Apa beda kambing hitam dan pecundang?

Pertanyaan: Saat ini SBY dan Demokrat dikecam diberbagai mas media. Menurut Akung SBY dan Dempokrat menjadi kambing hitam atau pecundang dalam kemenangan golongan yang mengembalikan tatanan ke tatanan lama sebelum era reformasi?  Argumentasi Akungibnu?

Jawaban: Menjadi pecundang, bukan kambing hitam.

Kambing hitam adalah korban fitnah, sedangkan pecundang  bukan hasil fitnah, melainkan akibat  ulahnya sendiri, bagaikan menggali kubur saat sedang sekarat/ kalah telak.

Saat menyatakan akan  mendukung pemilihan langsung semua terkesima sebab akan memenangkan pemilihan langsung, sehingga citra buruk (akibat ulah elit  yang korup) dapat mengangkat  SBY dan Demokrat yang sedang sekarat/kalah  hingga dapat survive dari keterpurukan/kemartiannya.   Namun dengan melakukan walk out dengan alasan apapun berarti memberikan peluang  kelompok yang akan mengembalikan ke era Orde Baru. Inilah yang menjadikan SBY dan Demokrat menjadi pecundang bukan kambing hitam. 

Pecundang artinya tanpa difitnahpun tetap dianggap hitam  karena memang hitam sungguhan, akibat ulah sendiri, hal ini bagaikan menggali liang kubur saat dalam kondisi sekarat.

Mungkinkah orang yang sedang sekarat  mikul duwur mendem jero (mengangkat jazatnya tinggi dan mengubur jazatnya dalam)?  Semua pasti setuju: jazat yang tidak dikubur dalam akan menimbulkan bau busuk .

Namun yang dapat menilai ulah atau budi pekerti individu atau kelompok “pecundang” hanyalah yang menggunakan akal budinya.

Tanpa menggunakan akal rakyat akan mudah dikibuli/ditipu oleh mereka yang julig/culika  Sebalinya jika hanya menggunakan batin, maka yang batinnya baik akan beranggapan semua seperti dirinya, semua orang dianggap baik, akibatnya tak sanggup membedakan antara yang baik dan yang buruk. Mereka yang batinnya buruk akan menganggap  semua orang buruk sehingga krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan ini akan berakibat fatal, akan kembali memilih  menjadi golput seperti fenomena sebelum pemilihan presiden. 

Kesimpulah: Rakyat harus dididik  dan dibiasakan menggunakan akal budinya sehingga sanggup memilih pemimpin yang baik budi pekertinya. Pendidikan budi pekerti adalah upaya untuk mendidik manusia memanfaatkan akal budinya, jadi yang menyepelekan apalagi menentang pendidikan budi perkerti artinya ingin membuat  murid/rakyat  tetap bodoh agar gampang diatur oleh para pemimpinnya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Apa beda kambing hitam dan pecundang?

  1. Akung Ibnu berkata:

    Quo vadis rakyat Indonesia? Kembali ke Era Orba yang “makmur” tetapi “terkubur” hak kebebasannya akibat “digandaikan” pada penguasa yang otoriter, atau meneruskan reformasi yang masih membutuhkan banyak pengorbanan demi mempertahan hak nya dan menghindari percaloan.

  2. Akung Ibnu berkata:

    Ini “difinisi” Endang Pujawati, adik istri AkungIbnu.: kambing hitam= korban masalah, pecundang = pembuat masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s