Apa beda: iri, cemburu, sirik, serik,?

Pertanyaan: Akungibnu mengembangkan rasa bahasa, saya ingin menguji rasa bahasa saya, untuk itu ingin membandingkan dengan rasa bahasa Akungibnu. Apa beda: iri, cemburu, sirik, serik. Apakah semuanya buruk dan tidak ada manfaatnya? Bagaimana mengatasinya?

Jawaban:

a. iri sangat erat kaitannya dengan  “hati”, menjadi kata majemuk iri-hati. Iri hati adalah perasaan batin akibat masukan dari pancaindera perihal kondisi yang dialami oleh individu lain, yang diolah oleh otak dan disimpulkan:   lebih baik, lebih beruntung, lebih unggul……………… dan bernilai positif dari kondisi dirinya.

b. cemburu erat kaitannya dengan kepemilikan pada sesuatu yang dimiliki  dirasa  secara batiniah akan  “diganggu atau diambil” oleh individu lain.

c. sirik: erat kaitannya dengan perasaan tidak senang terhadap keberuntungan individu lain dan berusaha mencari tahu sebabnya.

d. serik:  perasaan  tidak nyaman akibat ucapan atau perbuatan individu lain terhadap dirinya. Istilah lain adalah sakit- hati.

Istilah itu  semuanya beraroma negatif pada yang mengalaminya  (subjek) maupun yang menyebabkannya (objek)  dan akan merugikan kedua belah fihak.

Menurut Akungibnu: semuanya  bagaikan sampah namun  dapat diolah menjadi emas oleh mereka yang menggunakan akal budinya.  Dengan menggunakan akal budi seseorang  dapat menilai budi pekerti ( perbuatan yang dikendalikan oleh otak) orang lain, sehingga terbentuklah hubungan horizontal sesama manusia.

Bagaimana cara mengatasinya:

a. iri hati dapat diatasi dengan mawas diri atas “kekurangan” dirinya dan berusaha untuk “bersaing” dengan cara sehat, bukan cara kotor.

b. cemburu dapat diatasi dengan percaya diri dan percaya pada yang dimiliknya,  dapat “menjaga” diri masing-masing dan lingkungannya.

c. sirik dapat diatasi dengan  berusaha mencari tahu mengapa individu lain lebih “bernasib baik”. Jika teryata “menemukan” hal-hal negatif pada yang disiriki,mereka yang sirik  tidak tinggal diam ( sebagai yang  dilakukan mereka yang sekedar iri atau iri hati), melainkan secara aktif mencegah/membongkar  perbuatan negatif yang dilakukan orang yang disiriki agar menerima “ganjaran” nya. Sebagai contoh:  Orang yang sirik pada koruptor sangat berbeda dengan orang yang iri pada koruptor.

d. serik: atau sakit  hati dapat diatasi dengan akal budi: Jika disakiti hatinya seseorang harus menggunakan akalnya agar batinnya tidak tersiksa, atau menisbikan/melupakan yang melukai hatinya. 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s