Kenang-kenangan saat di SMA III B Negri Yogya.

Fragmen Stph:

Kami mantan siswa SMA 3 B Negeri Yogyakarta, Endang adik kelasku,  sekarang kami sering membicarakan pengalaman saat belajar di sekolah favorit itu. Ada beberapa orang guru yang mengajar kami,  baik aku maupun Endang, yang selalu kami kenang: beliau adalah:  Bapak Mulono yang mengajar ilmu bumi alam (Ilmu Falak) , ibu Martini yang mengajar  ilmu tumbuh-tumbuhan (biologi) , Ibu Probopranowo yang mengajar Tata Negara, Ibu Dalinah yang mengajar aljabar,  dan Bapak Joko Pitoyo yang mengajar Kimia.

1. Bapak Mulono didepan kelas menggerak-gerakkan  tangannya sebagai melakukan adegan pantomin, sambil bertanya: ” Apa yang sedang kukerjakan ?”

“Bapak sedang ber- pantomin.” kata seorang murid yang hobiya acting diatas panggung.

Pak Mulono menunjuk ke dahi  sambil meledek murid itu.  Tanpa diduga bertanya kepada Endang karena  beliau tahu Endang pacarku: “Kamu,  kesayangan Ibnu,  pasti tahu maksudku ini” sambil menuding kan telunjuknya ke dahi.

“Gunakan otakmu!” jawab Endang dengan berani.

“Nah apa yang sedang kulakukan ini ?” kata pak Mulono sambil mengulangi “pantominnya”.

Tak ada yang berani menebak, karena memang  aneh. Endang pernah kuberitahu “kode” menunjuk jari ke dahi yang maknanya: “Gunakan otakmu untuk berfikir!”, tetapi bukan yang sedang dilakukan oleh pak Mulono yang memang susah  difikir.

“Bapak  sedang menggambar di udara!” pak Mulono menjelaskan, “Bapak  akan menerangkan perihal  udara yang terdapat disekeliling bumi yang berotasi pada porosnya. Bapak  mengajar Ilmu Falak bukan  pantomin,”  sambil menuding ke  murid yang menduga beliau sedang berpantomin..

“Cahaya  matahari menyebabkan perbedaan kepadatan udara hingga dapat menimbulkan fatamorgana.”

“Sekarang bapak  bertanya: pada pagi hari matahari lebih besar dibanding siang hari,  jauh mana matahari dari kita saat pagi hari atau  siang hari?”

Endang dengan berani menjawab: “Pada pagi hari matahari lebih jauh  dari kita.”

Teman sekelas  Endang mentertawakan jawaban itu, tetapi segera terhenti karena pak Mulono mengacungkan telunjuk ke dahi yang maknannya   telah dikehui oleh murid kelas yang sedang diajarnya.

Endang diminta  maju dan menggambar letak bumi dan matahari dan posisi manusia yang mengamati kedua posisi matahari pada pagi dan siang hari. Endang dapat membuktikan bahwa jawabannya benar. Semua terperangah menganggap Endang “luar biasa” pandainya.

Pak Mulana menyindir: ” Ibnu  pacarmu  kan? Makanya kamu tahu matahari saat dibawah lebih jauh dari yang diatas.”

Semua tertawa terbahak karena mereka mengetahui bahwa Endang  pacar Ibnu.

2.  Pada umumnya semakin jauh objek yang kita amati, akan terlihat lebih kecil, namun jarang yang memperhatikan fenomena “aneh” yang setiap hari kita saksikan:

Pada pagi hari, lebih-lebih saat terbit di timur,  matahari terlihat besar dan warnanya kuning kemerahan, sedangkan siang hari saat  matahari berada diatas kepala kita matahari nampak  kecil.

Suatu saat  aku bertanya kepada pak Mulono , guru Ilmu Falak di SMA Negri III B Yogyakarta,  hasil pengamatan matahari pagi dan siang.  Saat itu pertanyaanku  ditertawakan oleh teman-teman sekelas sebab dianggap  konyol alias naif.

“Mengapa kalian tertawa?” tanya  pak Mulono.

“Ibnu  goblog, Ibnu  goblog!” seru mereka bertautan,  sebab aku  sering  keminter suka membodoh-bodohkan orang lain karena mereka tidak dapat mengerti jalan  fikiran dan  yang “nyleneh”, tidak umum.

“He, coba jawab: Lebih besar mana jarak matahari ke  permukaan bumi, pada saat matahari nampak kecil atau saat nampak besar?” tanya pak Mulono kepada murid yang mengatakan aku goblog.

“Jelas, yang kecil!” jawab teman  yang  sering beradu argumen dengan aku. Aku suka ngeyel dan berfikir macam-macam yang tidak dapat dimengerti teman-temanku. Aku dikatakan  goblog, sebaliknya aku menganggap mereka goblog.

“Ibnu, maju!” perintah pak Mulono, ” gambar posisi matahari terhadap bumi dan jelaskan pada teman-teman jarak permukaan bumi tempat kita mengamati matahari pada pagi dan siang hari.”

Aku menggambar tiga lingkaran yang titik pusatnya jika dihubungkan dengan garis lurus membentuk sudut sembilan puluh derajat, hingga dapat  kubuktikan secara ilmu pasti bahwa  matahari pada pagi,  jaraknya  lebih besar dari saat matahari diatas kepala kita. Teman-teman terperangah.

“Nah, kalian tahu sekarang, yang goblog itu kalian, makanya kalau tidak mengerti jangan mentertawakan orang lain.” kata pak Mulono  sambil menunjuk telunjuk  ke dahinya, sebagai yang biasa kulakukan jika murid tidak dapat menjawab “teka tekinya”.

