itu perlu, namun bagai bumerang bagi yang tidak mandiri.

Pertanyaan: Akungibnu tidak memiliki ijazah formal, padahal menurut aku  akung sangat genius dan sukses dalam mendidik putra-putrinya. Apakah ijazah formal tidak ada manfaatnya?

Jawaban: Tak benar jika cucu mengatakan akung tidak memiliki ijazah formal. Tanpa ijazah formal tak mungkin akung mengikuti kuliah di ITB dan Gajah Mada. Akung juga tidak mungkin mengajar  di SMA dan STM negeri. Yang benar adalah akung tak memiliki gelar formal.

Ijazah formal sangat penting bagi mereka yang akan melanjutkan ke  jenjang pendidikan formal lebih tinggi atau memperoleh pekerjaan formal yang memerlukan ijazah sebagai “jaminan” untuk dipercaya oleh yang akan memberikan pekerjaan.

Bagi mereka yang ingin menciptakan pekerjaan bebas hingga dapat  hidup mandiri yang sangat dibutuhkan adalah kreativitas dan ilmu pengetahuan untuk menunjangnya. Ini bukan berarti pendidikan formal tidak dibutuhkan, namun janganlah beranggapan ijazah menjamin kesuksesan seseorang, lebih-lebih jika tidak menguasai ilmu yang dipelajarinya.

Kreativitas diawali kemauan untuk  tidak begitu saja menerima jalan/cara atau ilmu yang telah mapan, melainkan mencari celah atau kesempatan untuk mencari/ mencoba cara yang tidak atau belum dimanfaatkan pada  peradaban saat ini.

Sebagai contoh :

Jika saat ini manusia berlomba untuk memperoleh ijazah hingga menempuh segala cara, maka akung mengembangkan pemanfaatan ilmu yang akung peroleh secara formal maupun tidak formal. Ilmu itu akung manfaatkan untuk “mempermudah” hidup baik bagi diri sendiri, keluarga/orang lain dan lingkungan.

Akung tidak sombong, banyak yang mengatakan akung genius (termasuk cucu) , namun itu terlalu dini. Menurut akung: ginius dan gila batasnya serambut dibelah sejuta. Mereka yang berfikiran, berkeyakinan  sehingga   perbuatannya berbeda dengan peradaban  yang berlaku dapat dikatagorikan “gila ‘, tetapi jika  dia sanggup meyakinkan orang lain atau lingkungannya akan “kebenaran” dan manfaatnya barulah pantas disebut genius.

Akung banyak menulis gagasan yang seringkali tidak sesuai,  bahkan bertentangan dengan peradaban saat ini,  baik secara ilmu materialistik (Science) dan ilmu kebijaksanaan ( filsafat konvensional maupun spiritual religius), diantaranya Teori Revolusi Som Wyn, yang menyatakan bahwa manusia bukan keturunan kera dan tidak semua manusia keturunan Adam dan Hawa.

Jika akung sanggup meyakinkan kebenaran dan manfaat  Teori Revolusi  Som Wyn barulah “agak,sedikit pantas” (belum  pantas karena gagasan akung bukan  hanya Teori Revolusi  Som Wyn melainkan Teori Minimalis dan turunannya. Namun akung bersukur atas “gelar informal” yang diberikan oleh mereka yang sudi membaca tulisan dan gagasan akung, baik gelar positif (pujian)  maupun negatif (cemooh dan cerjaan).

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s