Teori Minimalis adalah penunjang Spiritual Ilmiah.

Pertanyaan: Akungibnu menyatakan Teori Minimalis dan turunannya sebagai penunjang Spiritual Ilmiah. Apakah ada perbedaan antara Teori Minimalis dengan Spiritual Ilmiah?

Jawaban: Teori Minimalis semula dimaksud untuk menjelaskan Fiksi Blackhole yang berlatar belakang abad ke 30, kemudian karena Stephen Hawking mengoreksi Teori Blackhole dan Akungibnu menemukan di layar monitor  persamaan E = – x + y  yang akung namakan Formula Supernatural Modern (FSM)  maka Akungibnu berusaha mengembangkan Teori Minimalis  menjadi  sebuah Paket Teori untuk menginformasikan/ memprediksi terjadinya Revolusi Spiritual Ilmiah atau Scientific  Spiritual Revolution.

Spiritual Ilmiah  atau Scientific Spirituality (SS) adalah nama diri  dalam Teori Minimalis,  sebenarnya  spiritual ilmiah  dalam kenyataan  sudah ada sebelum Teori Minimalis. Sebagai pembanding: nama diri  seseorang  umumnya diberikan oleh orang tua, namun mungkin saja nama diri tersebut pemberian anak atau cucu, sebagai contoh  Akungibnu adalah  pemberian nama dari cucu-cucu Ibnu Somowiyono.  Akungibnu jelas bukan cucu eyang, sehingga berbeda dengan mereka.

Generasi berikutnya belum tentu sama dengan generasi sebelumnya, sehingga Teori Minimalis berbeda dengan SS.

Generasi berikut dapat menjadi:

a. pengikut generasi sebelumnya, ada pemeo  bahasa Jawa : pejah gesang nderek  panjenengan (hidup mati ikut  yang memimpin). Sikap ini konsisten menghadapi perubahan lingkungan, tidak mau mengikuti atau menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya.

b. pendukung  memberikan kekuatan pada yang didukung  agar lebih perkasa, jika dihalangi apalagi dihancurkan akan dibela, sebaliknya jika  dibelokkan, disalah gunakan atau diselewengkan  dari tujuan utamanya akan diluruskan/ dibetulkan arahnya..

c. murid: belajar dari guru dengan tujuan menimba ilmu agar  memiliki ilmu melebihi gurunya, bersikap kritis, tidak sekedar mengikuti kemauan atau ajaran  guru. Mengembangkan ilmu yang diterima dari guru sehingga sanggup mengatur lingkungan termasuk sang guru.  Sebagai contoh manusia  belajar dari alam agar sanggup mengatur  lingkungannya termasuk alam..

d. sejalan: dengan generasi sebelumnya atau mewarisi sifat dan perilaku generasi sebelumnya namun berusaha menyesuaikan diri  dengan lingkungannya (bukan melawan lingkungan)   agar dapat mempertahankan keberadaannya. Sebagai contoh tumbuh-tumbuhan dan binatang memiliki naluri  ( sifat dan perilaku) sejalan dengan generasi sebelumnya, menyesuaikan diri dengan lingkungan. agar dapat mempertahankan keberadaannya.

SS  memiliki kemiripan (bukan sepenuhnya sama) dengan Gerakan Spiritual Baru (GSB)  untuk mengimbangi   Materialistic Science  (MS) agar manusia mengakui keberadaan dan kebesaran Tuhan, yang telah dinisbikan oleh Materialistic Science (MS), sekaligus mengritisi Religious Spirituality (RS) yang terpecah menjadi berbagai keyakinan dan agama yang masing-masing mengajarkan iman yang berbeda-beda agar dapat disatukan kembali. Diantara GSB adalah: Theosophy, Gerakan Zaman Baru  (GZB),  Aliran Spiritual But Not Religions, (SBNR) dan lainnya yang menyimpang dari ajaran agama (khususnya Agama Langit).

SS  menurut TM merupakan bagian dari perkembangan peradaban manusia yang berjalan dengan cepat (revolusioner)  sehingga dapat untuk membuktikan kebenaran Teori Revolusi Som Wyn yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil revolusi microcosmos di bumi dalam tingkat living organisme.

TM menunjang SS karena SS dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran Teori Revolusi Som Wyn yang merupakan turunan TM yang berusaha meletakkan manusia secara proporsional.

Persamaan SS dan TM:

a. Baik TM maupun SS berbasis akal budi  , keseimbangan antara akal dan batin ‘(><)’,

b.agama berbasis RS keseimbangan antara fikiran dan dogma “(><)”,.

c. MS berbasis  penyatuan/penguatan  fikiran dan akal “(>>)’ sehingga menisbikan dogma  (“<) dan batin (‘<) , bahkan jika menyatu dengan maksimalisme  “(==)’ akan berujung pada atheisme modern  {“(>>)’* “(==)’} yang tidak mengakui keberadaan dan kebesaran Tuhan. yang menciptakan Alam Semesta.

Target TM adalah mereka yang atheis yang tidak dapat diyakinkan akan keberadaan dan kebesaran Tuhan  versi agama langit yang mengatur segalanya hingga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dianggap sebagai pembelenggu kebebasan berfikir dan berkeyakinan, apalagi berbuat.  Untuk itu berdasar akal budi manusia, (bukan dogma) Teori Som Wyn mendefinisikan Tuhan Yang Maha Esa yang masih mungkin menjadikan seorang yang atheis mengakui keberadaan dan kebesaran Nya, sehingga tidak lagi atheis walau tidak beragama.

Target SS adalah mereka imannya berbeda-beda  untuk disatukan kembali dalam Spiritual Religius.

Semoga cucu memahami penjelasan akung persamaan dan perbedaan TM dengan SS.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s