Cucu jangan kembali menjadi golput!

Pertanyaan: Dulu aku ikutan golput karena sebagian wakil rakyat yang dipilih lewat pemilu buruk budi pekertinya, kemudian aku sadar bahwa sikap golput juga buruk (Sama buruknya dengan yang dipilih lewat pemilu) karena tidak memanfaatkan kesempatan ikut  menentukan nasib rakyat dan bangsa, alias bersikap masa bodoh hingga membiarkan nasib rakyat tidak menentu dipermainkan oleh yang dipilih lewat pemilu.
Saat pemilihan presiden aku tidak lagi golput, aku memilih Prabowo & Hata. Ternyata jagoku kalah sehingga aku sangat kecewa, namun aku tetap berharap pada pemilihan berikutnya jagoku akan menang.
Saat ini aku lebih kecewa karena mereka berebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Menurut aku mereka memilih tiji tibeh dari pada sitik eding dan genti genten.
Bagaimana pendapat akung?

Jawaban: Maafkan akung telah membuat cucu yang tidak golput pada pemilu presiden 2014-2019  sangat kecewa sehingga akung khawatir cucu akan kembali menjadi golput pada pemilu 2019 atau berniat membubarkan partai politik yang tidak bersedia sitik eding atau  genti genten  dan menganggap mereka memilih tiji tibeh. , Sebenarnya tiji-tibeh bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan. Ada satu pilihan yang akung lupakan, yaitu berjalan menurut jalur masing-masing sehingga tidak saling bertabrakan (berebut kepentingan)  yang cucu tafsirkan sebagai memilih tiji-tibeh.

Pada sistem trias politika ada tiga unsur yang seharusnya berjalan pada jalur masing-masing, yaitu: Legislatif, Eksekutif dan Judikatif. Pemisahan ini sangat penting agar   terhindar dari kekuasaan otoriter agar dapat ditegakkan sistem demokrasi.

Menurut akung : Sengketa atau cakar-cakaran masih lebih baik dibanding bermesraan bahkan “bersatu” untuk menindas rakyat, ibaratnya rakyat hidup terpaksa hidup damai tetapi gersang.  Untuk menghindari cakar-cakaran sebaiknya dilakukan musyawarah dan mufakat, itulah sebabnya dalam Demokrasi Pancasila ditekankan adanya musyawarah dan mufakat.

Saat ini agaknya tiap-tiap individu dan kelombok ingin menang sendiri sehingga diperlukan voting. Sistem  voting yang diuntungkan adalah mayoritas, agar menjadi mayoritas maka dilakukan transaksi atau  bagi-bagi kursi/ kekuasaan sehingga harus dilakukan koalisi, maka terbentuk dua kubu:  Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat.

Mayoritas di DPR maupun MPR tidak lagi ditentukan oleh partai pemenang pemilu langsung,  melaikan oleh kelihaian  elit politik  yang menyatukan partai yang kalah dalam pemilu untuk menghadapi partai yang menang dalam pemilu.

Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat sebenarnya tidak perlu gentar menghadapi kelihaian atau kelicikan elit parpol yang menghimpun kekuatan di DPR atau  MPR sepanjang  presiden yang dipilih rakyat secara langsung berfihak pada rakyat  baik yang memilih maupun yang tidak memilihnya, memihak seluruh rakyat,  bukan melacur dengan menuruti keinginan wakil rakyat di DPR atau MPR yang tidak memihak pada rakyat.

Rakyat yang menggunakan akal budinya akan sanggup menilai budi pekerti para wakil rakyat  di Legislatif, presiden dan menteri-menteri dalam jajaran Eksekutif dan para penegak hukum dalam jajaran Judikatif. Pernilaian itulah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi pemenang dalam pemilu 2019. Suara rakyat adalah suara tuhan yang tidak ada yang sanggup melawan.

Yang sangat berbahaya adalah jika rakyat tidak dapat menggunakan akal budinya sehingga tak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Baik dan buruk untuk siapa? Baik bagi  rakyat secara keseluruhan, bukan hanya baik  untuk sebagian rakyat yang kebetulan “bernasib baik” dan membiarkan rakyat yang bernasib jelek semakin jelek nasibnya sehingga tak ada pilihan lain   dan terpaksa “memilih” ti ji tibeh.  

Jika sebagian  rakyat membiarkan sesama rakyat semakin sengsara, maka yang akan terjadi bukan lagi revolusi mental melainkan revolusi sosial. Fenomena ini sangat mengerikan dan harus dihindari. Jalan yang kita tempuh saat ini sudah tepat, yaitu memilih reformasi ketimbang revolusi.

Seharusnya semua menyadari bahwa reformasi tidak harus berjalan mulus sebagai the golden way atau jalan tol, melainkan bagaikan the way to be gold yang penuh dengan tantangan dan rintangan yang jika “terpeleset” dapat tergilas oleh  roda revolusi yang bukan menghasilkan emas melainkan menghasilkan sampah.

Marilah kita cermati dengan memanfaatkan akal budi lingkungan kita sehingga kita dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk agar reformasi tetap dapat berjalan maju, bukan mundur yang dapat berakibat “kecemplung sumur”.

Menurut akung sebaiknya cucu tidak akan melangkah mundur untuk kembali menjadi golput pada pemilu yang akan datang, melainkan memanfaatkan akal budi untuk menilai peri laku/ budi pekerti mereka yang akan kita pilih pada pemilu yang akan datang. Lima tahun cukup panjang untuk menilai budi pekerti seseorang sepanjang kita tidak bersikap masa bodoh atau acuh tak acuh.

 

 

 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s