Tanpa kuduga beliau berkata:” Ibnu, jelaskan fenomena yang kau tanyakan itu. Mengapa matahari saat terbit yang jaraknya lebih besar dari saat matahari diatas kepala terlihat lebih besar, bukan lebih kecil.”

“Saya bertanya kepada bapak, karena saya tidak tahu.”

“Bohong! Kamu menguji  bapak, kan ?”

Aku  diam karena sejujurnya aku memang tidak tahu fenomena aneh itu.  Aku tidak mungkin  menjelaskan  fenomena itu kepada teman-teman sekelas.

“Berikan kesempatan kepada saya untuk bertanya kepada orang lain karena bapak  tidak bersedia menjawab pertanyaan saya.”

“Ya,ya, kau boleh memperolok bapak, gurumu ini memang bodoh hingga muridnya perlu bertanya pada orang lain.”

Aku  punya kemenakan, namanya JB Basuki yang mengajar Fisika di SMA  de Brito Yogyakarta. Dia menjelaskan fenomena itu berdasar ilmu alam, pembiasan cahayabukan ilmu bumi alam yang diajarkan pak Mulono.

Aku baru sadar pak Mulono tidak mengajar ilmu alam, melainkan ilmu bumi alam. 

Seminggu kemudian aku  mempertanggung jawabkan kelancangan ku  bertanya masalah fenomena “aneh” itu didepan kelas, pak Mulono duduk di kursiku sebagai pendengar.

Kujelaskan fenomena aneh itu berdasar pembiasan cahaya, semua terkesima atas penjelasanku itu.

“Kau pasti bertanya pada guru ilmu alam. Benarkan?” kata pak Mulono.

“Ya pak.”

“Makanya, jangan sembarangan bertanya, tanyakan sesuatu pada guru yang mengajar bidangnya. Jangan kau kira guru mengetahui semuanya.”

Aku sadar bahwa jauh lebih banyak yang belum  kuketahui dibanding yang telah kuketahui sehingga aku tidak malu  bertanya kepada siapapun sampai pada rumput yang bergoyang.  Ternyata banyak yang menganggap pertanyaanku itu naif dan menjadi bahan tertawaan. Aku tak malu ditertawakan, tetapi aku heran mengapa mereka yang tidak sanggup menjawab pertanyaanku menganggap aku goblok, sehingga aku juga menganggap mereka goblog.

3. Bu Martini menjelaskan mengapa air dari tanah dapat sampai ke puncak pohon berdasar hukum kapiler. Aku bertanya: bagaimana caranya sari makanan yang dihasilkan  daun kembali ke akar?

Bu Martini menjelaskan  air  mengalir ke atas lewat pembuluh kayu dan kembali ke bawah dan ke-akar menjadi umbi, ke bunga menjadi buah, melewati  pembuluh kulit.

“Apakah tidak ada sesuatu yang mengatur proses kehidupan pohon sehingga pohon berbeda dengan binatang?”

Semua mentertawakan pertanyaaku,  sebagian menyatakan itu proses biologi yang lain menyatakan semua atas kehendak Tuhan.

“Ngono wae kok dipikir.” cemooh teman-teman.

“Lho otak ki gunane nggo mikir,” jawabku.

“Kokehan mikir marake edan.”

“Wegah mikir marake bodo.”

Lonceng berbunyi bu Martini meninggalkan klas sambil berpesan :”Kalau sudah pandai kalian tak perlu sekolah!”

Seminggu kemudian bu Martini bertanya kepadamu:  Mengapa tumbuh tumbuhan berbeda dengan binatang?

Jawabku: “”Tumbuh-tumbuhan dapat merubah  zat anorganik  menjadi unsur organik dengan bantuan matahari. Binatang tak dapat.”

Bu Martini: ” Jadi yang kau maksud mengatur kehidupan tumbuh-tumbuhan itu matahari?”

Aku :” Ya, tetapi ada yang lain, tangan Tuhan.” Semua tertawa karena menganggap aku menympang dari ilmu biologi.

Bu Martini: “Jelaskan apa yang kau maksud tangan Tuhan”

Aku: “Yang membedakan benda yang diajarkan fisika, dengan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia yang diajarkan oleh  biologi.  Bio artinya hidup, jadi ada unsur lain disamping benda atau  organisme, yang ibu jelaskan minggu lalu  berdasar ilmu fisika yang memandang hidup sekedar proses fisika dan biologi.”

Seorang teman mengacungkan tangan : “Dasar goblog, bu Martini kan mengajar biologi, bukan mengajar agama.”

” Saya akan menjelaskan bedanya makluk hidup dan benda. Makluk hidup dibangun oleh sel, sedangkan benda dibangun oleh molekul.”

“Apa bedanya molekul dengan sel?” tanya  saya.

“Sel itu dibangun oleh unsur organik, molekul  dibangun unsur anorganik.”

“Apa beda unsur organik dengan unsur anorganik?”

“Dasar goblog,” teriak murid yang jengkel  “Tanyakan itu pada pak Jok Pit, guru kimia kita.”

“Sel tumbuh-tumbuhan berbeda dengan sel binatang, itu yang ibu ketahui. Benar kata temanmu itu tanyakan perbedaan unsur organik dengan unsur anorganik pada guru kimia.”

Semua mentertawakan pertanyaanku yang salah sasaran. Aku ingat kata pak Mulono: guru tidak mengetahui segalanya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s