Hidup ini kesempatan untuk memilih.

Pertanyaan: Menurut Akungibnu hidup ini kesempatan untuk memilih, semua orang pasti memilih hidup yang menyenangkan, kenyataannya tidak demikian  ada yang susah ada yang senang. Jadi hidup ini telah ditentukan sehingga tidak mungkin merubah takdir.
Dapatkah Akungibnu menjelaskan secara ilmiah arti kata takdir dan nasib?

Jawaban: Manusia memiliki akal, batin, pancaindera, dan  kemampuan bawah sadar.

1.Pancaindera  (=) untuk mengakses  energi fisika (E=0) .  Lewat pancaindera living organisme (termasuk manusia)  dapat mengakses fenomena  Sub Alam Fisika, baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan oleh yang menggunakan pancainderanya.

Menurut TM Dunia ini bagaikan debu di Alam Semesta, namun sangat langka, sehingga dunia dipadati oleh living organisme. Tiap-tiap living organisme membutuhkan energi fisika (materi dan STW) yang jumlahnya terbatas sehingga menjadikan perebutan bagi yang membutuhkan. Inilah yang dirasakan sebagai tidak dapat memilih bagi yang kurang beruntung, sebaliknya terbuka kesempatan luas bagi yang “sedang” beruntung.

Sebenarnya ada  cara untuk “merubah nasib” (bedakan dengan takdir) jika ada kemauan dan usaha untuk merubah nasib bagi yang kurang beruntung, namun ada dua faktor ikut menentukan: a.  lingkungan (faktor external)  dan b. kemampuan individu (faktor internal).

a.Dalam RS dinyatakan Tuhan YMK  tidak akan merubah nasib umatnya yang menerima nasibnya sehingga tidak berupaya merubah nasibnya.

b.Dalam MS dinyatakan: hidup adalah perjuangan  (strugle) yang akan dimenangkan oleh yang sanggup memanfaatkan kesempatan dalam memperebutkan materi dan menguasai lingkungan beserta isinya, sehinggga memperoleh kenikmatan duniawi.

c.Dalam SS Tuhan YME hanya akan mengizinkan ciptaanNya yang sanggup berusaha untuk memenuhi keinginannya dan berani menanggung risikonya.

2.Batin (<) bersifat individual yang sanggup mengakses energi gaib (E=-x). Lewat batin manusia sanggup meyakini adanya kehidupan yang jauh lebih baik dari Sub Alam Fisika. Batin sanggup memilih yang tersedia di Sub Alam Gaib, dapat memilih merasa bahagia atau merasa sengsara, tanpa terpengaruh oleh masukan dari pancaindera. Batin adalah pintu gerbang memasuki Alam Abadi.

3.Akal (>) bersifat individual yang sanggup mengakses energi metafisika (E>0) Lewat akal  manusia sanggup membuat peralatan fisika sehingga sanggup mengakses Alam Semesta yang sangat luas dan isi Alam Semesta yang teramat halus. Dengan akal manusia sanggup mengakses seluruh Alam Semesta dan tak mempedulikan adanya Alam Abadi, sehingga dapat memperoleh kenikmatan duniawi atau kesengsaraan yang tidak abadi sesuai dengan perubahan waktu. Dengan menggunakan akal manusia akan sanggup merubah nasibnya.

Dengan ketiga kemampuan tersebut (1,2,3)  maka manusia sanggup “memilih” apa yang diinginkan dan menghindari apa yang tidak diinginkan.  Jadi sangat ilmiah (dapat dinalar) pernyataan  Hidup ini adalah kesempatan untuk memilih, paling tidak memilih pemanfaatan  “program terapan:”, pancaindera (=) , batin(<) atau fikiran  (>).

Menurut Teori Paralogika yang menggunakan komputer sebagai model organisme dan user sebagai model spirit, agar  sanggup memanfaatkan program terapan setiap komputer harus diprogram dasar, yang memprogram dasar sebuah komputer adalah user yang menentukan kemampuan sebuah komputer untuk memanfaatkan program terapan , sedangkan yang memprogram dasar living organisme adalah spirit.

