Mungkinkah cahaya bertabrakan?

Pertanyaan: Mungkinkah cahaya bertabrakan?

Jawaban:Cahaya yang menghasilkan photon dapat bertabrakan sedangkan cahaya yang tidak menghasilkan photon hanya mungkin berinterferensi.

Menurut Teori Gelombang Minimalis cahaya merupakan fenomena transien sehingga tidak membutuhkan ruangan nyata, namun sepasang gelombang magnet x dan y yang koheren dapat menghasilkan photon yang membutuhkan ruang nyata. Diruangan  semu  yang hampa materi photon hanya “hadir sesaat“,  kemudian lenyap, sehingga kemungkinan bertabrakan probabilitasnya sangat rendah,  namun diruang nyata yang terisi materi” photon akan berinteraksi mekanik sehingga menyebabkan kecepatan cahaya berkurang (lebih kecil dari c). Setiap panjang gelombang cahaya menghasilkan dua kali photon, sehingga semakin tinggi frequensi cahaya semakin banyak menghasilkan photon dengan demikian kecepatan  cahaya berfrequensi tinggi akan lebih kecil dibanding yang berfrekwensi rendah, terutama diruang nyata yang berisi materi.

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Mungkinkah cahaya bertabrakan?

  1. Akung Ibnu berkata:

    a. Menurut Fisika cahaya memilki sifat mendua (ambigus) , sedangkan b. menurut TM cahaya dapat menghasilkan photon atau menghasilkan neutrinnos atau tidak menghasilkan photon maupun neutrinnos, Hal ini dapat dijelaskan dengan
    Formula Gelombang Som Wyn: a3*sin(u3 + w3t) = – a1*sin(u1+w1t) + a2*sin(u2+ w2t).
    Yang menjadi pertanyaan akung yang harus dijawab oleh cucu adalah: : seandainya cahaya merupaka aliran photon apakah tidak dapat bertabrakan baik diruang berisi materi maupun ruang kosong? Bagaimana cara menjelaskannya? Seandainya terbukti adanya partikel yang kecepatnnya melebihi c bagaimana cara menjelaskannya?

  2. Akung Ibnu berkata:

    Ini akung kutibkan perihal cahaya yang dapat cucu gunakan untuk menjawab pertanyaan cucu dan pertanyaan akung:

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Untuk sinetron dengan judul yang sama, lihat Cahaya (sinetron).

    Gelombang elektromagnetik dapat digambarkan sebagai dua buah gelombang yang merambat secara transversal pada dua buah bidang tegak lurus yaitu medan magnetik dan medan listrik. Merambatnya gelombang magnet akan mendorong gelombang listrik, dan sebaliknya, saat merambat, gelombang listrik akan mendorong gelombang magnet. Diagram di atas menunjukkan gelombang cahaya yang merambat dari kiri ke kanan dengan medan listrik pada bidang vertikal dan medan magnet pada bidang horizontal.

    Gelombang elektromagnetik yang membentuk radiasi elektromagnetik.
    Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm.[1] Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak. [2][3] Selain itu, cahaya adalah paket partikel yang disebut foton. Kedua definisi tersebut merupakan sifat yang ditunjukkan cahaya secara bersamaan sehingga disebut “dualisme gelombang-partikel”. Paket cahaya yang disebut spektrum kemudian dipersepsikan secara visual oleh indera penglihatan sebagai warna. Bidang studi cahaya dikenal dengan sebutan optika, merupakan area riset yang penting pada fisika modern.

    Studi mengenai cahaya dimulai dengan munculnya era optika klasik yang mempelajari besaran optik seperti: intensitas, frekuensi atau panjang gelombang, polarisasi dan fase cahaya. Sifat-sifat cahaya dan interaksinya terhadap sekitar dilakukan dengan pendekatan paraksial geometris seperti refleksi dan refraksi, dan pendekatan sifat optik fisisnya yaitu: interferensi, difraksi, dispersi, polarisasi. Masing-masing studi optika klasik ini disebut dengan optika geometris (en:geometrical optics) dan optika fisis (en:physical optics).

