Benarkah nama ikut menentukan “nasib” seseorang atau “bangsa”

Pertanyaan: Akungibnu menyatakan mengganti “nama formal” yang telah dikenal sebagai  identitas seseorang atau bangsa tidak semudah membalikkan telapak tangan, sehingga sebaiknya nama tidak diganti melainkan diberikan “nama sampiran” “atau “nama samaran”, sehingga seseorang boleh saja memiliki beberapa nama, sebagai contoh: Ibnusomowiyono alias Notoatmojo, alias  Ibnusomowiyono Notoatmojo, alias Som Wyn, alias Akungibnu, alias mbah Somo, alias  Ibnu S.Yon NP, alias Ratna Haniah , alias  Yulia Efendi, alias Kelik, alias Begejil ala………….dan yang lain-lain.
Yang ingin saya tanyakan: Akungibnu  percaya atau tidak bahwa nama ikut menentukan “nasib” seseorang? Apa tujuan seseorang menggunakan “nama pendamping nama asli”?

Jika ada seorang “pintar” meramalkan nasib saya berdasar analisa nama saya bagaimana saya harus mensikapinya?

Jawaban: Akungibnu ingat saat suami kemenakan akung, Ir Esti D.N yang bernama  Ir Bambang Pitoyo  , membawa penasihat spiritualnya melayat ke Solo untuk memberikan motivasi agar putra putri  dan keluarga yang ditinggalkan tabah dalam menghadapi musibah atas wafatnya kakanda Ibnoe Soejachmir.

Mas Moen (Ibnoe Soejachmoen) meminta saya bertemu dengan “orang pintar” tersebut, sebab sepeninggal Mas Min (Ibnoe Soejachmin) saya merasa“mengidap tumor”  sehingga saya berobat trasional pada Bapak Soetiono SH, seorang profisional hukum yang mendalami ilmu pengobatan trasional dengan ramuan herbal (daun benalu). Saya tahu  mas Moen mengchawatirkan saya pengobatan tradisional itu membawa efek buruk, sehingga berharap saya dapat termotivasi  untuk berobat ke dokter. oleh “orang pintar” tersebu.

Saya dipertemukan dengan penasihat spiritual tersebut. Dia menanyakan: nama saya, hari, tanggal, bulan, tahun  kelahiran saya, lalu menganalisa berdasar “ilmu yang dikuasainya”.

Kata penasehat spiritual itu tak ada yang  dapat mengobati penyakit saya, kecuali diri saya sendiri. Mas Moen sangat terperanjat, namun saya tenang-tenang saja. Mengapa? Kasus itu pernah saya alami saat Endang sakit, Dokter Panji  seorang ahli Psycho Somatik menyatakan: tak ada yang dapat mengobati penyakitnya, kecuali dirinya sendiri.

Pengalaman saya ini dapat cucu gunakan untuk mensikapi “ramalan” orang pintar tersebut. Motivasi  seharusnya positif (mendorong” kearah kebaikan, bukan sebaliknya) .

Jangan menyalahkan sang motivator, melainkan menggunakan akal budi untuk mengkritisi “motivasi” yang kita terima agar tidak berakibat buruk dan merugikan  diri kita.

Kemenakan saya yang tadinya bernama “anu” saat masih kanak-kanak kesehatannya kurang baik, sehingga mengganggu studinya. Orang tuanya menggantikan dengan nama baru, ternyata setelah diganti namanya kesehatannya sangat bagus sehingga kini telah menyandang gelar doktor. Si bungsu  sehat wal afiat dan prestasinya sangat tinggi, sehingga tidak diganti namanya, ternyata kini telah tiada. Saya ingin bertanya: seandainya kemenakan saya yang kini telah tiada diganti namanya, apakah akan seperti kakaknya?

a. Filosofi Barat menyatakan nama tak ada kaitannya dengan  harkat apalagi “nasib” seseorang sehingga ada pemeo “What is in the name”.

b. Filosofi Timur mengaitkan  nama dengan harapan atau martabat seseorang. Orang Timur menamakan anaknya sesuai dengan harapan yang digantungkan pada anak yang diberi nama sekaligus menyesuaikan dengan martabatnya., Nama mengandung  martabat  dan harapan masa depan seseorang. “The name means status and   hope of future”

c. Filosofi Modern menggunakan nama orang yang berjasa pada peradaban manusia dalam berbagai tahapan NS, RS, MS maupun SS. Dari nama yang diberikan kepada anaknya kita dapat “menduga” orang tersebut termasuk dalam tahapan mana..

Nama sampiran  diberikan oleh orang lain baik “suka” atau “benci” kepada seseorang dengan tujuan menghormati (mengagumi)  atau menghina (melecehkan). Namun juga dapat  dibuat sendiri untuk berbagai tujuan, diantaranya menyesuaikan dengan bidang atau profesi yang ditekuni dengan harapan mendukung upaya untuk memperoleh keberhasilan atau sukses sehingga dikenal oleh publik.

Nama samaran dibuat oleh yang ingin menyamarkan dirinya, jadi bukan pemberian orang lain dengan berbagai tujuan, diantaranya menghindari pertanggungan jawab dalam melakukan aktivitasnya. Nama samaran bertujuan mengelabui  publik/masyarakat hingga tidak dapat dijerat oleh hukum yang berlaku.

Akungibnu  mempercayai bahwa Nama Formal sangat penting untuk menentukan identitas seseorang sehingga ikut mempengaruhi perjalanan hidup seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya dalam sebuah lingkungan/masyarakat  tertentu.  Jika nama itu berdampak buruk, tidak sesuai dengan lingkungannya atau kondisi zaman (tahapan budaya/peradaban) maka tidak ada salahnya diganti dengan yang baru (atau nama lama yang telah ditinggalkan)  walau tidak semudah membalik  telapak tangan demi menghilangkan tekanan kejiwaan, misalnya orang tuanya dikenal sebagai sampah masyarakat, penguasa keji, koruptor…………….sehingga membebani seseorang demi memperjuangkan atau merubah nasibnya.

Nama orangtua atau peninggalan  para  leluhur yang menjadi nama formal/ identitas seseorang memang dapat berpengaruh pada perjuangan mencapai keberhasilan, namun sebenarnya keberhasilan atau nasib seseorang ditentukan oleh perilaku (budi pekerti) orang itu sendiri.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s