Spirit yang akan menunbuhkan dan memanfaatkan organisme baru hinggga dewasa  akan memberikan program dasar agar living  organisme yang dikendalikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan si spirit.

4.Kemampuan bawah sadar sanggup mengakses  spectrum energi transien dengan berbagai keseimbangan energi E = – x + y dimana ketiga variablenya # 0 (x#0, y#0 dan E#0) . Satu diantara fenomena Sub Alam Transien adalah mimpi. Mimpi merupakan fenomena Sub Alam Transien yang  sangat kompleks sehingga tidak terolah oleh otak dalam kondisi sadar.

Agar mimpi dapat terolah oleh otak dalam kondisi sadar, mimpi harus dipisahka menjadi dua wilayah, yaitu wilayah x>y  yang dinamakan Wilayah irrational yang masih mungkin didekati oleh batin (<) dan wilayah y>x  yang dinamakan Wilayah rasional yang  masih mungkin didekati oleh akal (>). Wilayah E=0 dapat terakses oleh pancaindera.

Untuk mengakses Sub Alam Transien dibutuhkan kemampuan paralogika. Ada tiga tipe living organisme (termasuk manusia) berdasar kemampuan paralogoikanya:

1. Mereka yang memiliki kemampuan paralogika normal tidak sanggup mengingat mimpi saat terbangun dari tidur. Tipe ini tak memiliki kemampuan bawah sadar sehingga otaknya hanya sanggup merekam masukan dari pancaindera (=) , fikiran (>) dan batin (<)

2. Mereka yang memiliki kemampuan paralogika negatif, sanggup merekam mimpi(#) namun tidak sanggup membedakan dengan kenyataan (=). Untuk tipe ini mimpi sangat mempengaruhi kenerja otak sehingga otak tak sanggup mengendalikan perbuatan, dalam komputer disebut eror.

3. Mereka yang memiliki kemampuan paralogika positif, sanggup merekam mimpi dan membedakan  dengan kenyataan.  Tipe manusia ini sanggup memanfaatkan mimpi sebagai sumber inspirasi untuk diujutkan menjadi kenyataan.  Kemampuan paralogika positif merupakan pintu gerbang memasuki Sub Alam Metafisika. Pada tahapan  RS fikiran (“>) diimbangi oleh dogma (“<) pada tahapan  SS   akal (‘>) diimbangi oleh batin (‘<)

Kemampuan paralogika lebih ditentukan oleh spirit yang mengendalikan organisme, walau kemampuan organisme juga ikut berperan dalam pemrograman yang dilakukan oleh spirit. Kecanggihan komputer ditentukan oleh user yang memprogram dan memanfaatkan komputer, walau hardware juga ikut menentukan kinerja komputer. Program dasar menentukan kemampuan untuk menerima/memanfaatkan program terapan.

Dalam komputer usb sanggup menerima berbagai masukan, demikian halnya kemampuan paralogika positif sanggup memilah masukan dari bawah sadar hingga dapat diolah oleh otak dalam keadaan sadar.

Program dasar sangat menentukan kemampuan sebuah komputer dalam menerima dan memanfaatkan  program terapan, demikian halnya tiap living organisme memiliki program dasar yang berbeda-beda, ada yang berorientasi pada program batin (<), ada yang berorientasi pada program fikir (>), ada yang berorientasi program nyata (=).

Berdasar analisa tersebut, maka dengan memanfaatkan kemampuan akal budi ‘(><)’   menurut akung nasib dapat diubah  sesuai dengan keinginan living organisme, walau dipengaruhi oleh faktor lingkungan sedangkan takdir  ditentukan oleh yang  mengendalikan living organisme (termasuk manusia).

Menurut Teori Paralogika:  Reinkarnated Body dikendalikan oleh spirit yang mandiri, sedangkan Whiteblank Body dikendalikan oleh soul yang sepenuhnya patuh pada Tuhan YMK.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s