    Pada puncak optika klasik, cahaya didefinisikan sebagai gelombang elektromagnetik dan memicu serangkaian penemuan dan pemikiran, sejak tahun 1838 oleh Michael Faraday dengan penemuan sinar katode, tahun 1859 dengan teori radiasi massa hitam oleh Gustav Kirchhoff, tahun 1877 Ludwig Boltzmann mengatakan bahwa status energi sistem fisik dapat menjadi diskrit, teori kuantum sebagai model dari teori radiasi massa hitam oleh Max Planck pada tahun 1899 dengan hipotesa bahwa energi yang teradiasi dan terserap dapat terbagi menjadi jumlahan diskrit yang disebut elemen energi, E.

    Pada tahun 1905, Albert Einstein membuat percobaan efek fotoelektrik, cahaya yang menyinari atom mengeksitasi elektron untuk melejit keluar dari orbitnya. Pada pada tahun 1924 percobaan oleh Louis de Broglie menunjukkan elektron mempunyai sifat dualitas partikel-gelombang, hingga tercetus teori dualitas partikel-gelombang.

    Albert Einstein kemudian pada tahun 1926 membuat postulat berdasarkan efek fotolistrik, bahwa cahaya tersusun dari kuanta yang disebut foton yang mempunyai sifat dualitas yang sama. Karya Albert Einstein dan Max Planck mendapatkan penghargaan Nobel masing-masing pada tahun 1921 dan 1918 dan menjadi dasar teori kuantum mekanik yang dikembangkan oleh banyak ilmuwan, termasuk Werner Heisenberg, Niels Bohr, Erwin Schrödinger, Max Born, John von Neumann, Paul Dirac, Wolfgang Pauli, David Hilbert, Roy J. Glauber dan lain-lain.

    Era ini kemudian disebut era optika modern dan cahaya didefinisikan sebagai dualisme gelombang transversal elektromagnetik dan aliran partikel yang disebut foton. Pengembangan lebih lanjut terjadi pada tahun 1953 dengan ditemukannya sinar maser, dan sinar laser pada tahun 1960. Era optika modern tidak serta merta mengakhiri era optika klasik, tetapi memperkenalkan sifat-sifat cahaya yang lain yaitu difusi dan hamburan.

  3. Akung Ibnu berkata:

    Mengapa terjadi interaksi elektro magnetik? TM dapat menjelaskan dengan Teori Eter Som Wyn yang menyatakan : a. rangkaian eter tertutup (e) akan membuka saat terinduksi oleh gaya magnet tetap membentuk medan magne tetap, jika gaya magnet dihilangkan rangkaian terbuka eter e+e+e+e akan menutup lagi menjadi rangkaian tertutup eter (e) menyebabkan timbulkan medan listrik. Silakan baca Teori Quantum Eteric Minimalis.
    Bukti Teori Eter Som Wyn secara eksperimen adalah Percobaan Gelang Magnet Som Wyn, sedangkan secara Teori dapat dijelaskan sbb: Gaya magnet tetap hanya akan menghasilkan medan magnnet tetap sedangkan gaya magnet yang berubah-ubah akan menghasilkan interaksi elektro magnet berupa gelombang elektro magnet (EMW).
    Sekarang akung sebagai murid bertanya kepada cucu sebagai guru Fisika:
    Coba jelaskan bagaimana terjadinya interaksi electro magnet yang menyebabkan terjadinya gelombang elektro magnet (EMW) . Mengapa gelombang magnet selalu diikuti gelombang listrik dan sebaliknya? Mengapa EMW dapat merambat diruangan hampa? Mengapa ada ruang hampa yang tidak terisi materi? Mengapa terjadi lompatan gaya diruang tak terisi materi?

    Akung pilih “berhenti sebagai guru fisika” , karena banyak fenomena disekeliling akung tidak dapat akung jelaskan kepada murid akung dengan fisika yang akung pelajari,. Akung merasa pengetahuan akung sangat minim dalam ilmu fisika, lebih-lebih fisika modern, oleh karena itu akung menggagas “Teori Minimalis” untuk menjelaskan pada diri akung yang mungkin ada manfaatkan untuk orang yang juga minim pengetahuan fisikanya seperti akung.

    Tulisan ini untuk melengkapi jawaban atas pertanyaan Mengapa TM disebut Teori Keranjang Sampah, Teori Klenik Modern,…………. dan sebagainya, tetapi tak akung jelaskan mengapa gagasan akung yang memiliki berbagai sebutan justru tidak menjelaskan mengapa gagasan itu akung namakan Teori Minimalis (TM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s