Mana yang benar: Anak titipan Tuhan atau anugerah Tuhan?

Pertanyaan: Mana yang benar: anak titipan Tuhan atau anugerah Tuhan?

Jawaban: Tergantung dari sudut pandang /  perspektif yang menerima/ mendapatkan  anak dan perilaku si anak.

Pasangan (suami istri) yang mendambakan anak akan memandang anak sebagai anugerah/hadiah  Tuhan, namun jika anak terlalu dimanjakan dapat menimbulkan masalah/ kesulitan bahkan malapetaka bagi orang tua dan lingkungannya.

Orang tua berhak dan berkewajiban melindungi dan mendidik anak agar dapat hidup mandiri sesuai dengan kesadaran macrocosmos: mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing. Sebagai microcosmos tiap individu living organisme  dikendalikan oleh soul(z)   atau spirit membutuhkan waktu tumbuh sesuai dengan proses alami: lahir, dewasa, tua, dan mati. Jelas living organisme berbeda dengan benda  baik yang alami atau rekayasa manusia.

Pada saat masih lemah fisik dan jiwanya living organisme membutuhkan “perlindungan” dan bantuan  dari orang tua atau jenis/kelompoknya. Setelah dewasa living organisme sanggup hidup mandiri sehingga orang dapat melakukan reproduksi lagi. Namun sebagai makhluk sosial mereka masih saling membutuhkan.

Secara alami perempuan/betina  dan lelaki/ jantan  dalam spesies sama dapat menghasilkan keturunan dengan alat reproduksi. Manusia memiliki budaya hidup berpasangan tetap, berbeda dengan binatang  berdasar nafsu biologis atau norma etika peradaban manusia, sehingga ada yang mendambakan anak dan ada yang belum atau tidak menginginkan anak dengan berbagai alasan atau pertimbangan rasional.

Anak yang tidak diharapkan  oleh pasangan biologis yang tidak menginginkan kelahiran seorang anak dari hasil hubungan sex atas dorongan nafsu biologis menganggap anak  adalah titipan Tuhan karena dirasa menyulitkan/ merepotkan induk semang/ orang tua.

Bagi yang beriman yang menghormati/mengagungkan Tuhan sehingga patuh kepada Nya , titipan Tuhan harus diperlakukan sebaik mungkin agar tidak “melecehkan” Tuhan” yang berakibat dosa melainkan mendapatkan pahala. Yang menerima titipan Tuhan artinya mendapatkan kepercayaan dari Tuhan untuk  menjaga/mendidik titipan itu menjadi  manusia yang beriman.

Agar tidak  mengurangi  kekuasaan/keagungan Nya, maka istilah titipan Tuhan sebaiknya diganti dengan  amanat (perintah) Tuhan untuk dididik  menjadi manusia yang amanah takwa pada yang memberi amanat.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s