RAHASIA BERANI MATI.

Pertanyaan: Dahulu Jepang sangat dikatuki oleh Sekutu karena tentera Jepang sanggup melakukan harakiri yang artinya berani mati. Saat ini bom bunuh diri juga sangat ditakuti oleh “orang kafir”.
Cucu ingin bertanya: apa sih rahasia manusia menjadi berani mati?

Jawaban:

Hidup penuh  risiko.  Menurut Teori Som Wyn: orang yang tidak  sanggup berbuat untuk mewujutkan keinginannya tidak akan diizinkan untuk mencapai keinginannya, bagi yang sanggup mewujutkan keinginannya namun tidak berani menanggung risiko penggunaannya,  tidak akan memanfatkan izin yang telah diberikan oleh Tuhan YME.

Kematian  dipandang sangat mengerikan karena tidak ada yang tahu apa yang akan dialami setelah mati. Dalam kenyataan jika tidak bernafas selama beberapa menit orang dapat mati, jadi untuk mati jauh lebih gampang dibanding mempertahankan hidup, namun kenyataannya banyak yang tetap ingin hidup walau penuh risiko, sebaliknya takut mati. Mengapa?  Apa yang akan dialami setelah mati tak seorangpun dapat mengetahuinya, sangat berbeda dengan yang  dialami selama hidupnya.

Agar orang tidak takut mati harus “meyakini” atau “diyakinkan”  bahwa mati adalah “jalan” untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Untuk dapat meyakini paska kematian dibutuhkan iman.

Dalam Psycho Minimalis iman adalah penyatuan/penguatan dogma dengan batin, notasinya “(<<)’, sedangkan superiorisme, merupakan penyatuan/penguatan antara fikiran dan akal “(>>)’

“(<<)’ menjadikan orang tidak takut mati sebab telah diyakinkan atau meyakini  bahwa mati merupakan pintu memperoleh kebahagiaan abadi.

“(>>)’ menjadikan orang tidak takut membunuh  karena merasa paling benar, paling berkuasa,  sehingga memandang orang lain dapat diperlakukan sesukanya, bahkan disiksa maupun dibunuh. Superiorisme merasa berhak menentukan hidup matinya orang lain.  Namun orang superior takut mati karena terbelenggu oleh kenikmatan duniawi.

Menurut analisa Psycho Minimalis  orang yang    berani membunuh akibat merasa superior  dan tidak takut mati karena imannya  yang  yakin akan memperoleh kebahagiaan abadi  digolongkan dalam manusia  superior imanist  [ “(>>)’ * “(<<)’ ]   sangat mengerikan bagi diri dan lingkungannya. Penyatuan ini lebih berbahaya dari  superior materialis  [ “(>>)’ * “(==)’ ].  

Mengapa?  Seorang superior materialist  [ “(>>)’ * “(==)’ ] takut mati karena terbelenggu oleh kenikmatan duniawi, sedangkan seorang  superior imanist tak terbelenggu oleh kenikmatan duniawi akibat menyakini adanya kehidupan lebih baik di Alam Abadi,  yaitu memperoleh kebahagiaan abadi.

Agar seorang yang superior imanist  maupun superior materialist tidak bertindak berlebihan maka dibutuhkan penggunaan akal budi  “(><)’ sebagai pengimbang Mengapa? Akal budi atau keseimbangan akal dengan batin menjadikan seseorang dapat  mawas diri dan menilai budi pekerti / harkat orang lain dan diri sendiri.

Namun ada sebab lain orang tidak takut mati, misalnya para avonturir yang berani menyerempet  bahaya, bagaikan memiliki serep nyawa, atau serep raga. Ada lagi yang bosan hidup lalu bunuh diri.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke RAHASIA BERANI MATI.

  1. Akung Ibnu berkata:

    Namun kemungkinan tidak takut mati bukan yakin akan memperoleh kebahagiaan abadi melainkan “percaya diri” pada saat melakukan suatu perbuatan berisiko tinggi. Orang awam mengatakan sebagai memiliki nyawa serep, ada lagi yang menyatakan memiliki spirit sehingga jika tubuh organisme hancur masih memiliki tubuh astral untuk mencari organisme baru.
    Mereka yang sanggup melakukan perbuatan yang berisiko tinggi biasanya telah melakukan latihan-latihan agar sanggup mencapai keinginannya. Tanpa melakukan latihan mereka tak mungkin melakukan tindakan yang berisiko kematian.

  2. Akung Ibnu berkata:

    Ada lagi yang tidak takut mati akibat kesulitan hidup, kekecewaan, putus asa dan menganggap hidup penuh dengan masalah. Orang yang melakukan bunuh diri akibat bosan hidup, jelas tidak beriman karena tidak mensyukuri hidup yang diberikan oleh Tuhan. Mereka yang atheis lebih rentan terhadap perbuatan bunuh diri karena memandang hidup sekedar proses biologi, tidak takut pada akibat dosa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s